Anin tertawa sinis dan menatap layar televisi. Pikirannya sudah kacau melihat Mathew yang ada di sebelahnya. Mathew pun melirik ke arah Anin. Mathew berusaha senetral mungkin terhadap Anin. Perasaan Mathew masih sama, hatinya diliputi rasa cinta yang begitu besar pada Anin. Tatapan Mathew pun juga masih sama, penuh damba dan sangat menggoda kepada Anin. "Mau sampai kapan pun, Anin bukan masa depan Kakak. Kita harus menghargai hubungan kedua orang tua kita, bukan memikirkan hubungan kita," ucap Anin lirih. Jujur, Anin tak bisa menyembunyikan lagi tangis dan perasaan sedihnya. Ia baru saja mau move on dari hubungannya bersama Mathew. Tetapi, Memang takdir sebercanda itu pada dirinya. Tiba -tiba saja, Papa membatalkan persetujuan untuk Anin pergi ke Korea. Mathew mulai akan tinggal di ru