"Bangun, Nona! Sudah cukup kau menikmati malam bersamaku. Jangan pernah salahkan aku, kau yang meminta sendiri semalam."
Suara bariton sedingin es itu menyentak kesadaran Eliana. Ia menarik napas bergetar, kelopak matanya yang bengkak terpaksa dia buka paksa.
Cahaya matahari pagi yang menyusup lewat celah gorden sama sekali tak mampu menghangatkan tubuhnya yang mendadak membeku.
Bukan. Ini bukan mimpi. Kesadaran Eliana yang masih belum penuh, memaksanya untuk mengingat kembali peristiwa semalam yang sudah menghancurkan hidupnya.
"Tidak... Ini pasti mimpi." Eliana berusaha meyakinkan dirinya bahwa itu hanya sebuah mimpi, namun melihat sosok tegap yang berdiri di depan jendela kamarnya, membuat keyakinannya runtuh.
"Berhentilah menganggap semua ini hanya sebuah mimpi. Ingatlah betapa liarnya dirimu semalam. Apa kau memang sengaja ingin tidur denganku? Dasar w************n," cibirnya, kata-katanya penuh ejekan.
"Tidak ada yang terjadi dengan kita semalam. Ini tidak mungkin terjadi." Kembali dia meyakinkan dirinya bahwa semua itu hanya sebuah mimpi.
Namun, ketika dia berusaha untuk bangkit dari tempat tidurnya, tiba-tiba di merasakan sakit yang luar biasa menjalar di sekujur tubuhnya, terutama di pangkal pahanya yang terasa kaku.
"Ya Tuhan... Apa semalam aku dan dia..." Eliana menggigit bibir bawahnya, mencoba untuk tetap tenang.
Eliana kembali membuka matanya perlahan, menatap langit-langit kamar mewah yang terasa asing. Ingatan tentang malam tadi menghantamnya seperti palu godam baginya. Sentuhan kasar, rintihan putus asa, dan pria asing yang merenggut segalanya, kini berdiri di depannya, merendahkan harga dirinya.
Eliana menangis sesenggukan, ia tidak lagi menganggap semua ini hanya sebuah mimpi. Semuanya nyata terjadi pada dirinya.
"Tidak usah pura-pura menangis di depanku, seolah baru pertama kali kau melakukan itu denganku."
Suara bariton itu kembali terdengar, namun kali ini tidak serak. Suara itu terdengar penuh ejekan, dingin, dan sangat angkuh.
Eliana tersentak, ia menarik selimut untuk menutupi tubuhnya yang polos di balik kain satin itu. Ia menoleh ke arah sumber suara, namun pria itu sedang berdiri memunggunginya di depan cermin, mengancingkan kemeja hitamnya dengan tenang, tak menghiraukan tangisannya sejak tadi setelah kehilangan kesuciannya
"Kau pikir aku sudah melakukan ini sebelumnya? Aku bukan w************n, b******k!" Suara Eliana bergetar, ia melempar bantal ke arah pria itu dengan kasar
Pria itu terdiam sejenak, namun ia sama sekali tidak menoleh, seolah tak peduli dengan ratapan tangisannya. "Kau melakukan dengan siapa sebelumnya itu tidak penting. Kau masuk ke kamarku, menawarkan dirimu, dan aku hanya melayani permintaanmu. Aku sudah mengusirmu, tapi kau malah mendekatiku, jangan salahkan aku jika semalam aku sudah melakukan hubungan denganmu."
"Menawarkan diri? Kau pikir aku wanita panggilan?!" Eliana terisak, dadanya sesak oleh rasa hina. "Aku dijebak! Seseorang mencekokiku obat dan mengunciku di sini! Aku tidak pernah bermaksud__"
"Cukup." Pria itu memotong dengan nada tajam. Ia mengambil jam tangan mewahnya di atas meja. "Aku tidak punya waktu untuk mendengarkan dongengmu. Simpan air matamu untuk pria lain. Dan apa pun penjelasan yang kau berikan, aku tidak tertarik mendengarkan."
"Tuan, kau menghancurkan hidupku! Setidaknya lihat aku! Jangan kau pandang aku sebagai w************n. Setidaknya kau meminta maaf kepadaku!" teriak Eliana sambil menangis tersedu-sedu.
Pria itu akhirnya berhenti bergerak, namun tetap menolak untuk membalikkan badan dan melihat wajah Eliana. "Seorang wanita yang tiba-tiba masuk ke dalam kamar pria asing, lalu menyuruhku menyentuh tubuhnya, kau anggap wanita baik-baik? Dan kau memintaku untuk minta maaf? Untuk sesuatu yang kau mulai sendiri? Jangan bermimpi."
Eliana tersentak, ketika kata-kata tajam itu meluncur dari mulut Melvin Hatinya sesak, seperti tersayat saat pertama kali mendengar hinaan yang merobek harga diri dan kehormatannya.
"Kau salah menilaiku, Tuan. Aku bukan seperti wanita yang kau hinakan itu. Aku memang melakukan kesalahan menyerahkan diriku pada pria sepertimu. Namun, semua itu bukan keinginanku, obat itu yang mempengaruhi pikiranku." Eliana menghapus air matanya, tangannya menggenggam erat sprei yang menjadi saksi malam penuh noda.
Namun, Melvin hanya tersenyum miring, seolah tak peduli dengan kata-kata gadis itu.
"Kau bisa berkata seperti itu, tapi tubuhmu tidak bisa berbohong, betapa liarnya kau malam itu," balasnya penuh ejekan.
Ia melangkah menuju pintu yang kini sudah tidak terkunci lagi. Sebelum keluar, ia berhenti sejenak tanpa menoleh sedikit pun.q
"Lupakan apa yang terjadi semalam. Anggap saja kau baru saja melewati mimpi buruk. Dan satu hal lagi... jangan pernah muncul di hadapanku lagi dan meminta pertanggungjawabanku."
BRAK!
Pintu tertutup dengan keras. Eliana terlonjak, ia jatuh terduduk di lantai yang dingin sambil memeluk lututnya. Isak tangisnya pecah memenuhi ruangan itu. Malam itu dia sudah kehilangan kehormatannya dan juga masa depan yang sudah dia rajut bersama dengan Julian.
"Siapa pria jahat itu? Kenapa dia begitu kejam? Aku harap tak pernah lagi bertemu dengannya," gumam Eliana di sela tangisnya.
'Ya Tuhan, takdir macam apa ini? Kenapa aku harus melewatkan malamku bersama dengan pria b******k itu? Kenapa aku bodoh sekali?' rutuk Eliana pada dirinya sendiri.
Ia melihat ke arah tempat tidur. Bercak merah di atas seprai putih itu seolah menertawakan nasibnya. Masa depannya bersama Julian, impiannya tentang pernikahan yang suci, semuanya musnah dalam satu malam di tangan pria asing yang bahkan tidak mau melihat wajahnya.
"Julian... bagaimana aku bisa menemuimu sekarang? Kenapa kau tidak muncul semalam? Bukankah kau yang memintaku untuk datang?" gumam Eliana menahan tangis, meremas dadanya yang terasa sangat nyeri. "Aku sudah kotor... aku sudah hancur... Bagaimana aku bisa menjelaskan ini padamu?" Dengan frustasi, Eliana menjambak rambutnya sendiri.
Sesaat kemudian, ponsel miliknya bergetar. Eliana mengusap air matanya kembali lalu dia mengambil ponsel di dalam tas miliknya. Sebuah notif pesan dari Alesha, segera dia membacanya.
[Kau di mana semalam? Julian mencari-carimu, tapi kau tidak ada. Kau sekarang di mana? Kenapa belum juga pulang ke rumah?]
Elliana terlihat panik, ia bingung saat kakak tirinya mengirim pesan dan bertanya tentang keberadaannya, tanpa mengerti apa yang sudah direncakan kakak tirinya kepadanya.
'Tidak, dia tidak boleh tahu apa yang sudah terjadi denganku malam itu. Aku harus menyembunyikan ini dari siapapun,' batin Eliana dalam hati.
Eliana segera bangkit, meski tubuhnya masih terasa sakit. Dengan tangan gemetar, Eliana mengumpulkan pakaiannya yang berserakan. Ia harus pergi dari sini sebelum ada yang melihatnya. Ia harus menyembunyikan luka ini sedalam mungkin, tanpa tahu bahwa pria yang baru saja meninggalkannya adalah kakak dari pria yang ia cintai.
Selesai dia membersihkan diri, Eliana segera pergi meninggalkan tempat itu. Ia pulang dengan membawa noda yang menempel pada tubuhnya.
Sesampainya di rumah, Alesha dan ibunya sudah menunggunya di depan rumah.
"Dari mana saja kau semalam? Jam segini kau baru pulang?" tanya ibu tiri Alesha, menatap wajah Eliana penuh intimidasi.
"Aku..." Eliana tak tahu harus berkata apa. Suaranya serak dan tercekat di tenggorokan.
"Ma, sepertinya Eliana terlihat lelah, sebaiknya dia istirahat dulu,” tiba-tiba Alesha bersuara, pura-pura membelaknya dengan nada yang aneh.
Ibu Lily terdiam sesaat, matanya tetap waspada, tapi kemudian suaranya menghalus. “Ya sudah, istirahat dulu. Jam makan siang nanti temui aku,” katanya pelan
Eliana mengangguk, lalu pergi dengan melangkah susah payah, langkahnya berat dan tidak seperti biasanya, membuat Bu Lily merasa ada yang aneh darinya.
"Tunggu!” suara ibu tirinya mengejutkan Eliana.
Eliana berhenti sejenak, dan dia melihat sorot matanya menelusuri wajahnya dengan penuh curiga.
“Ada apa dengan jalanmu? Kenapa langkahmu seperti itu?”