Benalu Calon Menantuku

2400 Words

"Zaya, bagaimana pendapatmu tentang tempat ini?" tanya Aland yang saat ini sedang berdiri bersama seorang wanita di lantai 5 sebuah hotel, tempat yang akan diselenggarakan pesta pertunangannya nanti. Pria itu mengedarkan pandangannya keseluruh penjuru.

"Meurut saya ini sangat bagus, Bos." Zaya menjawab dengan senyuman tulus.

"Benarkah?" Aland terkesan senang dengan pendapat Sekretarisnya.

"Benar sekali. Dan ... apa saya boleh memberi saran?"

Aland berpaling dan menatap Zaya dengan bola mata yang berputar. "Kenapa tidak. Katakan saja apa saranmu untuk ini."

Zaya berjalan beberapa langkah ke kiri dan berhenti di sudut ruangan.

"Kita bisa menambah beberapa perabotan yang setara dengan warna dindingnya di sini." Kemudian Zaya berjalan ke tengah-tengah, "dan di sini, kita bisa menambahkan lampu-lampu atau apa saja yang terang. Saya yakin, tempat ini akan terkesan lebih mewah lagi, Bos."

Aland berpikir sejenak dan menimbang ide Zaya secara matang.

"Jika begitu lakukan saja. Apa yang menurutmu bagus dan tepat, maka jangan ragu. Aku percayakan ini semua padamu, Zaya."

"Baik, Bos."

Aland Dirga - putra semata wayang dari pasangan Tuan Pramuda Dirga dan Nyonya Azzela Nagaswara. Di usianya yang masih muda, Aland sudah menjabat sebagai Presdir Utama di salah satu perusahaan terbesar di Indonesia, yaitu PT. Maha Karya. Sebuah perusahaan besar yang bergerak di bidang pembangunan hotel, apartemen, dan perumahan mewah juga berkelas.

Karena perusahaannya cukup terkenal dan maju pesat, banyak orang yang berlomba untuk bisa bekerja di sana. Terutama para wanita muda yang saat itu ingin menjadi Sekretaris pribadi dari sang CEO.

Mazaya Anastasyia adalah salah satu dari sekian banyak wanita waktu itu, dengan kemampuan yang dimiliki olehnya, dia mampu menyaingi banyak pesaing untuk mendapatkan posisi yang diimpikan oleh banyak orang tersebut.

Setelah puas melihat tempat tersebut dan dirasa cocok, Aland pun kembali turun.

"Bos, ada panggilan untuk anda," kata Zaya sambil menyodorkan ponsel ke hadapan Aland.

"Siapa?"

"Nona Maggy."

Mendengar nama tersebut, Aland berhenti dan tersenyum senang. Setelah menerima ponsel Zaya, Aland kembali berjalan sambil bicara.

"Iya sayang, aku baru saja selesai memilih tempat untuk acara kita."

[Benarkah? Dimana? Seperti apa tempatnya? Apa itu bagus?]

Aland tersenyum mendengar begitu banyak pertanyaan dari kekasihnya. "Kenapa pertanyaanmu banyak sekali, Sayang? Apa yang harus aku jawab duluan?" Aland terkekeh gemes.

[Jawab saja semuanya.]

"Baiklah, untuk semua pertanyaanmu, aku jawab dengan satu kalimat. Tempat itu sempurna."

[Benarkah? Waw ... aku jadi tidak sabar untuk melihatnya.] Maggy berteriak girang seketika.

"Bukan hanya melihat, tapi kita akan berada di sana nanti."

[Aku akan menanti saat-saat seperti itu.]

"Aku pun begitu. Pulanglah segera, aku sudah sangat merindukanmu."

[Miss you to.]

Setelah panggilan terputus, Aland mengembalikan ponselnya pada Zaya. Lalu dia berjalan keluar dari hotel tersebut dengan gagahnya, kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku celana. Di belakang, ada 3 orang pria yang selalu setia mengikutinya dan juga Zaya yang selalu berada dekat dengannya.

Beberapa wanita tidak mengalihkan perhatian ke arah lain saat Aland berjalan seperti seorang model, pesonanya mampu menghipnotis semua mata kaum wanita yang menatapnya. Apalagi jika Aland melemparkan senyum pada mereka, namun sayangnya saat ini Aland sedang tidak tersenyum.

Semua masih mematung di tempatnya dengan menatap pesona sang CEO yang semakin jauh, wajah tampan yang dimiliki pria itu mampu membuat banyak gadis berlomba untuk memilikinya. Namun, sayang seribu sayang, Aland sendiri sudah memiliki seorang kekasih yang saat ini sedang berada di Australia.

Gadis cantik dan beruntung itu bernama Maggy, seorang gadis berwajah campuran Cina dan Indonesia. Saat ini Maggy sedang berada di Australia untuk menyelesaikan pendidikannya. Menurut kabar yang beredar, dalam tahun ini Maggy akan kembali ke Indonesia. Namun tidak ada yang tahu pasti kapan gadis itu akan mendarat ke tanah air. Setelah Maggy kembali, mereka berdua akan segera bertunangan.

Aland memasuki sebuah mobil mewah yang dikendarai oleh supir pribadinya - Herry.

"Apa jadwal selanjutnya?" tanya Aland pada Zaya yang baru saja masuk dan duduk di depan kemudi, di samping Herry.

"Makan siang bersama, Nyonya Besar di rumah anda, Bos," jawab Zaya.

Setiap hari, Zaya begitu rutin mengatur jadwal harian Aland. Mulai dari pekerjaan kantor, hingga kegiatan lainnya. Tidak hanya melayani Aland, namun juga mamanya, lebih tepatnya keluarga Aland. Tidak jarang, Nyonya Azzela selalu mengandalkan Zaya dalam urusan apapun, jika gadis itu tidak banyak tugas di kantor.

Bagi Nyonya Azzela sendiri, Zaya sudah seperti bagian dari keluarganya. Tidak pernah sekalipun Nyonya Azzela menganggap dan memperlakukan Zaya seperti seorang gadis pekerja untuknya. Itu semua membuat Zaya nyaman dan merasa beruntung karena berada di tengah-tengah keluarga yang sangat mengerti dirinya.

Di rumah mewah keluarga Aland, Nyonya Azzela sangat antusias untuk menyambut kedatangan Nyonya Vanesha - sahabatnya sekaligus mama dari Maggy.

"Tolong, jamuan makannya di tata serapi mungkin. Saya tidak ingin ada kesalahan sedikit pun!" Nyonya Azzela berkata pada semua pelayan dengan suara yang tegas.

"Baik, Nyonya!" jawab mereka kompak.

Di rumahnya, Nyonya Azzela mempunyai banyak pelayan. Setiap dari mereka mempunyai tugas yang berbeda.

Ini adalah kunjungan pertama Nyonya Vanesha semenjak Maggy pergi, karena kesibukan dan aktivitasnya yang begitu padat, membuat dia jarang bisa bertemu dengan Nyonya Azzela.

5 menit kemudian, tamu yang ditunggu telah tiba. Nyonya Azzela segera menemui calon besannya di depan pintu dengan senyum yang ramah.

"Selamat siang, Azzel!" sapa Nyonya Vanesha. Mereka berdua langsung memeluk satu sama lain dan mencium pipi kiri kanan.

"Selamat siang, Vane. Bagaimana kabarmu?"

"Tentu saja aku sangat baik, Azzel." Nyonya Vanesha tersenyum.

"Lalu, apa kabar menantuku?"

"Dia juga baik-baik saja. Ayo, masuk. Kita ngobrol dulu sambil menunggu Aland pulang."

"Baiklah." Mereka duduk di ruang tamu.

Nyonya Azzela dan Nyonya Vanesha adalah dua sahabat akrab sejak dulu, keduanya juga sama-sama dari keluarga kaya dan terpandang. Tak heran, jika jalinan kasih antara Aland dan Maggy akan sama-sama menguntungkan untuk bisnis keluarga mereka kelak.

Kabarnya, dulu memang Aland dan Maggy sempat ingin di jodohkan, tapi sebelum itu terjadi, ternyata mereka berdua sudah pernah bertemu dan saling mengenal. Jadi sebelum kedua keluarga itu menyampaikan maksud mereka, Aland sudah terlebih dahulu menyatakan cinta pada Maggy dan memperkenalkan gadis pujaan hatinya pada keluarga.

Tidak membutuhkan waktu lama untuk keduanya bisa saling mengenal antara satu sama lain. Bagi sebagian orang, Aland dan Maggy adalah pasangan yang sangat serasi. Ditambah lagi dengan kehidupan Maggy yang serba glamor dan selalu tampil modis, gadis itu berhak berada di samping Aland.

10 menit kemudian Aland juga sudah tiba di rumah.

"Bos, saya akan kembali ke kantor sekarang," ucap Zaya sebelum Aland memasuki rumah.

"Kenapa?" Aland berbalik menatap Zaya. "Kenapa kau tidak ikut masuk? Bagaimana jika nanti mama menanyakanmu, aku harus jawab apa?"

Zaya menghela nafas sejenak, berpikir satu alasan saja agar dia bisa segera pergi dari rumah tersebut. Namun, sepertinya Zaya tidak punya alasan yang tepat untuk itu. Jika Nyonya Azzela mengetahui keberadaannya di sini dan tidak ikut masuk bersama Aland, maka wanita itu akan marah.

"Ayolah, Zaya. Ikutlah masuk denganku, kamu tidak punya alasan untuk menolak ini," bujuk Aland.

"Baiklah, Bos." Zaya akhirnya harus mematuhi.

"Kamu memang penurut sekali," ujar Aland dengan suara yang rendah.

"Apa anda mengatakan sesuatu, Bos?" Zaya bertanya seakan dia tidak mendengar apa yang diucapkan Aland barusan.

"Tidak ada, Zaya! Aku hanya merasa sangat lapar saja. Yah… aku lapar," kilah Aland tersenyum ringan sambil berlalu dari sana.

Zaya mengernyitkan dahi dan melangkah mengikuti Aland dengan berat hati. Bukan karena apa, tapi Zaya hanya tidak ingin bertemu dengan seseorang di dalam sana. Lebih tepatnya Zaya tidak ingin bertemu dengan Nyonya Vanesha yang sampai sekarang tidak menaruh suka padanya.

"Mama!" panggil Aland setengah berteriak setelah masuk ke dalam rumah.

Nyonya Azzela dan Nyonya Vanesha yang saat itu sedang mengobrol, pun langsung berdiri begitu melihat Aland tiba. Tidak lupa, Zaya tersenyum dan juga menyapa mereka berdua.

"Selamat siang, Nyonya. Selamat siang Tante."

Nyonya Vanesha langsung membuang muka tidak suka melihat Zaya, apalagi dia muncul bersama Aland.

"Dasar benalu! Selalu saja nempel pada calon menantuku!" umpat Nyonya Vanesha dalam hati.

Zaya mengerti raut wajah Nyonya Vanesha. Namun, dia tidak ingin ambil pusing soal itu, karena semua orang juga tahu bagaimana hubungan mereka sejauh ini.

"Siang, Zaya!" balas Nyonya Azzela tersenyum, lalu dia menghampiri putranya. "Kenapa kau lama sekali, Aland? Tidak enak membiarkan Mama Maggy menunggumu."

"Maaf, Ma, aku dan Zaya baru saja selesai memeriksa hotel yang kemarin," kata Aland dengan suara yang lesu.

"Tapi lain kali, Mama tidak mau kamu telat lagi seperti ini!"

"Tolong, Mama, mengertilah! Aku sangat sibuk," keluh Aland. "Maafkan aku Tante, gara-gara aku, Tante harus menunggu lama." Aland jadi tidak enak hati pada Nyonya Vanesha.

"Tidak apa-apa, Aland, tentu saja Tante sangat mengerti," sahut Nyonya Vanesha tersenyum.

"Ya sudah, ayo kita langsung makan siang," ajak Nyonya Azzela. "Ayo, Zaya!"

"Baik, Nyonya."

Tiba di meja makan, Nyonya Vanesha terkejut saat melihat Zaya duduk di sebelah Aland. Lebih tepatnya, Zaya berada di tengah antara Aland dan Nyonya Azzela.

"Apa ini? Bagaimana bisa mereka memperlakukan Sekretaris itu layaknya keluarga?" batin Nyonya Vanesha kesal.

"Kapan Maggy akan pulang, Vane?" Nyonya Azzela membuka suara saat makan sedang berlangsung.

Nyonya Vanesha sedikit terkejut mendengar suara sahabatnya, karena sejak tadi dirinya memperhatikan Zaya.

"Oh, secepatnya, Azzel. Seperti yang kita tahu, jika Maggy akan pulang dalam tahun ini."

"Bagus sekali. Aku sudah tidak sabar ingin melihat putraku dan putrimu bersanding." Nyonya Azzela mengekspresikan senyuman yang mengembang.

"Ma, kita sudah sepakat untuk melakukan pertunangan terlebih dahulu," protes Aland langsung, mengingatkan Nyonya Azzela pada kesepakatan awal mereka dulu.

"Iya, Mama, tahu itu ... dan tidak lama setelah itu, kalian harus segera menikah. Mama, tidak mau sendirian lagi di rumah. Jadi menikahlah dan berikan Mama cucu yang banyak!" tegas Nyonya Azzela yang disertai dengan senyuman.

Nyonya Azzela sudah sangat ingin menimang cucu, apalagi mengingat hanya Aland seorang anaknya. Berbeda dengan keluarga Maggy, Nyonya Vanesha memiliki banyak anak. Jadi sudah pasti, Nyonya Vanesha dan Maggy tidak terlalu buru-buru.

Nyonya Vanesha lebih memfokuskan Maggy dalam hal pekerjaan, karena siapapun nanti yang ditunjuk sebagai pengganti ayahnya, maka anak-anaknya harus sudah siap. Maka dari itu, rata-rata dari anak mereka diberikan pendidikan yang tinggi sampai ke luar Negeri.

"Iya, Ma. Kita bicarakan ini setelah Maggy sampai di Indonesia nanti," kata Aland.

"Iya, itu lebih baik, Azzel. Biarkan mereka berdua yang memutuskan." Nyonya Vanesha ikut menimpali.

"Ya, terserah mereka saja." Nyonya Azzela akhirnya menyerah, percuma saja berdebat sekarang.

Nyonya Azzela sendiri sudah sangat sering mendesak Aland untuk segera menikah, bertunangan itu tidak terlalu penting menurutnya.

"Aland, kenapa kalian tidak langsung menikah saja setelah Maggy kembali dari Australia?" tanya Nyonya Azzela waktu itu.

"Mama, kan tahu sendiri, jika Maggy tidak ingin menikah sebelum dia sukses."

Dulu Maggy memang pernah mengatakan hal demikian, dia tidak ingin buru-buru menikah jika dia belum sukses dalam pekerjaannya. Maggy ingin menjadi seorang wanita karir sebelum dia menjadi seorang istri, karenanya dia jauh-jauh menempuh pendidikan hingga keluar Negeri. Pun keluarganya mendesak dirinya untuk melakukan hal itu. Karenanya, sebelum dia pergi sudah terlebih dulu membuat kesepakatan dengan Aland.

"Tapi, Aland … dia masih bisa bekerja setelah kalian menikah nanti. Mama juga dulunya seperti itu."

"Ma, Maggy itu beda dengan, Mama. Dia itu susah di atur, aku juga tidak ingin terlalu memaksanya, biarkan Maggy bahagia dengan keinginannya." Aland mencoba untuk memberikan pengertian pada Nyonya Azzela.

"Ya ampun, Aland, kamu selalu saja kalah dengan, Maggy. Harusnya, sebagai seorang pria kamu lebih tegas daripada dia. Jangan terlalu memanjakannya!" protes Nyonya Azzela. "Bagaimana jika kalian sudah menikah nanti, apa kamu mau menurut terus padanya sepanjang waktu!?"

Nyonya Azzela sering mengatakan ini pada Aland, dia sangat tidak suka jika Maggy banyak mengatur Aland dalam hal hubungan mereka.

"Kamu terlalu memanjakan Maggy, Aland. Mama takut suatu saat nanti dia akan mengecewakanmu."

"Mengecewakan bagaimana maksud, Mama? Mama kan tahu sendiri Maggy itu sangat mencintai aku," tanya Aland tidak mengerti.

Aland juga sebenarnya sedikit ragu pada mamanya, dia merasa seakan Nyonya Azzela seperti tidak benar-benar menyukai hubungan mereka.

"Entahlah, Aland. Mama hanya cemas tentang Maggy yang berada di luar Negeri." Raut wajah Nyonya Azzela berubah sendu.

Aland menggenggam jemari mamanya, "Ma, aku yakin Maggy akan menjaga hatinya untukku di sana. Jadi, Mama jangan khawatir, ya!?" Aland meyakinkan dengan baik.

"Ya, semoga saja seperti itu."

"Ma, kenapa Mama masih belum yakin juga. Aku saja bisa menjaga diri dari wanita lain, namun kenapa tidak dengan, Maggy?"

"Aland, Maggy itu adalah seorang wanita. Dia hidup sendirian di luar Negeri, kamu sangat tahu kan bagaimana kebebasan di sana?" Nyonya Azzela menekankan setiap kalimatnya.

"Ma, jika itu yang Mama khawatirkan, maka Mama salah besar. Maggy bukanlah wanita seperti itu, aku sangat tahu bagaimana dia."

Ya, Aland sangat yakin pada pujaan hatinya itu. Karena memang, selama ini mereka berdua tidak pernah melakukan apapun selain hanya mengecup dahi dan saling merangkul. Jadi tidak mungkin jika Maggy akan sebebas itu dalam bergaul di luar sana, dengan pacarnya sendiri saja Maggy tidak ingin melakukan apa-apa, bagaimana mungkin dia mau melakukannya dengan orang lain. Begitulah yang ada dalam pikiran Aland, jadi dia tidak merasa cemas sedikit pun.

Berbeda dengan Nyonya Azzela, wanita satu anak itu sangat mencemaskan Maggy di Australia. Sepandai-pandai wanita menjaga hati dan menjaga diri dari pria lain, lama-lama bila wanita itu tidak punya benteng, maka akan jatuh juga. Apalagi jika mengingat belum ada ikatan apa-apa di antara Maggy dan Aland, jadi sangat besar kemungkinan jika Maggy akan bertindak di luar batas selama di sana.

Sejak tadi, Zaya tidak bisa fokus pada makanannya. Dia merasa risih saat bersitatap dengan Nyonya Vanesha hingga beberapa kali. Namun dia berusaha untuk tetap bersikap tenang seperti biasa, tidak ingin ada yang terusik dengan ketidaknyamanannya.

Setelah makan siang yang begitu membosankan untuk Nyonya Vanesha karena kehadiran Zaya, mereka berbincang-bincang sedikit di ruang tamu sebelum wanita itu pamit pulang. Kali ini tidak ada yang membahas soal Maggy atau pun pernikahan, melainkan mereka berempat terlibat dalam obrolan bisnis. Tidak heran, karena Nyonya Azzela juga merupakan wanita karir, sama seperti Nyonya Vanesha.

Bedanya, Nyonya Azzela lebih mengutamakan dirinya sebagai ibu rumah tangga dibandingkan dengan pekerjaannya sebagai wanita karir. Menurut Nyonya Azzela, sudah saatnya dia istirahat dan memberikan tanggung jawabnya pada Aland.

Hingga sore hari, Nyonya Vanesha merasa ini sudah waktunya untuk pulang.

"Baiklah, Azzel, aku akan kembali sekarang." Nyonya Vanesha mulai pamit, wanita itu langsung bangun yang kemudian diikuti oleh yang lain.

"Hati-hati, Vane, dan sering-seringlah kemari." Nyonya Azzela mencium pipi kiri dan kanan Nyonya Vanesha.

"Iya, kau juga, Azzel. Sesekali kunjungilah aku." Nyonya Vanesha tersenyum. "Aland Tante balik dulu, ya."

"Iya, Tante hati-hati."

Mereka bertiga mengantar Nyonya Vanesha hingga ke mobilnya. Setelah Nyonya Vanesha pergi, Nyonya Azzela juga melarang Zaya untuk pulang.

"Ayo, Zaya, temani saya sebelum kamu pulang!" Nyonya Azzela segera mengapit tangan Zaya sebelum gadis itu pergi.

"Baik, Nyonya," jawab Zaya yang tidak bisa menolak karena dia sudah terperangkap. Padahal dirinya sudah sangat lelah dan ingin sekali bisa segera pulang untuk beristirahat, namun apalah daya saat Nyonya Besar yang meminta dirinya.

Free reading for new users
Scan code to download app
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD