Satu minggu. Satu minggu yang terasa seperti berjalan di atas pecahan kaca. Binta dan Gala hampir selalu bersentuhan, dengan Gala secara konsisten mengklaim Binta, dan Binta yang terus-menerus mencari tempat berlindung di pelukannya, terlepas dari kebenciannya. "Mbak Binta, hari ini masih mau latihan?" tanya Nita. "Kalau iya, saya bisa tutup lagi kafenya, biar tidak ada orang yang masuk, Mbak." Binta hanya menggeleng. "Jangan, Nita." Kafe Senja terasa lebih dingin dari biasanya. Binta mengenakan seragam barista andalannya, tetapi di balik itu, ia gemetar. Hari ini X akan datang. Gala sudah duduk di meja tengah sejak pagi. Di jari manis kirinya, melingkar sebuah cincin perak sederhana yang mirip sekali dengan cincin pertunangan Binta dan Bara dulu. Cincin yang sudah Gala persiapkan.

