Felisha sedang duduk di meja rias, merapikan alisnya sedikit. Ia sudah memakai pakaian rumah dan juga mengeringkan rambutnya. Grari, yang baru selesai mandi dan sudah mengenakan kemeja biru gelap, melangkah keluar dari kamar mandi sambil mengeringkan rambut. Ia tampak berbeda hari ini—lebih lembut, lebih memperhatikan, seperti seseorang yang mulai berani menunjukkan sisi yang selama ini ia tutupi. Felisha tidak menatap langsung. Ia mengamati Grari melalui pantulan cermin. Laki-laki itu menghentikan langkahnya tepat di belakangnya. “Fel?” panggilnya pelan. Felisha merapikan poni, pura-pura sibuk. “Ya?” “Kamu ada jadwal resmi hari ini?” Pertanyaan itu terdengar sederhana. Tapi intonasinya berbeda. Bukan protokoler. Bukan gubernur. Tapi seorang suami yang ingin tahu. Felisha mena

