Malam itu, setelah Aluna membuka pintu dan mendapati Kaiden berdiri diam di depan kamarnya, tidak ada percakapan panjang yang terjadi. Tidak ada penjelasan. Tidak ada permintaan maaf. Mereka hanya saling menatap dalam diam yang terasa terlalu penuh. Kaiden berdiri dengan satu tangan masuk ke saku celana, masih mengenakan kemeja kerja yang lengannya digulung sampai siku. Wajahnya terlihat lelah, tapi matanya tetap tajam seperti biasa. Sementara Aluna berdiri di ambang pintu sambil memegangi gagang pintu erat-erat, seolah itu satu-satunya hal yang membuatnya tetap tenang. “Ngapain di sini?” tanyanya lagi pelan. Kaiden mengembuskan napas pendek sebelum akhirnya menjawab, “Mau lihat kamu udah makan atau belum.” Jawaban itu terlalu sederhana. Dan justru karena itulah d**a Aluna terasa m

