7. Bertemu Dengan Adik Ipar

1029 Words
Semua mata kini tertuju pada mereka berdua. David yang menyadari situasi menjadi canggung langsung memberi instruksi kepada yang lain. “Ehem … meeting akan kita mulai sekarang." Leonardi yang masih menatap Emely dengan intens, akhirnya mengangguk dan memulai meeting. Sepanjang rapat berlangsung, Leonardi nyaris tak bisa fokus. Beberapa kali dia melirik ke arah Emely, memperhatikan setiap gerakan kecil wanita itu. Dari cara Emely mencatat, mengangguk saat mendengarkan penjelasan, bahkan saat menghindari tatapan mata Leonardi. Rasa bersalah pun semakin besar menyelimuti hati pria itu. Sementara itu, Emely berusaha bersikap profesional. Meski jantungnya berdebar hebat, dia berusaha tetap tenang, tak ingin menunjukkan gejolak batinnya. Namun, keberadaan Leonardi terlalu kuat untuk dia abaikan. Tatapan mata pria itu seolah membakar tubuhnya setiap kali dia mencoba fokus pada layar proyektor yang menampilkan poin-poin dari meeting siang ini. Setelah meeting selesai, Emely mengikuti langkah kaki Yulia. Tapi sayangnya, Leonardi yang mengamati gerak-gerik Emely sepanjang rapat, langsung mengajak wanita itu untuk ikut ke dalam ruangannya. "Ayo cepat kamu ikuti Pak Leo. Jangan membuat Bos besar marah dan memecat kamu," ucap Yulia yang membuat Emely meringis. "Emely Jonathan, ayo cepat ikut saya." Emely terkesiap saat Leonardi memanggil nama lengkapnya dengan nada memerintah. Sedetik kemudian, dua mengikuti langkah kaki Leonardi. Keheningan yang pekat menyelimuti keduanya, setelah memasuki ruangan Leonardi. Hanya suara detak jam dan napas keduanya yang terdengar. Di dalam hatinya, Emely merasa takut dengan keadaan ini. Di mana Leonardi ternyata adalah CEO di perusahaan tempatnya bekerja. Dia tidak mau harapannya untuk meraih hidup yang lebih baik harus kandas diawal perjuangannya. "Saya mencarimu ke mana-mana, Emely,” ucap Leonardi dengan nada datar. Emely menatap Leonardi dengan takut-takut, suaranya pun bahkan bergetar. “Dan sekarang Mas ... Pak Leonardi sudah menemukan saya. Lalu apa yang mau Bapak lakukan?” "Saya mau kamu menjadi ibu s**u Aluna. Ternyata ASI kamu sangat cocok untuk tubuhnya." Emely memejamkan mata, tak percaya dengan apa yang barusan dia dengar. Dia menatap Leonardi yang tampak tenang, namun justru membuat hatinya semakin tidak karuan. "Setelah semua tuduhan yang Bapak lontarkan kepada saya? Sekarang Bapak malah meminta saya untuk ... menyusui anak Bapak. Sungguh egois sekali," ujar Emely sembari menatap nanar Leonardi. "Kenapa tidak? Kamu sendiri yang memulainya, maka kamu harus bertanggung jawab atas Aluna. Ini perintah atau saya akan memecatmu," ucap Leonardi yang membuat Emely merasa tak berdaya. "Jadi apa jawabanmu, Emely?" tanya Leonardi dengan nada menuntut. "Saya ... akan melakukannya," jawab Emely pasrah. "Bagus. Nanti sore ikutlah dengan saya ke rumah sakit," ucap Leonardi. Emely hanya mengangguk lalu meninggalkan ruangan Leonardi dengan perasaan yang berkecamuk. *** "Ly. Kamu kenal sama Pak Leonardi?" tanya satu rekannya saat Emely kembali ke ruang divisi marketing. Emely hanya dapat memamerkan senyuman canggungnya, tak tahu harus menjawab apa. Rekan-rekannya lantas saling melirik, saling bertanya dalam diam, tapi tidak ada yang berani mendesaknya lebih jauh. Karena aura Emely begitu berbeda, seolah baru saja menghadapi badai besar. Dan mereka semua tahu, jika ini bukan saat yang tepat untuk bertanya. Tapi ada satu orang yang menatap sinis pada Emely, orang yang menghardik wanita itu tempo hari karena cengeng dan berhati lemah. Melania. Sejak awal Emely masuk ke perusahaan ini, dia tak pernah bertegur sapa dengan wanita itu. Melania menatap Emely dari balik layar komputernya, lalu menyeringai kecil seolah menangkap sesuatu yang bisa dia jadikan untuk menyerang Emely. "Cepat juga kamu dekat sama Pak Leonardi, ya," gumam Melania pelan, tapi cukup keras untuk terdengar oleh Emely dan beberapa rekan lain. Emely menoleh perlahan, menatap Melania tanpa ekspresi. Dia tidak ingin membuang energi untuk menghadapi drama seperti ini, apalagi dalam keadaan hatinya yang masih kalut. Namun, Melania tampaknya tidak ingin berhenti. “Apa ini alasannya kamu diterima kerja di sini padahal proses interview kamu terlalu mendadak?" lanjut Melania dengan suara setengah berbisik, tapi disengaja agar orang-orang mendengar. Beberapa orang mulai saling berpandangan, suasana ruang divisi pemasaran pun mendadak kaku. Emely tetap diam, mencoba tetap fokus pada layar komputernya meski jari-jarinya gemetar menahan amarah dan rasa sakit. Tak dia sangka jika akan mendapatkan musuh secepat ini. Namun Emely tahu jika percuma saja untuk melawan, sebab sadar jika dirinya hanya karyawan baru. "Kenapa diam saja? Kamu tidak dapat menjawabnya 'kan?" tanya Melania dengan sorot mata mengintimidasi. Emely menunduk tak berani untuk membantah ucapan Melania. "Ternyata benar itu kamu, Emely." Emely mendongak dan terkejut saat melihat siapa yang berbicara. Anna ...." Emely terkesiap saat melihat Anna, adik mendiang suaminya berdiri dengan angkuh di ambang pintu. Dia mengenakan pakaian kantoran yang modis dan menatap Emely dengan pandangan meremehkan. "Aku tidak menduga kalau kamu akan bekerja di sini," ucap Anna sambil menyilangkan tangan di d**a. Emely berusaha tetap tenang dalam menghadapi sindiran yang dilakukan oleh mantan adik iparnya itu, meski hatinya kini mulai berdegup tak karuan. "Aku bekerja atau tidak ... itu bukan urusanmu, Anna," ucapnya datar, mencoba tidak terpancing emosi. Anna melangkah mendekat, lalu berhenti tepat di hadapan Emely. Senyumnya sinis. "Aku cuma penasaran," ucap Anna, senyumnya melebar sinis. "Setelah semua yang kamu lakukan, ternyata kamu masih punya muka untuk hidup tenang dan kerja di kantor sebesar ini? Hebat juga kamu." Melania yang memang belum selesai bicara dengan Emely, langsung menyambar dengan pertanyaan. "Anna. Kamu kenal sama dia?" Anna menoleh ke arah Melania. "Tentu saja aku kenal sama dia, Mel. Dia itu kakak ... ekh, mantan kakak iparku." Suara riuh tak lama terdengar di dalam ruangan, sementara Melania merasa memiliki kesempatan untuk semakin menjatuhkan Emily. Dengan tujuan membuat wanita itu tidak betah untuk bekerja di perusahaan ini. "Mantan kakak iparmu, berarti dia itu JANDA, ya?" ucap Melania yang sengaja menekankan kata janda. Emely mengepalkan tangannya, menahan amarah yang mulai mendidih. "Memangnya kenapa kalau aku ini janda? Ada masalah dengan dengan statusku itu?" tanya Emely Melania menyeringai, lalu menyandarkan tubuhnya ke kursi dengan gaya angkuh. “Nggak masalah sih. Cuma ya… biasanya janda itu banyak drama. Baperan, sensitif, dan—” "Dan pasti mencari perhatian dari pria-pria untuk memuaskan rasa kesepiannya." Sambung Melania dengan tawa mengejek. Anna lalu ikut tertawa dengan Melania, membuat harga diri Emely semakin terkoyak. Seketika suasana ruangan menjadi hening. Beberapa orang menunduk, merasa tak nyaman dengan arah pembicaraan yang sudah melewati batas ini. Beberapa lainnya hanya saling pandang, tak tahu harus berbuat apa. "Sudah cukup!" Suara teriakan itu tak pelak membuat Anna dan Melania berhenti tertawa.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD