Meninggalkan Tempat yang Bernama Rumah

1420 Words

Ketika palu diketukkan, suaranya bergema di ruang sidang, mengukuhkan akhir dari perjalanan kami yang penuh luka. Aku menundukkan kepala, berbisik dalam hati. "Akhirnya." Hari itu, ruang sidang terasa seperti medan perang. Setelah melalui mediasi yang panjang dan melelahkan, akhirnya hakim memutuskan untuk mengabulkan gugatan cerai yang kuajukan. Aku merasa lega, meskipun kelegaan itu bercampur dengan rasa takut akan apa yang akan terjadi selanjutnya. Namun, perasaan itu tidak berlangsung lama. Begitu hakim mengetukkan palunya dan menyatakan keputusan resmi, suasana berubah. Keluarga Awan, yang duduk di belakangku, langsung bergemuruh. "Embun, kamu benar-benar keterlaluan!" Suara Ibu mertua membahana, menarik perhatian seluruh ruangan. Aku tidak berbalik, tapi bisa merasakan tatapan

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD