2. Sandiwara yang Terlalu Nyata

1446 Words
Ayu masih menggenggam tangan Damar. Hangat. Aneh… karena justru dari semua orang di ruangan itu, hanya sentuhan pria ini yang tidak membuatnya ingin menarik diri. Namun, genggaman itu perlahan dibalas. Bukan sekadar membalas… melainkan mengunci. Jari-jari Damar menutup di antara jemarinya, sedikit lebih erat dari yang seharusnya. Seolah memastikan… Ayu tidak akan pergi. - “Baik,” suara Ares akhirnya terdengar. Dingin. Namun ada sesuatu yang terselip di sana,tidak suka. Ares menatap tangan mereka yang masih saling menggenggam. Sesaat. Lalu mengalihkan pandangan. “Sebentar,” katanya, menoleh pada Ayu. “Ada yang ingin kubicarakan pada Damar dulu, Yu.” Ayu mengangguk pelan. “Silakan, Kak.” Nada suaranya tetap lembut. Namun kosong. Tanpa ketergantungan. Dan itu… cukup untuk membuat d**a Ares terasa tidak nyaman. - “Mar. Ikut aku.” Damar berdiri tanpa banyak bicara. Namun sebelum melangkah, ia sempat melirik Ayu. Singkat. Namun cukup lama untuk terasa. - Pintu tertutup. Klik. Koridor rumah sakit terasa dingin. Ares berjalan beberapa langkah lebih dulu, lalu berhenti. Ia tidak langsung menoleh. Tangannya masuk ke saku celana. Rahangnya mengeras. “Aku tidak akan bertele-tele,” ujarnya datar. Damar berdiri di belakangnya. Tenang seperti biasa. “Ayu sedang tidak ingat apa pun,” lanjut Ares. “Dan ini… hanya sementara.” Ia akhirnya menoleh. Tatapannya tajam. Peringatan yang jelas. “Jadi jangan macam-macam.” - Hening. - Damar tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap Ares balik. Tenang. Terlalu tenang untuk seseorang yang sedang diperingatkan. “Dia tunanganku,” tambah Ares, suaranya lebih rendah. “Jaga batas.” Damar tersenyum tipis. Senyum sopan yang selalu ia pakai. “Bukankah tadi Tuan sendiri yang mengatakan aku kekasihnya di depan Ayu?” jawabnya ringan. Satu kalimat. Namun cukup membuat udara menegang. Tatapan Ares mengeras. - “Itu hanya untuk kondisi sekarang.” “Hmm…” Damar mengangguk pelan. Seolah mengerti. Namun matanya… tidak sepenuhnya setuju. “Tenang saja,” lanjutnya. “Aku tahu posisiku.” Jawaban yang benar. Sempurna. Terlalu sempurna. Namun entah kenapa… justru membuat Ares semakin tidak nyaman. - “Bagus kalau begitu.” Ares berbalik. Langkahnya tegas meninggalkan tempat itu. Namun kali ini… ada sesuatu yang tertinggal. Rasa tidak percaya. - Di belakangnya… Damar tidak langsung bergerak. Senyumnya perlahan memudar. Tatapannya berubah. Dingin. Dalam. “Posisiku…” gumamnya pelan. Hampir seperti ejekan. “…akan segera berubah.” Lalu ia berbalik dan kembali ke dalam ruangan. Seolah tidak terjadi apa-apa. - Begitu Damar masuk, Ayu langsung menoleh. “Lama sekali,” ucapnya pelan. Damar tersenyum seperti biasa. “Sedikit urusan.” Ia kembali duduk di samping ranjang. Dekat. Terlalu dekat. “Apa sakitnya masih terasa?” Ayu menggeleng. “Sedikit.” Tatapan Damar turun ke tangan mereka yang masih saling menggenggam. Ia tidak melepaskannya. Tidak juga melonggarkannya. - “Aku akan memanggil dokter.” “Tidak perlu.” Refleks. Ayu langsung menahan tangannya. Dan tanpa sadar… ia justru menggenggam lebih erat. Hening. Terlalu lama. Damar menatap Ayu. Dalam. Terlalu dalam untuk seseorang yang baru saja “dilupakan”. - “Apa kau benar-benar tidak mengingat apa pun?” tanya Damar pelan. Ayu menahan napas sejenak, lalu menggeleng. “Tidak.” Tatapan Damar berubah tipis. Sangat samar… hampir tidak terlihat. “Atau…” suaranya menurun, lebih pelan, “kau hanya berpura-pura?” Jantung Ayu seolah berhenti berdetak. Namun wajahnya tetap tenang. - “Kau tahu sendiri, Mas… aku selalu jujur.” Ayu menatap langsung ke mata Damar. “Tapi katakan padaku, apa maksudmu ‘pura-pura’?” Damar berdeham pelan. “Bukan apa-apa. Maksudku… kau sakit, tapi pura-pura tidak sakit.” Ayu mengernyit tipis. “Apakah aku orang seperti itu?” tanyanya, nada suaranya terdengar penasaran. “Suka menahan rasa sakit sendiri?” - Damar menatapnya sejenak, lalu mengangguk pelan. “Ya. Kau tidak pernah mau merepotkan orang lain,” ujarnya tenang. “Kau terlihat mandiri… tapi tetap perhatian.” Tanpa diminta, bayangan itu kembali muncul di benak Damar. Ayu... perempuan yang selalu ada di sisi Ares. Sabar. Tenang. Tidak pernah manja. Tidak pernah mengeluh. Bahkan tidak pernah meminta apa pun. Seolah keberadaannya hanya untuk memberi… tanpa pernah menuntut. - Berbeda dengan Elvina. Mantan kekasih Ares itu jelas telah berkhianat. Meninggalkannya. Menikah dengan pria lain. Namun tetap saja… Ares meratukannya. Seolah perempuan itu masih yang paling berharga. Padahal... Elvina penuh tuntutan. Selalu ingin lebih. Dan tidak pernah benar-benar setia. - Tatapan Damar menggelap. Sesuatu yang dingin perlahan muncul di matanya. Bagus… Kalau begitu, aku punya kesempatan. Ternyata aku diberi kesempatan semudah itu! Tanpa harus menyusun rencana yang rumit, kesempatan itu datang sendiri padaku. - Pandangan Damar kembali pada Ayu yang masih memeluk lengannya. Tenang. Lembut. Tanpa curiga. Kalau dia terus seperti ini… aku akan membuatnya melupakan Ares sepenuhnya. Senyum tipis terukir di bibirnya. Namun tidak lagi hangat. Melainkan penuh maksud. - Pria seperti Ares… tidak pantas mendapatkan cinta setulus itu. Dan kalau dia tidak bisa menjaganya… Tatapannya menajam. aku yang akan mengambilnya. Ia berhenti sejenak, seolah memilih kata. “Namun… kadang laki-laki berpikir berbeda.” Ayu tersenyum kecil. “Apakah Mas Damar termasuk?” Tanpa ragu, ia meraih lengan Damar dan memeluknya erat. Sedikit manja. Sedikit merajuk. Seolah itu adalah hal yang biasa ia lakukan. Padahal di dalam hatinya, Sudah sejauh ini… aku harus meyakinkan semuanya. Mas Damar pria yang cerdas. Aku tidak boleh membuatnya curiga. Aku tidak akan membiarkan siapa pun memaksaku menikah dengan Kak Ares. Aku tidak sudi… menikah dengan pria yang hatinya bercabang. Maaf, Mas Damar… aku terpaksa memanfaatkanmu. - Damar terdiam. Tubuhnya sempat menegang, namun ia tidak melepaskan pelukan itu. “Kalau aku…” suaranya rendah, lebih serius dari sebelumnya, “aku menerima kamu apa adanya.” Tatapannya turun, mengunci Ayu. “Seperti apa pun dirimu.” Ada sesuatu dalam nada itu. Terlalu dalam. Terlalu berat. “Aku tetap suka.” - Ayu menahan napas. Ia segera mengalihkan pembicaraan. “Memang…” lanjutnya pelan, “biasanya laki-laki menyukai perempuan seperti apa?” Ia menatap Damar, pura-pura penasaran. Damar tersenyum tipis. “Mungkin… perempuan yang manja,” katanya santai. Namun matanya tidak lepas dari Ayu, mengamati setiap perubahan kecil di wajahnya. “Seperti Kakakmu…” Ia berhenti sejenak. Sengaja. “…yang menyukai Nona Elvina.” - Kalimat itu menggantung. Tidak diucapkan sepenuhnya. Namun cukup jelas untuk dimengerti. Seolah sebuah ujian. ---------- Aku harus terlihat meyakinkan… Lagipula, apa salahnya sekali-sekali merasakan bagaimana dimanjakan oleh seseorang? Ayu menunduk sejenak, menyembunyikan pikirannya. Mas Damar bukan orang biasa. Aku tidak boleh membuatnya curiga. Dia asisten yang setia… dan terlalu cerdas. - Perlahan, Ayu menggeser duduknya. Tangannya menepuk sisi kosong di sampingnya. Damar mengernyit, jelas tidak mengerti. “Apa maksudmu, Yu?” “Aku ingin Mas Damar di dekatku,” jawab Ayu lembut. “Aku tidak suka tidur sendirian di rumah sakit.” - Damar terdiam. Tatapannya beralih ke ranjang yang sempit itu. “Tempat tidurnya kecil,” ujarnya ragu. Jantungnya berdetak tidak biasa. Selama ini, ia tidak pernah sedekat ini dengan perempuan mana pun. Apalagi dengan Ayu. - “Tidak akan roboh, Mas,” sahut Ayu cepat. Ia mengerucutkan bibirnya, sedikit merajuk. “Kalau Mas tidak mau… aku marah, lho.” Damar terkesiap. Ini bukan Ayu yang ia kenal. Perempuan yang selalu terlihat... anggun, mandiri, menjaga jarak. Selalu sopan. Selalu menahan diri. Namun sekarang… terlalu dekat. Terlalu terbuka. - Dan justru itu, membuatnya semakin yakin. Ayu benar-benar tidak ingat apa-apa… “Baiklah…” ucapnya akhirnya, pelan. Ia melepas jasnya, lalu naik ke atas ranjang dengan hati-hati. Jarak di antara mereka nyaris tidak ada. Udara terasa hangat. Terlalu hangat. Ayu langsung bergerak mendekat. “Peluk aku, Mas,” bisiknya pelan. “Aku ingin tidur dalam pelukanmu… supaya aku merasa aman.” Perintah itu sederhana. - Namun dampaknya, tidak sederhana sama sekali. Tubuh Damar menegang. Untuk sesaat, ia hanya diam. Seolah ragu. Seolah menimbang sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar jarak di antara mereka. Namun akhirnya… lengannya bergerak. Perlahan. Hati-hati. Ia merangkul Ayu. Menariknya ke dalam pelukan. - Tubuh Ayu terasa hangat. Ringan. Dan terlalu pas… seolah memang diciptakan untuk berada di sana. Damar menahan napas. Jantungnya berdetak lebih cepat dari yang seharusnya. Ini hanya sementara… Ini hanya bagian dari rencana. Ia memejamkan mata sejenak. Mencoba menenangkan diri. Namun tangannya, justru tanpa sadar mengerat. Seolah takut kehilangan. - Damar tersentak kecil. Langsung menyadari apa yang ia lakukan. Ia melonggarkan pelukannya sedikit. Menarik napas panjang. “Tidurlah,” ucapnya pelan, mencoba terdengar biasa. Namun suaranya sedikit serak. Tidak stabil seperti biasanya. Ayu tidak menjawab. Namun tubuhnya sedikit bergerak, semakin mendekat. Menyandarkan kepala di d**a Damar. Seolah benar-benar merasa aman. Damar menatap langit-langit. Matanya terbuka. Pikirannya kacau. - Kenapa… kenapa aku jadi seperti ini? Ia mengatupkan rahang. Berusaha mengembalikan kendali. Jangan lupa tujuanmu. Namun detik berikutnya.., tatapannya turun pada wajah Ayu yang terlelap di pelukannya. Tenang. Tanpa beban. Dan untuk pertama kalinya… Damar merasa ragu. Bersambung............
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD