"Tapi, memangnya, kita punya pilihan lain?" *** Perlahan, Joni membuka mata. Ia mengerjap, untuk kemudian, ia merasakan sakit yang cukup hebat di kakinya. Ah, luka sialan itu, umpatnya di dalam hati. Joni berusaha bangun dan menyandarkan tubuhnya. Ia melihat sekeliling dan menyaksikan teman-temannya, Dollar, Ipang, Besi, dan Aul, tengah tertidur. Pemuda itu cukup merasa nyaman dengan keadaan ruangan yang ia tempati, meskipun sebenarnya Joni juga paham. Hal itu tak menjamin bahwa tempat yang sedang mereka singgahi adalah tempat yang aman. Joni menyadari bahwa dirinyalah yang paling lambat sekarang. Tiba-tiba saja, ia jadi memiliki pemikiran bahwa ialah yang jadi penghambat dalam perjalanan teman-temannya. Ya, kalau bukan karena dirinya yang terluka, mungkin saja keempat orang yang s

