Saga langsung membawa gadis itu ke klinik terdekat, yang berjarak 1 jam perjalanan jika dia menggunakan sepeda ontelnya.
Dengan memberikan kain yang diikatkan di tubuh gadis itu ke tubuhnya dan ke sepedanya. Saga berjuang membawa gadis yang terluka itu ke klinik terdekat.
Susah payah dia usahakan supaya tubuh gadis itu tetap menempel ke dirinya dan kepala gadis itu yang dia juga pegangin selama perjalanan itu sangat menguras tenaga dan hatinya. Dalam hatinya dia hanya bisa berdoa supaya gadis itu selamat.
Satu jam yang menyiksa akhir dia tiba di klinik. Klinik Sehat Sejahtera adalah Klinik terdekat yang ada di sana. Letaknya dekat dengan pasar tradisional tempat Saga bekerja sehari-hari.
"Dokter! Suster! Tolong, tolong selamatkan adikku!" teriak Saga sebisanya, untuk menarik perhatian tim medis yang lagi jaga. Saga tak peduli keringat membanjiri seluruh wajah dan tubuhnya yang tegap dan kekar.
"Astaga, pasien kritis, Dok!" teriak suster yang tadi merapat tubuh gadis malang itu.
"Segera siapkan peralatannya, Suster!" perintah Dokter klinik itu.
Saga diminta menyelesaikan administrasi dan menunggu di luar kamar perawatan. Saga menjadi mondar-mandir sendiri dan tertawakan dirinya sendiri.
"Hahaha, aneh. Aku biasanya paling tak peduli sama hidup mati orang lain. Apalagi saat kejadian itu terjadi. Hatiku telah mati. Tapi... Sejak aku menemukan dia tadi! Apa yang salah pada diriku? Pria paling dingin yang cuek dan ogah ribet hanya urus kelinci kecil tak berdaya dan kini panik sendiri dan bela-belain ya pakai sepeda ontel kemari. Astaga Saga! What's wrong?" umpat Saga pada dirinya sendiri.
Jarum jam terasa begitu lambat berputar, Saga sudah menegak lima botol air mineral untuk mendinginkan kepala dan dirinya.
"s**t! Aku jadi ingin kawan setiaku ouh! Aku tak membawanya. Jika kalut begini enak banget negak sebotol wine kesukaan aku! Aku lupa bawa kemari!"
Detik demi detik, menit demi menit, jam demi jam berputar lambat. Hingga pintu kamar perawatan itu terbuka.
Dokter yang terlihat lelah tadi kini keluar menemui Saga. Saga diajak ke ruangan dokter tersebut.
"Maaf Tuan, apakah hubungan Anda dengan pasien?" selidik Dokter itu. Saga yang merasa ada hal yang tak baik langsung mengarang sebuah kisah tentang mereka.
"Maaf, Dokter. Adik saya itu datang dari kota dan pingsan depan rumah saya. Saat saya lihat dia sudah seperti itu. Mungkin dia mengalami sesuatu di jalan pulang. Saya belum bisa bertanya karena adik saya tidak sadar diri berkali-kali."
"Apakah Anda tahu, adik Anda ada dimana sebelum ke rumah Anda?"
"Dia, bekerja di kota Dokter. Memang ada apa Dokter apa yang sebenarnya terjadi pada Adik Saya?"
"Jika memang adik Anda bekerja di kota, ada kemungkinan dia telah disiksa berkali-kali oleh majikannya disana. Ada banyak luka bekas cambukan dan pukulan serta lebam-lebam di sekitar tubuhnya. Di balik baju yang kebesaran tadi saya periksa dia telah mengalami banyak siksaan dan pukulan serta tendangan kw area perut dan dadanya. Serta luka parah bekas cambukan di punggung dan lengannya."
"Jadi, adik saya dianiaya?"
"Benar, adik Anda telah dianiaya lama, serta bekas pukulan benda tumpul di kepalanya yang dilakukan berulang kali. Itu seperti upaya pembunuhan atas diri pasien. Untung saja segera dibawa kemari. Jika tidak kemungkinan adik Anda akan meninggal. Luka di kepalanya sangat serius. Saya kuatir akan ada efek samping yang di derita saat Adik Anda siuman nanti," jelas sang Dokter dengan wajah sangat serius.
"Jadi, bagaimana Dokter?" tanya Saga menekan emosi di dadanya. Dengan mengepalkan kedua tangannya di bawah meja.
"Saya sarankan untuk rawat inap sehingga kami tim medis bisa memantau keadaan dan kondisi pasien secara berkala."
"Baiklah, Dokter saya akan setujui saran Dokter. Tolong berikan perawatan yang terbaik untuk Adik saya. Untuk biaya jangan kuatir saya akan bertanggungjawab sepenuhnya," tegas Saga pada Dokter tersebut.
"Baik. Silakan Anda tanda tangan disini dan selesaikan urusan administrasi segera. Karena pasien akan segera ditangani ulang bila harus operasi Saya akan berikan surat rujukan ke rumah sakit yang lebih bagus."
Saga langsung menandatangani surat pernyataan dari sang Dokter dan membayar tunai biaya perawatan itu.
*****
Tiga hari kemudian setelah malam itu.
Saga masih menghisap nikotinnya saat Dokter Bayu keluar dari ruang inap Sofia.
"Bagaimana Dokter kondisi Adik Saya?"
"Mungkin nanti siang dia akan siuman. Jika lewat tiga hari pasien belum sadar maka saya akan langsung berikan surat rujukan untuk Anda bawa Adik Anda ke rumah sakit besar. Luka luar sudah sembuh dan tinggal beberapa pemeriksaan lebih lanjut saat pasien siuman dari pingsannya."
"Baik Dokter. Terima kasih."
Tepat pukul 15.00, mata Sandra terbuka, gadis itu mencoba mengadaptasikan matanya dengan cahaya di ruang inapnya. Saga yang baru saja membeli makanan di luar klinik, langsung menghampiri ranjang itu.
"Kau, kau sudah sadar?" tanya Saga sambil menggoyang telapak tangannya di depan mata dan wajah Sandra.
"Agh, kepalaku sakit sekali. Aku ada dimana? Dan... Kau siapa? Aku kenapa kok sakit semua?" tanya Sandra pelan. Suaranya belum jelas terdengar sehingga Saga mendekatkan telinganya ke bibir gadis malang itu. Untuk mendengar apa yang diucapkan Sandra.
"Kau terluka parah saat aku temukan, sekarang kau sudah sadar buat aku lega. Kau sudah tidak sadar diri selama tiga hari ini."
"Apa! Tiga hari ini? Aku kenapa? Aaaggghhh sakit. Kepalaku sakit sekali!" teriak Sandra.
Teetttt! Teeetttt!
Bel darurat telah dipencet oleh Saga. Tak lama Dokter dan suster telah datang dan memeriksa kondisi Sandra.
Dua puluh menit berlalu, pintu terbuka, Dokter Bayu yang bertugas awal dia bawa Sandra ke sana kini ada di depan Saga.
"Maaf Tuan, adik Anda mengalami Amnesia Disosiatif dan Amnesia kelebihan obat penenang jenis yang paling keras sehingga memicu pasien untuk kehilangan memori dirinya. Hasil laboratorium kemarin saat saya ke kota ambil, Adik Anda telah mengkonsumsi obat itu hampir dua bulan. Tapi dosisnya sangat tinggi. Sehingga membuat sedikit masalah dalam otak ditambah adanya pukulan keras berkali-kali di kepala pasien. Hal ini sulit dihindari. Pasien jadi mengalami Amnesia Disosiatif plus."
"Apakah dia bisa pulih kembali ingatannya Dokter? Atau hal itu akan permanen dalam diri Adik saya?"
"Tabahkan hati dan kuatkan diri Tuan, itu kecil kemungkinannya. Jika pulih pun mungkin sekitar 80% untuk pemeriksaan sementara. Tapi jika ada keajaiban maka kondisi pasien akan pulih seutuhnya. Mungkin Anda bisa berikan barang, makanan yang disukai pasien, kebiasaan atau tempat yang penuh kenangan saat pasien dulu bersama Anda, hal itu bisa membantunya mengingat pelan-pelan kebiasaan yang dilakukannya dulu."
"Baiklah, Dokter. Akan saya usahakan."
Dokter Bayu meninggalkan Saga duduk termenung di luar ruang inap Sandra. Saat dia melihat Sandra kembali tidur.
"Itu yang sulit aku lakukan, karena aku tak pernah tahu siapa gadis itu yang sebenarnya? Terpaksa aku harus mencari tahu sendiri. Tapi, lebih baik tidak. Mungkin dengan dia melupakan masa lalunya itu lebih baik. Karena pasti masa lalunya sangat menyakitkan hatinya. Baiklah aku akan memberikan dia masa lalu baru padanya. Itu mungkin lebih baik."