Episode 10

2023 Words
Keira mendorong brankar dengan tangan gemetar. Sementara Keisha dan ayahnya dengan setengah berlari mengikutinya dari belakang. Ia dan petugas ambulance terus mendorong brankar menuju ruang IGD. Saat brankar masuk ke dalam ruangan, pintu otomatis tertutup. Saat ini tidak dalam masa tugas. Jadi kehadirannya di rumah sakit ini hanya sebagai keluarga dari pasien. Bukan sebagai perawat. Makanya ia tidak berhak masuk ke dalam ruangan IGD dan memberi pertolongan seperti biasanya. Ia berikut ayahnya dan Keisha hanya bisa menunggu dengan harap-harap cemas di depan pintu ruangan. "Lo ini kan perawat, Ra. Mana lo kerjanya di rumah sakit ini lagi. Masa lo nggak bisa minta dispensasi apa kek gitu biar kita bisa masuk?" Suara cempreng Keisha memecahkan keheningan di ruang tunggu IGD. "Terus kalau kita semua bisa masuk, ibumu bisa langsung sadar, begitu?" Keisha langsung kicep begitu ayahnya bersuara. Bila tidak ada ibunya, Keisha memang cenderung tidak berani bertingkah. "Sudahlah. Sebaiknya kamu diam dan duduk saja di sini. Kalau memang kamu ingin kehadiran kamu itu bermanfaat, berdoalah. Semoga saja keadaan ibumu baik-baik saja." Ayahnya beranjak dari kursi ruang tunggu IGD. Memindai jam di pergelangan tangannya. Sepertinya ayahnya sedang mengecek waktu. Tidak lama berselang ponsel ayahnya berbunyi. Saat ponsel diangkat, percakapan membosankan memasuki pendengarannya. Ayahnya membahas masalah politik di negeri berbunga ini yang tidak ada habisnya. Lebih baik ia menulikan telinganya saja. Pembicaraan berat seperti ini sama sekali bukan dunianya. Tambah pinter kagak, pening iya. "Ayah pergi dulu. Ada rapat tahunan partai yang harus Ayah hadiri," singkat, padat dan jelas. Begitulah cara ayahnya berkomunikasi dengan mereka. Keshia yang tadinya sedang sibuk berselancar di dunia maya, mengerutkan keningnya. "Ayah mau pergi gitu aja? Nanti kalau Ibu sadar bagaimana?" "Kalau Ibumu sadar ya matanya terbuka dong? Kalau sekarang kan masih merem." Tanggapan acuh ayahnya membuat Keira separuh sedih separuh lucu. Ya, ayahnya memang benar juga. Kalau ibunya sadar, matanya tentu saja akan terbuka. Mereka semua tahu kalau pertanyaan Keshia bukan mengacu pada keadaan mata ibunya. Tapi kesehatannya. Tetapi mereka juga sama-sama tahu kalau ayahnya adalah raja sarkas dan anti drama. Jawaban nyeleneh itu sudah pasti efektif untuk membungkam si ratu drama. Keshia terlihat mengkal. Tapi ia tidak berani membantah kata-kata ayahnya. Ia juga ikut berdiri sekarang. "Kalau jawaban Ayah begitu, Sasa mau pulang juga. Kan di sini banyak dokter, ada Rara lagi. Jadi kehadiran Sasa juga nggak perlu-perlu amat di sini." Ayahnya menaikkan satu alisnya. Memandang sekilas pada Keisha. "Nah, itu kamu tahu." Ayahnya merogoh saku. Mengeluarkan dompet. Ia mencabut satu kartu ATM. "Ambil ini sebagai pegangan kalau diperlukan. Ayah jalan dulu. Ayah sudah terlambat hampir satu jam." Setelah memberikan kartu ATM, ayahnya melenggang pergi. Meninggalkannya dan Keisha begitu saja. "Gue juga mau balik. Ntar kalo ibu ada perkembangan, kabarin gue." Seperti dulu, keshia memerintah dengan gaya bossy. Ia mengambil ponselnya dari dalam tas. Menekan sebuah kontak. Bersamaan dengan itu, Keira merasa kalau ponsel di tasnya bergetar." Itu gue yang missed call lo pake nomor baru gue. Ntar lo hubungin gue ke nomor itu aja," Keira mengangguk. Ia malas terlalu lama berinteraksi dengan Keisha. Berbicara lebih dari beberapa patah kata dengannya, akan memicu kerusakan hati dan hipertensi. Saat ini hati dan pikirannya hanya tertuju pada satu kondisi. Keadaan ibunya. Sepeninggal Keshia dan ayahnya, ia merenung. Ulang tahun ibunya kali ini penuh dengan kejutan. Bukan hanya mengejutkan untuk ibunya, tetapi juga untuk mereka semua. Setelah kejadian ini, ia tidak tahu bagimana kehidupan mereka selanjutnya. Bagaimana sikap kedua orang tuanya? Dan bagaimana juga ia harus bersikap. Kenyataan yang terkuak secara tiba-tiba ini meruntuhkan mentalnya. Ia menguap lebar. Ia memang kurang tidur semalam. Duduk sendiri dalam ruangan berpendingin udara maksimal membuatnya mengantuk. Keira memejamkan matanya. Tidur sebentar mungkin lebih baik untuk menghilangkan keresahan hatinya. Setidaknya ia bisa melupakan semua masalah-masalahnya. Suara langkah-langkah kaki bergegas yang bergema di sepanjang lorong rumah sakit, membuatnya terjaga. Ia seperti mengenali ketukan langkah-langkah khas itu. Semakin lama langkah-langkah kaki itu semakin mendekatinya. Keira merasa kalau pemilik langkah kaki itu pasti Tante Gina, sepupu ibunya. Ia memang sengaja mengabari Tante Gina tadi. Ia takut terjadi apa-apa dengan ibunya. Kalau ada Tante Gina di sini, ia merasa sedikit tenang. Setidaknya ia tidak sendirian. "Rara, ibumu kenapa? Kok bisa tiba-tiba pingsan sih?" Tebakannya benar. Memang Tante Gina yang datang. Sepupu ibunya yang berpenampilan tomboy ini juga ditemani oleh Om Raga. Suami Tante Gina. Benak Keira berputar cepat. Mencari jawaban paling masuk akal untuk segala berondongan pertanyaan tantenya. Kan tidak mungkin kalau ia mengatakan ibunya pingsan karena semua rahasianya ketahuan? "Sepertinya ibu kaget karena tadi Sasa pulang. Jantung ibu menjadi tidak stabil. Mungkin karena terlalu bahagia," tukas Keira hati-hati. Tante Gina berdecak kesal. Ia menyusul duduk di sampingnya diikuti oleh Om Raga. "Jadi anak tidak berguna itu masih berani pulang? Memang benar-benar biang masalah adik kembarmu itu. Sewaktu dia kabur, ibumu masuk rumah sakit karena stress. Sekarang dia pulang, ibumu masuk rumah sakit lagi karena kaget. Benar-benar menyusahkan." Omelan Tante Gina hanya bisa dibalas anggukan kepala oleh Keira. Mau bagaimana lagi? Walaupun kesannya ngegas, apa yang dikatakan oleh Tante Gina memang benar adanya. "Sekarang mana si Sasa?" Tante Gina celingukan sejenak. Mencari-cari sosok Keisha. "Pulang, Tante," sahutnya singkat. "Kalau ayahmu?" Tanya Tante Gina lagi. Seperti tadi, Tante Gina celingak celinguk. Mencari-cari sosok ayahnya. "Ayah baru saja pergi, Tante. Mau menghadiri rapat tahunan partai sepertinya." Guman Keira pelan. Sebentar lagi tantenya pasti akan mengomel. Tantenya ini memang sangat tidak menyukai ayahnya. Sedari dulu hubungan mereka berdua tidak pernah harmonis. Menurut Tante Gina, ayahnya terlalu cuek terhadap keluarga. "Lihatlah kelakuan ayahmu itu, Ra? Jadi suami kok ya nggak ada khawatir-khwatirnya sama keadaan istri sendiri. Dulu aja sewaktu belum dapat, perhatiannya luar biasa pada ibumu. Eh giliran udah jadi istri, cueknya setengah mati. Laki-laki memang maunya cuma menang sendiri." Celetuk tantenya kesal. "Jangan suka mengeneralisasikan segala hal, Na. Kamu tidak berhak menghakimi seseorang hanya berdasarkan kacamata kamu saja. Kamu kan hanya melihat, tidak menjalani. Jadi kamu tidak berhak menilai apapun. Opini kamu, silahkan kamu simpan sendiri." Kalimat tajam Om Raga menghentikan sementara omelan Tante Gina. Om Raga ini sebelas dua belas modelnya dengan ayahnya. Bicaranya memang hanya sepatah dua patah kata. Tapi tajemnya mengiris jiwa. "Maaf, Mas. Saya kesel sama sikap Mas Restu," "Danti saja tidak kesel, kenapa malah kamu yang kesel? Orang yang kebakaran, kok malah kamu yang kepanasan?" Badas! Belum sempat Tante Gina membalas sindiran Om Raga, pintu IGD terbuka. Alhamdullilah. Ibunya sudah sadar rupanya. Ia dan Tante Gina bergegas menemui ibunya. Saat ini mereka hanya punya waktu sekitar sepuluh menit saja untuk melihat keadaan ibunya. Soalnya ibunya akan segera dipindahkan ke ruang rawat inap biasa. Syukur alhamdullilah karena semuanya baik-baik saja. Keira menghambur masuk dan menggenggam tangan ibunya. Wajah ibunya terlihat pucat dan tidak bersemangat. Pandangan matanya juga kosong. Hampa. Alhamdullilah ya, Allah. Ternyata Engkau masih melindungi ibu hamba. Untuk kedepannya semoga ia baik-baik saja. Aamiin. "Bagaimana keadaan, Ibu? Apa yang Ibu rasa? Sakit? Pusing? Atau--" "Mana Sasa?" Dalam keadaan tidak berdaya seperti ini pun, ibunya masih saja memikirkan Keisha. Luar biasa! "Ayahmu. Apakah ayahmu ada di sini? Mana dia? Ibu mau bicara." Air muka ibunya yang berubah-ubah membuatnya mengerti keresahan ibunya. Ibunya ingin menyelesaikan permasalahan yang belum tuntas dengan ayahnya. "Nggak ada, Danti. Baik Sasa maupun si Restu sialan itu nggak ada di sini. Gue heran ngeliat kelakuan lo. Yang selalu ada untuk lo, nggak pernah lo anggap. Tapi yang nggak peduli sama lo, malah lo bela mati-matian. Gue bener-bener nggak ngerti sama pemikiran lo, Danti!" As usual, Tante Gina dan mamanya berselisih paham lagi. Walaupun Tante Gina ini penampilannya seperti laki-laki, tetapi sesungguhnya hatinya lembut sekali. Ia sangat menyayangi ibunya. "Bukan begitu, Na. Sasa 'kan baru pulang. Mungkin ia masih capek. Kalau Restu, sepertinya ia ada pertemuan dengan para petinggi partai," dalam keadaan kepayahan begini, ibunya masih berusaha melindungi orang-orang yang disayanginya. Ia tahu walau dalam keseharian ibunya selalu perang dengan ayahnya, tetapi bila di luar, ia akan membela mati-matian nama baik ayahnya. "Setiap gue ngeliat muka lo, gue akan ngerasa kalau hukum karma itu benar adanya. Dulu pacar-pacar lo itu pengusaha, pejabat, perwira polisi, tapi lo nikahnya malah sama si Restu. Si culun yang dari zaman sekolah dulu tergila-gila sama lo. Keren kagak, kere mah iya! Danti... Danti... laki mokondo begitu masih aja lo pertahankan setengah mati!" "Dia baik, Na. Dia bisa menerima segala kekurangan gue." Jawab ibunya lemah. Kini jawaban ibunya itu bisa ia mengerti. Ayahnya memang baik. Ia mengorbankan semua masa mudanya untuk melindungi nama baik ibunya. Ayahnya juga dengan ikhlas memberi nama keluarganya pada mereka. Padahal ia dan Keshia bukan anak kandungnya. "Lo juga baik banget sama dia Danti. Inget nggak waktu dia dulu baru belajar-belajar di dunia politik? Lo kan yang biayain? Terus waktu dia berkali-kali gagal, dan malah berurusan dengan hukum karena masalah korupsi? Lo dan almarhum Om Handoko juga 'kan yang turun tangan? Nah sekarang giliran lo yang memerlukan perhatiannya, dia ada di mana coba? Di pertemuan tahunan partainya! Dia lebih mentingin karirnya dari pada nyawa lo! Danti... Danti... lo mempertahankan laki-laki yang sama sekali nggak nggangep diri lo!" Keira merasa ini bukan waktu yang tepat untuk membahas masalah sensitif seperti ini. Ia tidak ingin kalau ibunya kolaps lagi. "Ibu ingin bertemu dengan Sasa, ya? Kalau begitu Rara telepon aja ya, Bu? Tadi Sasa juga berpesan untuk mengabarinya jikalau Ibu sudah sadar." Keira berusaha mengubah topik pembicaraan. "Tidak usah, Ra. Biarkan saja dia beristirahat di rumah. Ia pasti capek. Adikmu itu kan gampang sekali sakit sejak dari kecil dulu. Berhubung ada Tante Gina di sini, kamu ambilkan saja baju ganti Ibu dan keperluan lainnya di rumah. Bisa?" "Bisa, Bu." Keira mengangguk takzim. Ia senang bisa membuat dirinya berguna untuk ibunya. Sekalipun hanya menjadi seorang pesuruh. Ia bergegas keluar dari pintu ruangan IGD dengan hati lapang. Malam ini begitu panjang dan penuh kejutan. Satu yang ia syukuri, ibunya ternyata dalam keadaan baik-baik saja. Alhamdullilah. "Kamu mau ke mana, Ra? Kok buru-buru seperti itu?" Keira menghentikan langkahnya. Om Raga rupanya yang menyapanya. Ternyata si Om masih setia duduk di depan ruang tunggu IGD. "Mau mengambil baju ganti ibu dan beberapa keperluan lainnya, Om." "Ooh. Bagaimana keadaan ibumu?" "Alhamdullilah, ibu sudah sadar, Om. Sekarang sedang ditemani sama Tante Gina, makanya Rara bisa pulang sebentar. Rara jalan dulu ya, Om?" "Mau Om antar? Ini sudah lumayan malam lho, Ra?" "Eh nggak usah, Om. Rara bisa sendiri. Permisi, Om." Keira buru-buru berlalu dari hadapan Om Raga. Bukan apa-apa, ia hanya tidak suka merepotkan orang lain. Ia masih punya tangan dan kaki yang lengkap. Jadi untuk apa selalu menggantungkan diri pada orang lain, bukan? Baru saja kakinya menapaki pelataran parkir, ada pemandangan yang tidak ia duga. Ia berpaspasan jalan dengan Keisha dan Panji. Sepertinya Panji ingin menjenguk ibunya di rumah sakit. Ada parsel berisi buah-buahan di tangannya. Melihat kedatangannya, Keisha langsung menghampirinya. "Bagaimana keadaan ibu, Ra? Ibu udah sadar atau belum? Gue khawatir banget, Ra. Mas Panji juga?" Keisha mememas kuat tangannya. Matanya berkaca-kaca. Ia sepertinya sangat sedih akan keadaan ibunya. Garis bawahi kata sepertinya. Karena sepertinya ia hanya berakting saja. Soalnya ada Mas Panji didekatnya. "Ibu baik-baik saja. Udah sadar juga kok. Lo lihat aja ke dalam sana. Ibu pasti senang melihat kehadiran lo," sahut Keira acuh. Gue jalan dulu, mau mengambil baju ganti ibu." Keira mempercepat langkahnya. Ia eneg banget berdekatan dengan dua orang manusia penuh kepalsuan itu lebih lama lagi. Baru saja ia ingin membuka aplikasi taksi online, sebuah deheman di belakangnya membuatnya mengurungkan niatnya. "Melarikan diri dari kenyataan lagi, Ra?" In hale, ex hale, sabarrr... "Maaf ya, Pak Rasya. Saya tidak pernah melarikan diri dari apapun. Bapak jangan terlalu cepat mengambil kesimpulan," cetus Keira kesal. Orang ini selalu saja muncul di saat suasana hatinya sedang gonjang ganjing. Bikin kesal saja. Mana mulutnya pedes banget lagi. Kerjanya cuma menyindir-nyindir orang saja! "Terus tindakan kamu yang buru-buru menghindari pasangan serasi tadi itu, apa namanya kalau bukan melarikan diri? Lagi main petak umpet solo?" Lihatlah sindiran gurih-gurih pedes si Rasya ini? Entah apa kepuasan yang ia dapat dengan selalu saja mengusik hidupnya. Apa semua pengacara seperti itu? Kerjanya nyinyirin hidup orang saja! "Terus tindakan Bapak yang suka sekali nyungsungin hidup saya itu apa namanya? Pemuja rahasia? Atau jangan-jangan sebenarnya Bapak itu suka setengah mati sama saya? Tapi nggak berani bilang karena takut disebut sebagai pebinor? Mana yang benar, Pak?" Krik... krik... krik... "Semuanya benar."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD