Bukan Karena Ciuman

1452 Words
Mobil Saka sudah terparkir rapi, Ala memarkirkan vespa di samping mobil itu dengan hati-hati. Tidak mau menggores atau mengenai sedikitpun dari sempurnanya mobil yang biasanya terkenal dengan warna merahnya itu. Ala memikirkannya, Saka mungkin tidak akan terlalu peduli dengan motor itu saat sudah punya mobil yang harganya berpuluh kali lipat dari motor yang dibiarkan untuk dipakainya. Saat melihat mobil ini pertama kali, Nesa menebak kalau pekerjaan Mas Saka adalah seorang yang berhubungan dengan saham-saham trading. Atau anak manja dari salah seorang konglomerat. Namun ternyata lelaki itu adalah cucu dari pemilik jaringan hotel juga resort yang tersebar di beberapa negara, dan pemilik pusat-pusat wisata, bos di kantor tempatnya bekerja. Hidup membawanya juga pada saat ini. Menjadi pacarnya, katanya. Sungguh keajaiban macam apa itu. Ala juga tidak tahu. Tapi mengingat semuanya tidak ada yang merugikannya, yah, dianggap jual diri oleh Gina tiak termasuk kerugian. Ia tidak peduli juga dengan apa yang Gina pikirkan. Ia hanya sedang berusaha mempertahankan pekerjaannya. Hanya itu. Selebihnya, apakah pantas jika ia sebut itu sebagai bonus? Menjadi pacar seorang Sakala Rangga itu merepotkan juga, ternyata. Untuk ukuran rumah ‘orang kaya’, rumah yang Saka tempati bukan tipe gedongan seperti rumah-rumah sultan dan artis yang ada di chanel-chanel youtube tentang tour house itu. Meski terletak di kawasan mahal Jakarta, rumah ini berada di depan jalan besar yang aksesnya masih mudah kemana-mana, bangunannya hanya dua lantai. Lantai pertama hanya ada ruang tamu mungil, ruang keluarga yang besar, dan dapur juga ruang makan dan di belakang ada ruang cuci jemur dengan atap tinggi transparan yang bisa dibuka tutup. Lantai dua dengan empat kamar, salah satunya menjadi kamarnya, kamar Saka, kamar bermain game, dan satu lagi jadi ruang kerjanya. Satu yang Saka minta adalah jangan menyentuh mejanya. Jadi, selama membereskan ruang itu, Ala tidak pernah menyentuh meja. Hal itulah yang membuatnya tidak menyangka kalau Saka adalah bosnya. Kalau saja ia melihat semua berkas-berkas yang ada di sana, sudah pasti ia bisa menebak-nebak. Tapi Ala adalah Ala yang selalu patuh pada apapun. Ia hanya mengikuti perintah dan semuanya akan aman. Sama seperti apa yang ia terus lakukan pada Mama Arum. Ia akan terus mematuhi perintah dan keingian Mama Arum, selama Mama Arum juga menepati janjinya untuk merawat apa yang tersisa dari kedua orang tuanya. Hidup Ala selurus itu. Jadi saat ada anomali di belokan hidupnya seperti sekarang, Ala hanya harus mengingat apa yang selama ini ia lakukan. Kebaikan. Anggap saja ia sedang berbuat baik pada orang kaya. Tangan Ala terulur, membuka kunci, mendorong pintu. Sepi. Sama seperti biasa. Saka pasti ada di atas dan bermain game. Ala hanya ingat hari ini ia akan mencuci. Ia mengingatkan diri sendiri untuk membaca petunjuk cara mencuci mini dressnya kemarin. Karena gaun tenisnya kemarin ternyata tidak boleh masuk mesin cuci. Jadi Ala belajar lagi hal yang baru selama di sini. Bahwa setiap apa yang dipakai, setiap kain, setiap bahan, itu perlu caranya sendiri untuk diperlakukan. Begitu juga manusia. Begitu pun setiap orang. Ia bisa saja bersikap santai pada Gina, tapi tidak begitu pada Mama Arum. Ia tidak bisa berbicara seenaknya pada seorang yang sudah mengurus semua hal yang berhubungan dengannya. Ia bisa saja bicara nonformal pada Lisa, tapi tidak pada Saka. Jika dulu ia bicara dengan santainya dengan Mas Saka, itu karena ia merasa harus bisa menitipkan diri pada pemilik rumah yang mau menerima sereceh uang kosnya yang murah sekali itu. Kali ini, jika caranya memandang sedikit berbeda itu karena ada tembok tinggi yang jadi penghalang antaranya dan Sakala Rangga. Mana mungkin ia bicara santai dengannya? Yah, meski ternyata lelaki itu sudah mengambil ciuman pertamanya begitu saja. Tapi, itu resikonya sendiri yang mengambil keputusan untuk membantu Saka. Meski tidak tahu urgensinya ada di sebelah mana, tapi, biarlah. Toh ia juga tidak pernah punya pengalaman menjadi pacar. Ini bisa ia ambil sebagai pengalaman punya pacar pertama yang ternyata adalah bosnya. Bisa banget jadi judul Ftv gak, tuh? Ah, tapi satu yang harus Ala ingat adalah ia dilarang untuk jatuh cinta. Tidak. Sungguh! Itu dilarang. Jangan pernah jatuh cinta pada sesuatu yang tidak bisa digapai. Dan Sakala, meski perlakuannya terasa manis, ciumannya luar biasa, dan sentuhan juga genggaman tangannya hangat dan menyenangkan, juga membuat perutnya tergelitik geli, Ala harus membatasi diri. Ia bukan orang yang pantas. Memang benar jika menganggap ini hanya sebagai pekerjaan. Hanya itu, Ala kembali menutup pintu, lalu baru sadar dengan apa yang aneh di rumah ini. Bau makanan. Bau masakan. Tapi ia saja baru sampai, belum menyeret diri untuk memasak makan malam hari ini. Ia jadi penasaran. Kakinya melangkah menuju ruang makan, di mana dapur juga akses menuju lantai dua ada di sana. Lalu Ala bergeming. Ada Saka yang sedang menuangkan saus pada dua mangkuk yang ada di depannya. “Bebe!” seru Saka seakan sudah lama tidak bertemu dengan Ala. Mata Ala menyipit dengan ujung bibir yang naik, tersenyum canggung dengan apa yang ada di depannya. Sakala Rangga yang tadi pagi membuatnya menahan napas karena begitu gagah dan tampan dalam suit and tie, kini berdiri di depannya dengan setelan kaus juga celana pendek, dengan apron pink. Ya! Itu apron milik Ala. “Pak Saka, lagi apa?” gagap Ala bertanya. “Masak.” Jawaban singkat Saka sambil memunggunginya. Ala mengangguk-angguk, “Pak Saka kelamaan nunggu saya, ya?” tanyanya jadi merasa tidak enak. Ia menyimpan tote bag di atas island table lalu menghampiri Saka yang masih memunggunginya. “Enggak, kok. Aku memang mau masak buat kamu, Bebe,” jawab Saka santai. Berdiri di samping lelaki tinggi besar di sampingnya, Ala menatap dua mangkuk yang berisi spaghetti dengan saus bolognesse dengan taburan keju itu. “Waw!” Ala terpana. “Kamu belum mencobanya. Tahan dulu pujian untuk akunya, ya, Bebe,” Saka tersenyum, menoleh pada Ala yang membuka mulut terpana di sampingnya. “Wah, wah, wah. Pak Saka bikin spaghetti doang tapi semua perabotan turun begini?” tanya Ala dengan tangan terentang sepanjang kabinet dapur. Kepala Saka menoleh ke kiri dan kanan, menatap panci besar dan kecil, spatula dan pencapit, penyaring mie, pisau dan talenan, dua buah piring, beberapa sendok, plastik wrap bekas daging giling, bungkus spaghetti, bungkus saus, bumbu-bumbu. Teflon yang masih berisi minyak dan sauce pan yang berisi sisa saus. “Ini, bisa kita bereskan,” Saka menoleh dengan cengiran di wajah tampannya, “nanti,” lanjutnya. Ala mendengkus dengan gelengan kepalanya. Tidak bisa tidak tersenyum dengan apa yang Saka perlihatkan di depannya. “Aku bantu, ya, Bebe,” ucap Ala yang langsung menggulung lengan kemejanya. “Terima kasih, Bebe,” jawab Saka centil dengan kepala menunduk dan menubrukan pelan kening mereka. Perlakuan itu membuat Ala berkedip dan mematung sekejap. Sebelum kembali sadar dan mulai mengumpulkan semua yang berserak. Sedangkan Saka memindahkan dua mangkuk hasil mengobrak-abrik dapur ke atas meja makan. -o0o- “Hm,” Ala mengangguk-angguk. Di sampingnya, dengan mata berkilat-kilat, Saka menunggu reaksi dan komentar yang akan Ala berikan, “Gimana, Bebe?” tanyanya tidak sabar. “Sabar dong, Pak Sakala, saya masih meraba-raba apa yang kurang,” jawab Ala mengulur-ulur. Setelah mengumpulkan semua barang yang Saka pakai, ia mengelap semua permukaan dan baru duduk setelah Saka menariknya untuk makan lebih dulu. Di sanalah mereka sekarang, duduk bersisian di meja makan. Saka di sisi kiri dan Ala di sisi kanan. “Bebe, jangan lama-lama,” rajuk Saka. Ala nyegir, bukan hanya karena ia yang berhasil mengulur waktu, tapi juga karena ternyata seorang Sakala Rangga bisa merajuk seperti ini.Ala menoleh, menatap Saka yang menunggunya dengan wajah berharap. “Hm,” Ala bergumam, senyumnya naik kemudian, “enak.” Wajah songong Saka langsung naik menggantikan wajah berharapnya tadi. “Sungguh, tidak ada hal yang tidak bisa Sakala Rangga lakukan!” katanya membanggakan diri sendiri. Ala mengangguk-angguk. “Enak, kan?” Kepala Ala mengangguk lagi, “Enak, Pak Saka. Anda memang yang terbaik!” jempol Ala kiri terangkat saat tangan kanannya memutar garpu. “Syukurlah rasa spaghettinya bisa menebus ciuman kemarin.” Ala tersedak saat Saka mengatakannya. “Pelan, Bebe,” tangan Saka naik menepuk-nepuk punggung Ala lalu mendekatkan gelas minum Ala. Habis meneguk air putihnya, Ala kembali menoleh pada Saka. “Pak Saka bilang apa?” Saka berkedip pelan, “Aku lagi menebus ciuman gak enak kemarin dengan makanan yang enak,” katanya menjelaskan. “Ciuman gak enak?” Saka tahu ada yang salah dengan apa yang diterima otaknya sekarang. “Kamu nangis karena ciuman aku gak banget, kan?” Mata Ala berkedip dua kali, “Kalau ciuman yang kemarin buruk, memangnya ada yang baik?” tanyanya bingung. Tawa Saka terdengar kemudian. Menyadari kalau ia sudah salah sangka. Menyadari kalau ternyata ia sudah salah mengerti. Kepalanya kini menggeleng, “Jadi kamu gak nangis karena ciuman aku buruk?” tanyanya memastikan sekali lagi. “Aku nangis karena merasa bersalah, bukan karena ciu-“ Dan ucapan Ala terpotong bibir Saka yang lebih dulu sampai di bibirnya. -o0o-
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD