Beberapa hari kemudian, sebuah proposal kerja sama mendarat di meja Kaiden. Tumpukan dokumen itu sebenarnya tidak berbeda dari puluhan proposal lain yang setiap minggu masuk ke perusahaan. Sebagian besar hanya akan dibaca sekilas sebelum diteruskan ke tim analisis. Namun kali ini berbeda. Karena nama perusahaan yang tertera di halaman depan terasa tidak asing. Kaiden membuka berkas itu perlahan. Dan seperti yang sudah ia duga, beberapa menit kemudian sekretarisnya menghubungi. "Pak, perwakilan perusahaan sudah datang." Kaiden menutup map tipis itu. "Persilakan masuk." Pintu terbuka. Nada melangkah masuk dengan senyum yang sudah sangat dikenalnya. Senyum yang dulu pernah membuatnya rela mengorbankan banyak hal. Namun kini hanya terasa seperti bagian dari masa lalu. "Terima kasih

