Gerimis menggantung di antara ranting pohon flamboyan, jalanan basah, dan udara membawa aroma hujan bercampur kopi.
Sebuah restoran tua di kawasan Ciumbuleuit tampak lengang — bangunannya bergaya kolonial, jendela tinggi, dindingnya berwarna putih gading.
Tempat itu sudah disewa penuh oleh tim protokol gubernur sejak pagi. Tak ada tamu lain yang diizinkan masuk.
Di dalamnya, meja panjang dengan taplak linen abu muda sudah tertata rapi. Di ujung ruangan, dua orang dari partai dan satu ajudan duduk menunggu. Di tengah, tumpukan dokumen tebal — map berwarna krem bertuliskan “Private Coordination Meeting – Confidential”.
Pukul 16.30.
Pintu restoran terbuka.
Felisha Jamil masuk, disambut udara dingin dari pendingin ruangan dan aroma kayu tua yang lembap.
Ia mengenakan blazer putih gading, blouse satin lembut, dan celana panjang warna beige. Rambut hitamnya disanggul longgar, menyisakan beberapa helai yang jatuh di pipi.
Wajahnya masih lelah, tapi kali ini sudah tertata — riasan tipis menutupi bekas tangis yang belum sepenuhnya pudar.
Di ujung ruangan, Grari Sukma Halan berdiri.
Kemeja biru tua digulung di lengan, jas digantung di sandaran kursi.
Felisha menatapnya sebentar, lalu menarik napas pelan.
Ia tidak siap — tidak untuk pertemuan ini, tidak untuk melihatnya lagi begitu cepat.
Namun protokol tidak mengenal waktu penyembuhan.
***
Ajudan Grari, Radit, berdiri dan memberi hormat kecil. “Selamat sore, Pak, Bu. Pertemuan ini akan berlangsung singkat. Hanya pembahasan awal untuk skenario publik.”
Dua orang di sampingnya — pria berjas hitam dan perempuan paruh baya dengan tablet — segera memperkenalkan diri.
“Saya Irfan Maulana, tim komunikasi partai,” ujar pria itu dengan nada formal.
“Dan saya Bu Lestari, dari biro protokol keluarga pejabat,” sambung perempuan itu dengan senyum lemah yang terasa lebih politis daripada ramah.
Felisha duduk di kursi seberang Grari. Jarak mereka hanya dipisahkan oleh tumpukan map dan dua cangkir teh hangat.
Suasana hening beberapa detik, sampai Irfan mulai berbicara sambil membuka map besar.
“Baik, kita mulai. Tujuan pertemuan ini untuk menyelaraskan narasi dan timeline publik. Sesuai arahan Bapak Haris dan tim gubernur, pernikahan akan diumumkan dalam dua minggu ke depan. Proses administrasi akan dipersiapkan dalam satu minggu pertama.”
Felisha menatapnya datar. “Narasi?”
Irfan mengangguk. “Ya, Bu. Maksudnya—cerita yang kita sajikan ke publik. Bagaimana hubungan ini dimulai, bagaimana kalian bisa saling mengenal, hingga akhirnya memutuskan menikah.”
Felisha menahan tawa kecil yang kering. “Jadi… kita menulis ulang kenyataan?”
Grari menatapnya sejenak, lalu berkata pelan, “Kita tidak menulis ulang. Kita menyederhanakan.”
Kalimat itu membuat Felisha memalingkan wajah. Ia menatap ke luar jendela, di mana hujan mulai turun perlahan, menciptakan garis-garis halus di kaca.
***
Bu Lestari kemudian membuka map kedua, menyerahkan masing-masing satu bundel dokumen ke hadapan mereka berdua.
“Ini data pribadi lengkap Bapak dan Ibu — latar belakang, kebiasaan, tanggal-tanggal penting, hobi, makanan favorit, preferensi warna, hingga riwayat kesehatan ringan. Tolong dipelajari agar narasinya terasa alami.”
Felisha membuka map itu setengah hati. Di dalamnya, ada halaman berjudul “Profil Publik & Pribadi – Gubernur Jawa Barat.”
Ia membaca sekilas:
“Grari Sukma Halan. Lahir 19 Maret. 182 cm. Hobi membaca sejarah dan berkuda. Makanan favorit: sop buntut. Tidak suka buah naga.”
Ia menatap tulisan itu lama. “Buah naga?” tanyanya tanpa sadar.
Grari yang sedang membaca map miliknya menoleh. “Ya. Teksturnya aneh.”
Felisha menatapnya datar. “Itu informasi penting banget, ya?”
“Untuk menjaga konsistensi,” jawab Irfan cepat. “Kalau nanti wartawan nanya soal kesamaan selera, bisa dijawab bahwa Ibu Felisha suka sop buntut juga. Akan lebih harmonis di media.”
Felisha menutup mapnya pelan, lalu menatap pria itu dengan senyum tipis. “Boleh gak kalau saya suka sesuatu karena saya suka, bukan karena cocok di foto?”
Irfan tampak kikuk. “Tentu, Bu, tapi—”
“Cukup, Irfan,” potong Grari tenang. “Saya yang akan tangani sisi personalnya.”
Felisha menatapnya sejenak. Suara itu… tegas tapi menenangkan, seperti seseorang yang terbiasa mengendalikan badai.
Namun justru itulah yang membuatnya semakin frustrasi.
***
Beberapa menit berlalu dengan pembahasan detail:
Tanggal prosesi, daftar tamu politik, lokasi akad, hingga rencana foto pra-pernikahan yang akan dijadikan bukti “hubungan lama”.
