Felisha bangun dengan perasaan… kacau tapi hangat. Ia memeluk bantal terlalu lama, masih bisa merasakan detik singkat ketika ia mengecup Grari semalam. Dan semakin ia mengingatnya, semakin mukanya merah panas. Saat keluar kamar, Grari juga keluar bersamaan dari kamar sebelah. Mereka berhenti. Sama-sama kaku. Sama-sama tidak tahu harus menyapa bagaimana. “P… pagi,” ucap Grari duluan, suaranya lirih tapi bergetar kecil. Felisha mengangguk, tersenyum terlalu cepat. “Pagi…” Hening. Lima detik canggung. Sampai akhirnya Felisha bilang, “Kopi?” “Boleh,” jawab Grari buru-buru. Terlalu buru-buru. Bahkan ia hampir tersandung karpet. Di dapur, mereka membuat kopi berdampingan, tidak saling menatap lebih dari satu detik. Setiap kali tangan mereka hampir bersentuhan, keduanya langsung pura-pu

