Masih belum pukul tujuh pagi, namun Théologie sudah tampak sibuk. Matahari bahkan masih enggan menanjak tinggi, cahayanya jatuh rendah — memantul di kaca etalase dan menimpa nomor-nomor meja yang masing-masing ditemani vas mungil berisi sekuntum bunga segar. Ada ketengangan khas pagi hari, jeda yang damai sebelum kota benar-benar terbangun — dan Helia menyukai suasana itu. Ia berdiri di balik counter, rambutnya diikat rendah dengan hair clip kecil menahan poni yang selalu berusaha jatuh ke mata. Ia menatap rak-rak berisi kaleng-kaleng teh seperti seseorang yang tengah memperhatikan buah hatinya sendiri—satu per satu, mengabsen, memastikan semua masih di tempatnya, masih wangi, masih bisa ia andalkan. Di dapur, Zeph—pâtissier mereka—sedang meracik sirup lemon verbena. Uap tipis mengepul d

