BUBUR AYAM

1456 Words

“Semua apa, Ta?” tanya Helia. Sekali lagi ia berusaha terdengar datar, padahal ada riak halus dalam dadanya. Zetta tersenyum miring. “Ngga ada yang penting sih. Aku tuh antara takjub sama sangsi kalau kamu beneran kuat jauh dari rumah.” Ia memiringkan kepala sedikit, memperhatikan wajah Helia. “Kamu kan manja banget. Anak rumahan banget. Selama kuliah di Paris aja kerjaan kamu neror orangtuamu dan Kak Arani buat sering-sering ngubungin.” Helia menahan diri agar tak tampak jengah dengan keramahan palsu itu. “Kamu masih nangisan dan gampang overthingking ngga, Ya? Jangan dong, Ya... kamu sendirian lho di sini.” Zetta lalu mengatupkan bibir, jelas menahan tawa. Helia bernapas dalam. “Iya ya? Aku dulu kayak gitu ya?” “Dulu? Sekarang sudah ngga?” Helia menaikturunkan bahunya. “Aku kan bar

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD