Nginep Gimana?

1275 Words

Jakarta masih seperti biasa—sibuk meski malam kian larut. Lampu-lampu dari gedung pencakar langit masih menyala, menerangi jalanan yang tetap hidup. Kendaraan berlalu-lalang, tak sepadat jam kerja, tetapi cukup untuk menjaga denyut kota tetap berirama. Di dalam mobil, Alora duduk diam, jemarinya saling meremas tanpa sadar. Ada sesuatu yang mengganjal di dadanya, membuatnya sulit bernapas lega meski mereka sudah meninggalkan restoran. Bayangan percakapannya dengan Mama Laudya dan Caca terus berputar di kepala, seperti rekaman yang diputar ulang tanpa henti. Ia mencoba mengingat setiap kata, mencari-cari apakah ada yang keliru, sesuatu yang mungkin tanpa sadar menyinggung mereka. "Masih nervous?" Suara Regan tiba-tiba memecah keheningan. Musik jazz yang sebelumnya hanya jadi latar sama

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD