Bab 19

1095 Words

“Udara laut selalu menyenangkan.” Suara Felisha pelan, nyaris tenggelam oleh desiran angin. Ia berdiri di balkon villa dengan mug kopi hangat di tangan, matanya menatap garis horizon yang perlahan berubah warna dari abu keemasan. “Menyenangkan gimana?” Grari muncul dari balik pintu, rambutnya masih acak, mata sedikit sembab karena kurang tidur. Ia memakai kaus putih polos dan celana linen abu, tampak lebih manusia ketimbang pejabat yang biasanya dikawal kamera. “Lembut, tapi penuh rahasia,” jawab Felisha sambil tersenyum tipis. Grari mengambil mug yang satu lagi dari meja dan berdiri di sebelahnya. “Kamu ngomong kayak puisi.” “Dan kamu ngomong kayak orang yang belum bangun.” Grari meneguk kopinya, lalu melirik sekilas. “Kamu bikin ini sendiri?” “Hmm.” “Pahit banget.” Felisha me

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD