"Istirahatlah sayang... Ibu sayang Ara, sungguh sayang Ara." Dengan suara bergetar, Adhia berkata-kata. Dia harus bersiap, menyiapkan hatinya. Karena dia tahu, semua yang bernyawa, pasti akan mati. Kapan, di mana dan bagaimana, Malaikat Izrail bekerja, hanyalah Allah SWT yang tahu. *** Tarendra mengusap air matanya yang terus menerus jatuh. Saat ini dia sedang berada di mushalla rumah sakit. Sudah sepi, karena waktu sholat Isya sudah lewat. Tangannya bergetar, berusaha membuka lembaran demi lembaran buku bersampul hijau yang tadi dibawa Adhia. Ternyata itu buku diary Ara. Berisi curahan hatinya, kerinduannya ingin bertemu sang ayah, yang belum pernah dia lihat sejak dia berumur dua tahun. Untuk ayahku, Tarendra Soemitro Ayah, suatu saat nanti, aku tahu ayah akan membaca buku diary ini.

