bc

Tentang Cinta Kita

book_age18+
32.5K
FOLLOW
229.4K
READ
drama
comedy
sweet
like
intro-logo
Blurb

Rasanya Cinta Rani pada laki laki sudah habis seiring kepergian Devan untuk selamanya. Yang tersisa kini hanyalah cinta kepada Owie dan Nino 2 lelaki kecilnya buah cintanya bersama Devan. Hanya untuk merekalah Rani menyerahkan hidupnya mulai saat ini, di usia yang tidak muda lagi 35 tahun. Ya, sejak setahun lalu Devan berpulang setelah mengalami kecelakaan pada saat bertugas keluar kota. Tidak ada pesan, tidak ada tanda tanda yang diberikan. Hancur perasaan Rani saat itu, hanya bisa menangis dan rasanya ingin berduka sepanjang hidupnya. Tetapi sekarang dia bisa menata hidupnya kembali, demi anak anaknya Yang mulai beranjak remaja. Kini hidupnya hanya bekerja, mengurus anak - anaknya dan berbahagia bertiga. Tidak ada orang lain.

"aku hanya minta sedikit tempat dihidupmu, untuk bisa membahagiakan mu dan anak-anak"

Dr. Aris Pratomo, SpBs

"Sepertinya Aku tidak membutuhkan kebahagiaan lain, lagi pula kamu masih punya kesempatan mencari yang lebih muda dan gak ada buntutnya"

Raninda primaranti

chap-preview
Free preview
Bahagia Itu Ya Kita.
Rani POV "Ma, nanti pulang basket aku pengin dibeliin sepatu basket yang baru dong. Udah nggak enak nih pakai yang ini. Kayaknya kaki aku cepat banget panjangnya," kata Owie, anak sulungku. "Hm ..." jawabku singkat. Mataku masih tertuju pada layar ponsel karena sedang membalas w******p salah satu klien. "Eh, tapi Mama ada uang nggak? Kalau belum ada, nanti-nanti aja deh, Ma. Ini sepatunya masih bagus juga." Aku yang sejak tadi sibuk mengetik akhirnya mendongak. Kutatap wajah Owie yang terlihat sungkan. "Kalau Aa’ memang butuh sepatu baru, pasti Mama belikan. Jangan khawatir. Mama ada uang, kok." Wajahnya langsung terlihat lega. "Yang nggak boleh itu kalau beli cuma karena iseng atau karena mau gaya-gayaan. Nah, itu baru Mama nggak mau belikan. Walaupun Mama punya uangnya, kita tetap harus hati-hati mempergunakannya. Sekolah kalian masih panjang dan butuh biaya besar. Aa’ sekarang baru kelas satu SMP, dua tahun lagi Nino masuk SMP. Jadi Mama harus pintar-pintar mengatur uang." Owie mengangguk paham. "Nino perlu sepatu basket baru juga?" tanyaku, kini beralih kepada anak bungsuku. Nino Mahendra. Anak yang selalu punya banyak pertanyaan, tapi paling gampang disuruh. Jangankan sama aku yang ibunya, sama aa'-nya saja dia menurut. Walaupun tentu saja, di balik sifat penurutnya itu, ada saja ulah usil yang bikin rumah kami ramai. "Sepatu bekas Aa' aja buat aku, Ma. Masih bagus banget. Kaki aku kan dua nomor lebih kecil dari Aa'. Paling sebentar lagi juga udah muat." Owie langsung menoleh kepada adiknya, lalu mengangkat tangan "Tos dulu." Nino menyambut telapak tangan aa’-nya. "Nanti Aa' cuci sepatunya. Nino bisa simpan dulu. Kardusnya juga masih Aa' simpan, kok." Keduanya lalu tos sekali lagi. Aku tersenyum melihat mereka. Ah... punya anak yang pengertian seperti ini membahagiakan sekali. Aku memang masih bekerja paruh waktu sebagai agen properti. Penghasilanku tidak tetap. Ada bulan ketika aku bisa closing satu atau bahkan beberapa properti, tetapi ada juga bulan yang berlalu begitu saja tanpa satu pun pemasukan. Untungnya, kami memang tidak hidup berlebihan. Rumah ada. Mobil juga ada. Dan sejak Papa mereka masih ada, semua kebutuhan kami sudah tercukupi. Devan tidak pernah melarangku bekerja, tetapi aku sendiri yang memilih bekerja paruh waktu karena ingin tetap punya banyak waktu untuk suami dan anak-anak. Penghasilanku lumayan. Sebagian bisa kutabung, sementara uang asuransi Devan yang kuterima setelah kepergiannya sengaja kusimpan untuk pendidikan anak-anak. Aku menikah dengan Devan ketika usiaku dua puluh satu tahun. Saat itu aku masih kuliah dan tinggal menunggu kelulusan. Devan sudah beberapa kali mengajakku menikah, sampai akhirnya dia benar-benar memberanikan diri datang kepada Papa dan meminta izin. Papa mengizinkan. Devan adalah pacar pertamaku. Kami sudah saling mengenal sejak SMA karena dia kakak kelasku. Tapi kami baru benar-benar dekat ketika aku kuliah tahun kedua. Awalnya cuma sahabatan. Lalu semakin sering bertemu, semakin sering ngobrol, semakin nyaman... sampai akhirnya kami sama-sama terbawa perasaan. Begitulah cinta kami dimulai. Ketika kami menikah, Devan sudah bekerja di salah satu perusahaan swasta. Beberapa tahun kemudian, saat dia diangkat menjadi manager, dia mulai berani mengajak aku membangun rumah tangga dengan lebih serius. Kami benar-benar memulai semuanya dari nol. Dulu kami hanya menyewa apartemen studio. Setelah Owie lahir, kami mulai mencicil rumah di sebuah perumahan kelas menengah. Ketika Nino masuk TK, keadaan kami mulai lebih baik sehingga kami bisa pindah ke rumah yang lebih besar dan membeli mobil yang lebih nyaman. Kami tidak pernah hidup mewah, tapi lebih dari cukup. Anak-anak tumbuh sehat, pintar, penurut, dan sayang kepada orangtuanya. Rasanya, apa lagi yang harus kami minta? Aku pikir hidup akan terus seperti itu. Sampai akhirnya aku sadar, tidak semua yang kita pikir akan berlangsung selamanya memang benar-benar ditakdirkan untuk tinggal. Tiga belas tahun. Hanya tiga belas tahun kesempatan yang Allah berikan kepadaku dan Devan untuk bersama sebagai suami istri. Dan sekarang, aku dan anak-anak melanjutkan hidup itu bertiga. Ya... hanya bertiga. "Mama kok melamun?" Suara Owie membuyarkan lamunanku. "Makan dulu sarapannya, Ma. Nanti Mama lapar karena nggak sarapan. Mama kan harus nungguin aku sama Nino latihan basket." Aku tersenyum kecil. "Eh, iya juga." Aku mengambil sendok, lalu mulai menyentuh makanan yang sejak tadi hampir tidak kusentuh. "Mama tadi lagi mikirin gimana mengatur waktu antara nganter klien survei sama nganter kalian latihan." Aku berbohong. Owie hanya mengangguk, tetapi Nino malah menyipitkan matanya. Anak itu memang terlalu peka untuk ukuran anak seusianya. "Mama lagi kangen Papa, yaaa?" Aku langsung menoleh kepadanya. "Nah, kan. Selain banyak tanya, anak Mama yang satu ini memang usil," kataku sambil menatap ke arahnya. Nino malah cengengesan. "Ya kangenlah. Memangnya kalian nggak kangen sama Papa?" "Kangen," jawab Owie pelan. "Nanti sore kita ke makam Papa, yuk. Sudah hampir satu bulan kita nggak ke sana." "Pulang dari mal aja, Ma," usul Owie. "Jadi kita nggak bolak-balik dari tempat latihan." Aku mengangguk. "Ya sudah. Nanti Mama drop kalian latihan, terus Mama antar klien dulu sebentar. Cuma lihat dua rumah dan lokasinya dekat sana, kok. Nggak akan lama." Aku mulai menyusun rencana di kepala. "Tapi kemungkinan habis latihan kalian harus nunggu sekitar tiga puluh menit sampai Mama datang. Dari sana kita ke mal, cari sepatu Aa’, sekalian makan siang, terus lanjut ke makam Papa." Aku menatap keduanya bergantian. "Jangan lupa bawa baju ganti." "Oke, Ma," jawab mereka kompak. Kami kembali menyelesaikan sarapan sebelum bersiap pergi. Hari Sabtu yang penuh aktivitas. Begitulah weekend kami dari minggu ke minggu. Anak-anak latihan, aku bekerja, lalu setelahnya kami jalan-jalan atau melakukan sesuatu bersama. Hari ini kami akan mencari sepatu baru untuk Owie, makan siang, kemudian mengunjungi rumah baru Devan. Taman makam Tanah Kusir. Begitulah aku menyebutnya kepada anak-anak. Kegiatan kami memang padat. Tapi mungkin justru itu yang membuat kami tetap berjalan. Kami punya rutinitas, punya kesibukan, punya satu sama lain. Kami masih bisa tertawa, masih bisa bercanda, dan perlahan belajar menjalani hari tanpa Devan. Kami tidak perlu anggota baru untuk bahagia. Setidaknya, begitulah yang selama ini kupikirkan. Hidup memang idealnya berjalan sesuai dengan rencana kita. Kita membuat target, menyusun harapan, lalu berusaha sebaik mungkin agar semuanya terjadi seperti yang kita inginkan. Tapi pada akhirnya, manusia hanya bisa merencanakan. Allah yang menentukan. Aku bisa saja mengatakan bahwa kebahagiaanku sekarang adalah, Owie, dan Nino. Kami ini tiga orang yang saling menjaga, saling menguatkan, dan belajar melanjutkan hidup bersama. Aku tidak pernah berpikir untuk mencari pengganti Devan. Tidak pernah. Bahkan sampai sekarang, rasanya aku baik-baik saja dengan kehidupan kami yang bertiga. Tapi kalau suatu hari Allah ternyata punya rencana lain... Kalau ternyata Dia menyiapkan seseorang untuk hadir dalam kehidupan kami, seseorang yang kelak bisa menjadi sosok ayah baru bagi anak-anak... Aku bisa apa? Bukankah kalau Allah sudah berkehendak, tidak ada yang bisa menghalangi? Aku hanya belum tahu siapa orangnya. Dan jujur saja, aku juga belum pernah berniat mencarinya. Setelah membereskan beberapa barang di atas meja makan yang perlu kubawa, aku sempat memberi beberapa arahan kepada ART sebelum masuk kamar untuk mandi. --- "Udah siap, boys?" Aku keluar dari kamar setelah selesai bersiap dan mendapati kedua anakku sudah duduk di depan televisi. Aku melirik jam. Ternyata mereka memang sudah cukup lama menunggu. Padahal dandananku sederhana sekali. Tapi entah kenapa, kalau sudah menyangkut urusan dua anak laki-laki, waktu rasanya selalu lebih cepat. "Udah, Ma. Tinggal pakai sepatu di mobil nanti," jawab Owie. Dia sudah rapi dengan jersey basket-nya. "Yuk, kita jalan sekarang. Pastikan nggak ada yang ketinggalan, ya. Aa’, No, jangan sampai kita bolak-balik kayak dua minggu lalu." Aku menatap Nino. Dua minggu lalu anak ini baru sadar sudah sampai di tempat latihan kalau sepatunya masih tertinggal di rumah. Yang dipakainya cuma kaus kaki. Nino langsung mengangkat kedua tangannya. "Udah semua, Ma." "Aku juga sudah, Ma," tambah Owie. Aku masih belum puas. "Baju ganti?” "Ada.” "Botol minum?” "Ada.” "Kaos kaki?" "Ada." "Sepatu?” "Ada,” jawab Nino cepat. "Handuk kecil?” "Ada.” Aku akhirnya mengangguk puas. "Oke. Ayo naik mobil." Mereka berdua langsung berlari kecil menuju pintu. Aku mengambil tas, memastikan pintu rumah sudah terkunci, lalu menyusul. Beberapa menit kemudian, mobil kami meninggalkan halaman rumah. Tujuan pertama kami adalah tempat latihan basket Owie dan Nino di kawasan Kebayoran, Jakarta Selatan. Setelah mengantar mereka, aku masih harus menemui klien untuk survei dua rumah. Sabtu kami memang selalu seperti ini, tidak selalu mudah, apalagi sempurna. Tapi kami menjalaninya bersama. Dan untuk sekarang, itu sudah cukup. Bahkan mungkin... lebih dari cukup.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
197.1K
bc

TERNODA

read
205.0K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
238.2K
bc

Kali kedua

read
223.4K
bc

Bukan SEX-retaris Simpanan

read
26.5K
bc

Istri Lemah, Pengacara Kejam

read
1.5K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
24.3K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook