“Sa—“ “Hmmp!” “Mas—“ Ala sama sekali tidak diberi waktu untuk bicara. Lelaki di depannya menghimpitnya ke tembok dengan kekuatan yang tidak bisa dilawannya. Mengcap, mencium, melumat bibirnya lebih rakus dari biasanya. Tangannya yang lebar menekan tengkuk gadis itu erat. Sama sekali tidak memberi celah untuk bisa melepaskan diri. “Ala,” panggil suara lelaki itu. Dalam, berat, dan penuh dengan sesuatu yang tidak pernah Ala dengar sebelumnya. Mata Ala membuka setelah terbuai dengan cumbuan yang diberikan lelaki di depannya. Napasnya bagai diujung tanduk. “Aku tidak bisa menahannya,” lirih lelaki itu. Mata tajam tegasnya menatap dengan pusaran nafsu yang berputar dan menarik Ala ke dalamnya. Gadis itu bisa melihatnya. Dalam keadaan seperti ini, dalam dorongan nafsu yang menyelubungi

