Mereka Baper

1510 Words

Di Bandara, Aland sedang menunggu Maggy, dia menyandarkan punggungnya ke dinding mobil sambil matanya terus mengawasi setiap pengunjung yang keluar dari Bandara satu persatu. Aland tidak ikut masuk, karena dia sangat malas berdesak-desakan dengan banyak orang di dalam sana.

"Harusnya dia sudah tiba," gumam Aland melihat jam di pergelangan tangannya.

Lantas pria itu kembali menatap lurus ke depan. Tidak peduli dengan beberapa pasang mata gadis-gadis yang menatapnya penuh arti, bahkan Aland malas untuk sekedar melempar senyum pada mereka. Baginya, disuguhkan dengan senyuman seperti itu sudah menjadi kebiasaan.

"Tuan Muda, anda ingin minum?" tawar Herry.

"Tidak!" Aland menolak.

Aland sedikit mengubah posisinya dengan kaki terangkat sebelah hingga sampai lutut. Tiba-tiba mata Aland terkunci pada sosok wanita yang berjalan dengan sangat anggun.

Gadis tersebut adalah Maggy, yang tak lain adalah kekasih sekaligus wanita yang ditunggu-tunggu Aland sejak tadi. Dengan mendorong sebuah koper, Maggy berjalan bak model bintang Korea. Matanya seperti sedang mencari seseorang. Hingga dia melihat sebuah tangan melambai ke arahnya.

"Itu dia."

Maggy setengah berlari, berjalan mendekati Aland dan bersiap untuk memeluk pria itu, rasa rindunya sejak lama ingin dilepaskannya sekarang juga.

"Aland, aku rindu," ucapnya dengan suara yang lembut dan manja.

Aland masih bergeming, tidak membalas pelukan tersebut. Saat menyadarinya, Maggy melepaskan diri dan bertanya. "Ada apa, Aland?" Maggy melepaskan pelukannya.

"Kamu lama sekali, Maggy. Aku sudah menunggu hampir setengah jam," cecar Aland dengan wajah kesal.

"Ya ampun, sayang. Harusnya kamu mengerti bagaimana keadaan di dalam sana." Maggy mengapit tangan Aland dan menyandarkan kepala di pundaknya. "Bukannya malah marah seperti ini."

Melihat wajah Zaya yang cemberut, membuat Aland tidak tahan. "Aku hanya bercanda, sayang," kata Aland tersenyum

Dirangkulnya bahu Maggy agar menyatu dengan tubuhnya.

"Aku kira kamu benar-benar marah padaku." Maggy mencubit perut Aland.

"Tidak! Aku tidak pernah padamu. Maafkan aku ya, telah membuatmu merasa seperti itu."

"Iya," jawab Maggy tersenyum senang.

"Ayo, masuklah! Di sini panas sekali." Aland membuka pintu untuk Maggy.

"Hei, kenapa kamu masih disitu. Cepat ambil kopernya!" Bukannya masuk, Maggy membentak Herry yang sedang berdiri.

"Baik, Nona." Herry segera mengambil koper tersebut dan memasukkannya ke dalam bagasi.

"Heran, kenapa Aland belum juga mengganti supir yang baru," gumam Maggy sambil memasang kembali kacamatanya dan masuk ke dalam mobil.

Herry masih sempat mendengar kalimat Maggy yang terakhir sebelum gadis itu masuk ke mobil.

"Ternyata, Nona Maggy belum juga berubah." Herry mengelus dada. Namun, Herry tidak ambil pusing dengan sikap Maggy, sudah biasanya baginya mendengar kalimat serupa tadi.

"Sayang, kenapa kamu masih belum bisa akur dengan, Herry?" tanya Aland.

"Aland, please. Jangan bahas masalah dia sekarang. Aku sangat lelah." Maggy menyandarkan kepalanya di pundak Apand. "Kamu tahu, aku tidak bisa tidur di pesawat, bahkan mataku pun enggan untuk terpejam." Maggy mulai bercerita.

Aland masih diam mendengarkan, sesekali tangannya memainkan rambut Maggy yang terurai.

"Aku tidak sabar untuk segera sampai kemari, rasanya pesawat pun berjalan cukup lambat," lanjutnya melihat Aland sekilas. "Tapi sekarang aku lega, karena akhirnya kita bertemu." Maggy mengelus lengan Aland yang dibaluti dengan kemeja ketat, hingga otot-ototnya terlihat seperti meronta-ronta ingin keluar dari kesesakan di dalam sana.

"Sayang, ada apa? Mengapa menatapku seperti itu?" tanya Maggy memanyunkan bibirnya.

"Jangan seperti itu, Maggy. Kamu bikin gemas." Aland mencubit hidung Maggy.

"Lalu mengapa menatapku seperti itu?"

"Kamu tahu, rasanya ini seperti mimpi. Kita bertemu setelah sekian lama." Aland mendekap Maggy erat. "Katakan, seberapa besar kerinduan yang kamu rasakan selama di sana?"

"Aland, kita sudah sering membahas ini, bukan? Sekarang saat berjumpa pun, pertanyaanmu masih saja sama. Mengapa tidak menanyakan hal yang lain saja."

"Apa yang harus kutanyakan, Maggy. Melihatmu seperti ini, aku tidak bisa berkata apapun lagi."

"Jika begitu, maka diamlah!"

Lalu mereka tertawa bersama, tidak peduli pada Herry yang berada di depan kemudi. Herry sendiri sudah biasa jadi supir yang tuli, terkadang Herry juga menjadi dinding yang tidak bisa mendengar apapun. Baginya, apapun yang dibicarakan Aland dan Maggy, bukanlah hal yang harus ia dengar.

"Tuan, kita menuju kemana?" tanya Herry saat dua manusia di belakang sudah diam.

"Sayang, apa kamu lapar? Kita bisa mampir ke restoran untuk makan siang." Aland bertanya pada Maggy.

"Tidak, Aland. Aku lelah sekali, kita bisa makan di kantormu nanti. Saat ini aku ingin istirahat saja."

"Apa kamu tidak ingin langsung pulang ke rumah?" Aland menaikkan sebelah alisnya.

Maggy mendongak ke atas dan menggeleng. "Tidak! Aku ingin menghabiskan waktu bersamamu dulu." Dia kembali memeluk Aland.

"Lalu bagaimana dengan keluargamu, bukankah mereka semua sedang menunggumu?" Aland yang merasa tidak enak hati pada keluarga Maggy, biar bagaimanapun dia belum punya hak apa-apa atas Maggy. Namun kelihatannya, Maggy enggan untuk pulang ke rumah sekarang.

"Sayang, kamu tahu sendiri kan, jika aku pulang sekarang, yang ada kita tidak punya waktu untuk bersama. Karenanya, izinkan aku ke kantormu sebentar saja, ya. Beri aku waktumu, Aland." Rengek Maggy dengan suara yang manja.

"Mengapa harus meminta izin seperti itu, Sayang? Kamu boleh kemana saja, asalkan tidak jauh dariku. Boleh tidak pulang ke rumah, istirahatlah sepuasmu di sana. Aku yakin, tempat itu juga pasti sangat merindukan kehadiranmu," kata Aland tersenyum senang, karena jujur saja dia juga menginginkan hal yang sama dengan Maggy.

"Ah, Aland, kamu baik sekali." Maggy tertawa bahagia dan mendaratkan satu kecupan di pipi pria itu.

"Herry, kita segera ke kantor!"

"Baik, Tuan."

Jarak dari bandara ke perusahaan memang sedikit jauh, memakan waktu kurang lebih hingga dua jam. Maggy yang matanya sudah lelah sejak tadi, pun akhirnya tertidur pulas dalam dekapan Aland.

Sedari Maggy tidur, Aland menatap wajah itu dalam jarak yang begitu dekat, sudah lama wajah tersebut tidak menghiasi hari-harinya selama ini. Berbeda saat mereka melakukan Video Call, Aland tidak pernah puas jika hanya menatap Maggy di balik layar.

Padahal, Aland sendiri sudah sangat sering meminta Maggy untuk pulang. Namun nyatanya, Maggy tidak pernah mengindahkan permintaan Aland. Maggy tetap pada pendirian, akan pulang jika waktunya sudah tiba nanti. Untuk melepas kerinduan, mereka sering melakukan komunikasi kapan saja dan dimana saja.

Semenjak Maggy pergi, Aland hampir tidak pernah menolak telepon dari wanita itu. Meskipun Aland sedang bekerja, dia masih sempat-sempatnya memberikan waktu untuk Maggy berbicara dengannya. Aland tidak peduli jika dia akan kehilangan sesuatu karena keputusannya, asalkan bisa membuat Maggy senang dan tertawa, itu saja sudah cukup untuknya.

Nyonya Azzela sempat merasa cemas akan ketidakprofesional putranya dalam bekerja. Aland sering mengabaikan pekerjaannya karena Maggy, membuat beberapa klien protes pada Tuan Pram.

Pernah saat itu Nyonya Azzela menegur Maggy langsung.

"Maggy, usahakan saat kamu menelpon Aland, maka harus di jam-jam tertentu. Kamu kan tahu sendiri jika Aland sibuk bekerja di kantor, tante tidak ingin ada klien yang mengeluh soal itu. Kamu jangan mengganggunya saat dia sedang bekerja. Bukannya Tante melarang, tapi batasi obrolan kalian!"

Semenjak saat itu Maggy memang sudah jarang menghubungi Aland di siang hari, dia melakukan apa yang dikatakan oleh calon ibu mertuanya itu dengan sangat baik dan patuh.

Setelah itu, giliran Aland yang protes pada Maggy.

"Sayang, kenapa kamu sudah jarang sekali menelponku di siang hari? Apa kamu tidak ingin memberiku semangat lagi. Kamu tahu, aku jenuh dengan segala pekerjaan yang menumpuk. Setidaknya, mendengar suaramu mampu membuat aku terhibur." Protes Aland kala itu.

Namun seiring berjalannya waktu, Aland mampu menahan dirinya untuk tidak membuang waktu terlalu lama dengan Maggy. Sekarang, Aland tidak takut lagi jika sehari saja tidak berbicara dengan gadis pujaannya.

Aland membangunkan Maggy saat tiba di jalan masuk perusahaan. "Sayang, bangunlah! Kita sudah tiba."

Namun Maggy belum terjaga, matanya masih tertutup rapat. Aland sendiri jadi tidak tega untuk membangunkannya lagi.

"Herry, berhenti tepat di teras utama!"

"Baik, Tuan."

Setelah mobil berhenti, Aland memapah tubuh Maggy keluar. Berbarengan dengan karyawan yang juga ingin keluar. Melihat hal tersebut, mereka tercengang di tempat untuk beberapa saat dengan pikiran masing-masing yang berkelana entah kemana.

"Jangan ada yang bersuara!" ucap Aland dengan suara yang rendah saat dia tahu jika mereka akan menyapanya.

Mulut yang tadinya sudah terbuka lebar, kini kembali tertutup rapat. Mereka segera memberi jarak untuk Aland agar segera bisa masuk. Aland berlalu tanpa mempedulikan wajah-wajah berseri mereka.

"Ya, Tuhan. Bos romantis sekali," kata Sasya.

"Andaikan saja itu pacarku."

"Tuhan, sisakan satu pria untukku yang seperti itu."

Para gadis-gadis itu mulai berkhayal dan merasa baper. Untung saja Herry lewat dan berdeham untuk membuyarkan lamunan mereka. Menyadari itu, mereka semua kembali masuk ke dalam dengan wajah yang tersipu malu.

Kemudian Herry mengirim pesan pada Zaya setelah Aland masuk. "Tuan Muda dan Nona Maggy sedang menuju ke atas."

"Oke!" balas Zaya dengan cepat.

Setelah menerima pesan tersebut, Zaya langsung keluar dan berdiri di dekat pintu. Meskipun di luar sana sudah ada dua pengawal, namun Zaya tidak ingin melewatkan apa yang seharusnya ia kerjakan. Begitu melihat kedatangan Aland, Zaya langsung menyambutnya.

"Selamat siang, Bos!" Zaya menatap sejenak ke arah Maggy yang berada dalam gendongan Aland, lantas dia pun mengurungkan niat untuk menyapa gadis yang sedang tidur tersebut.

"Tolong buka pintunya!" pinta Aland.

"Baik, Bos!" Zaya segera membuka pintu. "Silakan masuk, Bos." Setelah itu pintu kembali ditutup dan dia turun ke bawah.

Aland meletakkan tubuh Maggy dengan hati-hati, agar gadis itu tidak terjaga. Setelah itu, dia menatap wajah Maggy sedalam dan sepuas mungkin.

"Katanya ingin menghabiskan waktu bersamaku, nyatanya kamu malah tidur," gumam Aland tersenyum sambil membelai kepala Maggy.

Free reading for new users
Scan code to download app
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeAdd