Reyna dan Agatha melangkah masuk ke sebuah restoran mewah. Cahaya lembut dari lampu gantung menciptakan suasana romantis, tetapi bagi Reyna, yang ada hanyalah kegugupan dan kecanggungan.
Mereka berdua duduk, menunggu dengan cemas kedatangan Nabila, calon istri Agatha.
Tak lama kemudian, seorang wanita cantik menghampiri meja mereka. Reyna dan Agatha serempak berdiri.
"Halo, Mbak. Apa kabar?" sapa Reyna, mengulurkan tangan.
"Maaf, Mas, aku enggak bisa lama. Lebih baik langsung ke intinya aja," ucap Nabila, tatapannya langsung tertuju pada Agatha.
"Oke, Mbak, saya setuju," sahut Reyna.
Nabila menoleh padanya. "Jadi?"
Reyna segera mengambil alih. "Begini, Mbak. Sebenarnya saya mau menjelaskan soal kesalahpahaman kemarin. Saya disuruh membeli itu untuk dijadikan sampel. Karena perusahaan Pak Agatha, yang bergerak di bidang suplemen, ingin meluncurkan produk kondom. Nah, untuk meneliti kekurangan produk lain di pasaran, Pak Agatha menyuruh saya membelinya."
Nabila menatap Reyna intens, mencari-cari kebohongan di matanya.
"Duh, kenapa dia natap gue kayak gitu, sih? Gue kan jadi takut ketahuan bohong. Kira-kira alasan gue masuk akal enggak, ya?" gumam Reyna dalam hati, cemas.
Nabila tersenyum tipis, lalu menggenggam tangan Reyna. "Rey, kamu enggak perlu menutupi kesalahan Agatha."
"Eh, enggak, Mbak, saya enggak bohong! Kalau Mbak enggak percaya, dalam waktu tiga minggu Pak Agatha akan meluncurkan produk ini kok!" ucap Reyna, berusaha meyakinkan Nabila.
Nabila memicingkan mata. "Benarkah?"
Reyna mengangguk mantap. Sementara di sampingnya, biji mata Agatha hampir menggelinding keluar mendengar ucapan Reyna.
"Apa benar begitu, Sayang?" Nabila menatap Agatha.
"H-hah, iya... hahaha!" Agatha tertawa kaku.
"Baiklah. Maaf, ya, aku sudah berpikir yang bukan-bukan tentang kalian," kata Nabila, mengembuskan napas lega.
"Heum, enggak apa-apa, Sayang," ucap Agatha, memeluk Nabila.
"Ih, jadi obat nyamuk, deh, gue," gumam Reyna, pura-pura tidak melihat.
Nabila melepas pelukan itu. "Sayang, aku mau ke London setengah jam lagi. Mungkin sekitar sebulan aku baru balik."
Ada perasaan lega yang Agatha rasakan, setidaknya Nabila tidak akan tahu tentang kebohongan peluncuran produk kondom yang Reyna buat. "Kok mendadak, sih, kasih tahunya?"
"Iya, kan kemarin aku ngambek sama kamu."
"Oh, iya, yaudah. Ayo aku antar ke bandara."
"Reyna, Mas?" tanya Nabila.
"Dia bisa naik taksi, kan, Rey?" Agatha menaikkan alisnya, meminta Reyna untuk mengiyakan.
"Ah, iya, Pak, saya naik taksi aja," jawab Reyna terpaksa.
"Oh, yaudah. Duluan, ya, Rey," pamit Nabila.
"Iya, Mbak," sahut Reyna, tersenyum kecut.
Agatha dan Nabila pergi meninggalkan Reyna sendirian. Reyna segera memesan taksi online. Ketika hendak pergi, seorang pelayan menghampirinya.
"Maaf, Mbak, tagihan harus diselesaikan dulu," ucap pelayan itu sopan.
"Hah? Tagihan apa? Saya enggak pesan apa-apa," protes Reyna.
"Meja ini sudah di-reservasi, Mbak. Kekurangan DP-nya harus dilunasi, walaupun tidak memesan apa pun."
"Astagaaaahhh! Agatha! Katanya bos CEO, tapi pesan restoran pakai DP. Kenapa enggak langsung dilunasin, sih?! Dasar bos kere!" umpat Reyna kesal.
"Berapa kekurangannya, Mas?"
"Satu juta, Mbak."
"Hah, satu juta?!" Reyna terkejut.
"Benar, Mbak."
Dengan perasaan kesal, Reyna mau tidak mau membayar tagihan itu. Ia keluar dari restoran dengan wajah masam.
"Jam kantor satu jam lagi. Gue balik ke rumah atau ke kantor, ya? Ah, bodohnya! Bosnya aja enggak ada di kantor, mending gue pulang aja," gumam Reyna, lalu melangkah pergi.
***
Matahari terbit perlahan di balik gedung-gedung tinggi kota pada hari Sabtu yang cerah. Reyna terbangun dari tidurnya yang nyenyak, ingin bermalas-malasan.
Namun, suara bel apartemen yang berdering keras mengganggu ketenangannya.
"Ck, siapa, sih, pagi-pagi ganggu!" umpat Reyna kesal.
Ia berjalan ke pintu, membukanya dengan malas. Di depannya berdiri seorang kurir dengan senyum lebar. "Maaf mengganggu, tapi saya kurir yang membawa paket untuk Anda," ucap pria itu.
Reyna merasa sedikit lega, meskipun masih kesal karena diganggu. Ia menerima paket tanpa nama pengirim itu, lalu masuk ke dalam.
Rasa penasaran membuatnya buru-buru membuka paket tersebut.
Isi di dalamnya membuat Reyna terkejut.
Sejenis lingerie berwarna merah.
"Ini baju model apa?" gumam Reyna, membolak-balikkannya. "Ini baju atau jaring laba-laba, sih? Yang ada aku masuk angin kalau pakai ini," gerutunya.
Tiba-tiba, ponselnya berdering. Itu panggilan dari Agatha. Reyna mengangkat telepon dengan bingung. "Halo?"
"Bagaimana? Apa kamu sudah menerima paket dari saya?"
"Paket?! Jadi jaring laba-laba ini dari Bapak?!" Reyna berbicara sambil memegang lingerie merah itu.
"Jaring laba-laba? Apa kurirnya salah kirim?" Agatha terdengar bingung. "Mungkin lebih baik kita video call, Reyna. Aku ingin melihat sendiri apa yang kamu maksud."
"Ck, alasan! Bilang saja Bapak ingin melihat saya dalam kondisi seperti ini!"
"Apa maksudmu?" tanya Agatha.
"Bapak tahu ini jam berapa? Ini masih jam tujuh pagi, saya baru bangun tidur dan masih pakai piyama!"
"Astaga, Reyna! Kamu enggak perlu memperlihatkan wajahmu, kan bisa! Pakai kamera belakang untuk memperlihatkan paketnya!"
"Oh, iya juga, ya," gumam Reyna, yang masih terdengar oleh Agatha.
"Besok saya pecat orang HRD karena sudah menerima orang selambat kamu jadi sekretaris saya!"
"Lalu saya, Pak?" tanya Reyna polos.
"Kita lihat saja besok! Cepat terima panggilan video dari saya!"
"I-iya, Pak," ucap Reyna, lalu menerima panggilan video.
Agatha melihat Reyna memegang lingerie merah di tangannya. "Mana jaring laba-labanya?" tanyanya.
"Ya ini, Pak! Pakaian ini yang saya maksud jaring laba-laba!" sahut Reyna.
Agatha menahan tawa.
"Gimana, Pak? Apa kurirnya salah kirim?" tanya Reyna lagi.
"Enggak. Pakaian itu memang dari saya. Itu hadiah karena kamu sudah membantu saya kemarin," jelas Agatha.
"Hadiah? Apa enggak ada hadiah lain, Pak? Ngasih hadiah kok pakaian bolong-bolong," gerutu Reyna.
"Sudahlah, terima saja! Saya enggak punya ide lain buat ngasih kamu apa," ujar Agatha, sambil mengunyah apel.
Tiba-tiba, layar televisi di ruangan Agatha menampilkan seorang reporter berita dengan latar bandara. "Berita duka dari Bandara Heathrow, London. Pesawat Indonesia Airlines dengan nomor penerbangan 456 mengalami kecelakaan saat hendak mendarat.
Pesawat tersebut membawa 250 penumpang dan awak pesawat. Belum ada informasi pasti mengenai korban jiwa."
"Nabila," gumam Agatha, suaranya terdengar lirih oleh Reyna.