Setiap kali nama “pemberkatan” atau “sesi wawancara publik” disebut, Felisha ingin berdiri dan pergi. Tapi ia menahan diri.
Ia memperhatikan tangan Grari yang sesekali mengetuk meja — ritme kecil tanda pikirannya berjalan cepat.
Lalu tanpa sengaja, saat ia menunduk mengambil pulpen yang jatuh, ujung jari mereka bersentuhan.
Sentuhan itu singkat.
Tapi cukup untuk membuat Felisha berhenti bernapas sepersekian detik.
Ia mendongak, dan mendapati mata Grari sudah lebih dulu menatapnya.
Tatapan itu bukan tatapan seorang gubernur.
Bukan pula tatapan seorang lelaki yang sedang memainkan peran.
Tatapan itu tenang, tapi ada sesuatu di sana — seperti rasa ingin tahu yang tidak berani tumbuh.
Mereka sama-sama menarik tangan cepat-cepat.
“Maaf,” ucap Felisha lirih.
Grari menunduk sedikit. “Tidak apa.”
Namun Radit di ujung ruangan pura-pura sibuk melihat catatan, menahan senyum tipis yang tak lolos dari mata Bu Lestari.
***
Ketegangan baru muncul ketika Irfan mulai membaca draf pernyataan publik.
Ia menatap layar tabletnya dan mulai membacakan:
“Hubungan antara Bapak Grari dan Ibu Felisha sudah berlangsung sejak dua tahun lalu, dimulai dari kerja sama sosial yang dilakukan oleh F&S Atelier dengan Dinas Koperasi Jawa Barat…”
“Stop,” potong Felisha.
Semua kepala menoleh padanya.
Ia menatap Irfan tajam. “Kerja sama sosial apa? Itu gak pernah ada. Aku bahkan belum pernah ketemu dia sebelum kejadian di hotel itu.”
Bu Lestari mencoba menengahi. “Itu hanya narasi latar belakang, Bu, bukan kebohongan. Kita perlu alasan agar hubungan ini masuk akal.”
Felisha memejamkan mata, menahan diri. “Aku bukan orang politik, Bu. Aku gak tahu gimana cara kalian memoles kebenaran, tapi jangan paksa aku ngomong sesuatu yang gak pernah terjadi.”
Ruangan hening.
Semua menunggu reaksi Grari.
Pria itu menatap Felisha, lalu berkata pelan, “Kalau kamu gak nyaman, kita ubah narasinya. Aku gak mau kamu merasa dijebak.”
Nada suaranya datar tapi tulus.
Felisha menatapnya, antara bingung dan marah.
“Kenapa kamu begitu tenang?” suaranya pecah. “Semua ini tentang kamu, tentang kariermu. Dan aku cuma… bagian dari solusi?”
“Bukan,” jawabnya. “Kamu bagian dari masalah. Tapi juga bagian dari penyelesaiannya.”
Felisha terdiam.
Itu sejujurnya terlalu jujur. Dan entah kenapa, justru kalimat itu membuat hatinya sedikit tenang.
***
Pertemuan itu berakhir menjelang magrib.
Hujan berhenti, meninggalkan aroma tanah basah yang segar.
Para staf dan ajudan berkemas, menyimpan dokumen dalam map tebal.
Felisha berdiri, merapikan blazer-nya. “Kalau pertemuan seperti ini selalu sesak, aku gak yakin bisa bertahan sebulan,” gumamnya pelan.
Grari tersenyum samar. “Kamu bisa. Kamu terbiasa menghadapi orang yang mencoba mengaturmu, kan?”
Felisha menatapnya, separuh geli, separuh kesal. “Kamu ngatain aku keras kepala?”
“Sedikit,” jawabnya tenang.
Mereka berjalan keluar ruangan beriringan.
Radit masih di belakang, sibuk menelepon. Irfan dan Bu Lestari sudah turun lebih dulu.
Di depan pintu, angin sore menyambut mereka.
Felisha hendak mengenakan jasnya, tapi salah satu tali tersangkut di kancing tasnya. Ia berusaha menarik, tapi tidak berhasil.
Tanpa berkata apa-apa, Grari melangkah maju dan membantunya.
Tangan besar itu bergerak pelan, melepaskan tali jas dari tasnya. Gerakannya hati-hati, bahkan terlalu hati-hati.
Jarak mereka begitu dekat hingga Felisha bisa mencium aroma sabun dan kopi dari tubuhnya.
Saat pandangan mereka bertemu, waktu kembali terasa melambat.
Felisha menarik napas, cepat-cepat melangkah mundur. “Terima kasih,” katanya singkat.
Grari hanya mengangguk. “Hati-hati di jalan.”
Felisha berbalik menuju mobilnya, tiba tiba lengannya ditarik Grari. “Eh aku butuh nomor ponselmu.”
Felisha menoleh, dan Grari langsung melepaskan tangannya.
“081100880077” Grari segera mengetiknyq, lalu ponsel Felisha bergetar. “Itu nomorku.” Katanya sambil memasukan ponsel ke dalam celana.
Felisha mengangguk lalu kembali berjalan ke arah mobilnya dan Ia sempat menoleh sekali.
Grari berdiri di depan pintu restoran, cahaya oranye senja jatuh di wajahnya, memantulkan kilau lembut di matanya yang gelap.
Untuk sesaat, Felisha lupa kalau pria itu adalah sumber masalah terbesarnya.
Dan di dadanya, sesuatu berdenyut — bukan karena cinta, tapi karena bahaya dari seseorang yang mungkin terlalu mudah untuk disukai.