Story

1948 Words

Fiona benar-benar marah, tapi marahnya Fiona itu tidak mengamuk-ngamuk. Hanya meluapkan apa yang dirasanya, yang membuatnya merasa tak tenang. Menyadari istrinya tak baik-baik saja, Fahri mempercepat telepon dengan mamanya itu dan memakai baju. Lalu, dia ikut naik ke atas ranjang menghampiri sang istri yang memiringkan badannya menghadap ke arah jendela. Dia peluk istrinya tersebut dari belakang. Istrinya begitu baik dan lembut hatinya, kenapa mamanya masih saja melontarkan kata-kata yang menyakitkan? Fahri marah, tentu saja. Di sisi lain, bagaimana pun mamanya itu tetap lah orang tuanya. Yang telah melahirkan dan membesarkannya, tak ingin dicap anak durhaka juga jika terus melawan. Tak jarang Fahri berdebat dan ujung-ujungnya mengalah. Fahri kali ini hanya ingin menghabiskan waktu berdu

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD