"Bunuh saja aku." *** Besi memperhatikan sosok itu. Sosok itu menggeliat, berusaha bangun dan kemudian terduduk. Besi menelan ludah. Sosok di depannya masih manusia. Terlihat seperti masih manusia. Meskipun kulitnya sudah agak berubah, sorot matanya meredup, serta suaranya yang berat, tapi, sepertinya, sosok di depannya itu masih bisa disebut manusia. "Kenapa aku harus membunuhmu?" tanya Besi, mendekat. Berusaha duduk, di tempat yang cukup dekat dengan sosok itu. Bukannya tak takut, tapi ia merasa setidaknya ia haruslah memiliki sedikit rada hormat. Meskipun sosok di depannya sudah hampir berubah. Selama ia terlihat ramah, Besi merasa itu bukan masalah. "Kenapa aku harus membunuhmu?" Sekali lagi, Besi bertanya. Ia penasaran kenapa sosok di depannya, alih-alih minta diselamatkan, malah

