Bab 9. Pertemuan Keluarga

1053 Words
Elmira melangkah menjauh dari ruang utama, membawa Elea yang masih menangis kecil. Tangannya mengusap punggung bayi itu dengan lembut, mencoba menenangkan, meski hatinya sendiri sedang bergejolak. Meskipun sesungguhnya, dia sudah tahu jika akan ada penghinaan di tempat ini. Ia menemukan ruang kecil di sudut rumah, sedikit jauh dari keramaian. Begitu ia duduk di sofa empuk, Elea perlahan mulai tenang. Bayi itu menggeliat dalam pelukannya, sebelum akhirnya kembali terlelap. Elmira menghela napas, mengusap lembut dahi mungil Elea. "Aku tidak peduli dengan mereka." Ia tahu dirinya tidak punya tempat di sini. Ia bukan siapa-siapa bagi keluarga Tristan. Bahkan jika Tristan mengakuinya sebagai ibu asuh Elea, itu tidak mengubah kenyataan bahwa dirinya hanyalah seorang wanita biasa yang Tristan pungut di jalanan. Tidak ada rasa sakit, tidak ada luka baginya untuk mendengar suatu pengghinaan, karena hal itu sudah terlalu lama ia rasakan. Sementara itu, di ruang utama, Jenny mendekati Tristan dengan langkah percaya diri. Ia sudah sangat lama mengenal pria itu, sudah bertahun-tahun ada di sekitarnya. Dulu, sebelum Soraya datang, ia berpikir bahwa suatu hari Tristan akan melihatnya lebih dari sekadar teman biasa. Namun, dugaannya salah. Soraya muncul tiba-tiba dan seketika hati Tristan sepenuhnya jatuh pada wanita itu. Ia memilih Soraya, menikahinya, dan meninggalkan Jenny dalam bayangan. Kini, Soraya sudah tiada. Jenny berpikir, mungkin kali ini ia punya kesempatan untuk kembali mendekati Tristan. Namun, betapa terkejutnya ia saat Tristan justru membawa wanita lain ke sini—seorang wanita yang bahkan bukan dari kalangan mereka, yang bahkan tidak seharusnya ada dalam pertemuan ini. "Apa yang sebenarnya kamu pikirkan, Tristan?" suara Jenny terdengar pelan namun tajam. Tristan yang tengah menuang minuman ke dalam gelasnya hanya melirik sekilas sebelum menyesap anggurnya. "Apa? Aku tidak mengerti maksudmu." Jenny menyilangkan tangan di d**a, menatapnya lekat. "Kau membawa wanita itu ke sini. Setelah Soraya pergi, aku pikir kamu butuh waktu untuk sendiri, tapi justru—" "Elmira di sini karena Elea membutuhkannya," Tristan memotong dengan nada tenang, tetapi ada ketegasan di sana. "Jangan salah paham, Jenny." Jenny tersenyum tipis, sinis. "Jangan salah paham? Kamu pikir aku buta? Kamu membawanya ke sini dan mengenalkannya pada keluarga. Kamu tahu betul bagaimana reaksi mereka terhadap orang luar." Tristan menghela napas pendek, meletakkan gelasnya ke meja. "Elmira bukan orang luar. Dia yang mengurus Elea, Elmira adalah ibu susunya. Dan aku tidak akan membiarkan siapa pun mengusiknya, termasuk ... kamu." Ada sesuatu dalam suara Tristan yang membuat d**a Jenny terasa sesak. "Oh, begitu? Jadi ... sepenting itukah peran seorang pengasuh?" tanyanya dengan suara lebih lirih. Tristan terdiam sesaat. Mata tajamnya menatap Jenny dalam-dalam, seolah menimbang sesuatu. "Elea penting bagiku," jawabnya akhirnya. "Dan adanya Elmira, itu penting untuk Alea." Jawaban itu membuat Jenny mengepalkan tangannya di sisi tubuh. Dulu, saat Soraya masih hidup, Jenny selalu menahan diri. Ia tahu Tristan mencintai istrinya, dan ia tak bisa berbuat apa-apa selain menerima. Namun sekarang, ketika ia mengira bisa kembali berada di sisi pria itu, justru ada wanita lain yang muncul. Wanita yang tidak seharusnya ada di sana. Jenny menggigit bibirnya. Ia tidak akan membiarkan ini terjadi. Jika Tristan pikir ia akan membiarkan wanita biasa seperti Elmira mengambil posisinya, ia jelas salah besar. Jenny menarik napas dalam, menenangkan emosinya. "Baiklah," katanya akhirnya, memasang senyum yang lebih lembut. "Aku hanya khawatir, Tristan. Kamu tahu 'kan aku selalu peduli padamu." Tristan menatapnya sekilas, sebelum akhirnya mengangguk kecil. "Aku tahu." Jenny tersenyum, tetapi dalam hatinya, ia bersumpah jika Elmira tidak akan punya tempat sama sekali di sisi Tristan. -- Elmira tersentak pelan saat mendengar suara lembut itu. Ia mengangkat wajahnya dan mendapati Amanda, ibu Tristan, berdiri di hadapannya. Wanita itu menatap Elea dengan ekspresi yang sulit dibaca—ada kelembutan di sana, tapi juga sesuatu yang lain, sesuatu yang membuat Elmira sedikit waspada. “Apa aku boleh menggendongnya?” tanya Amanda dengan suara pelan. Elmira ragu sejenak. Ia tahu, sejak awal keluarga ini tidak menyukai kehadirannya. Mereka memandangnya seperti tumpukan sampah, seseorang yang tidak layak berada di antara mereka. Akan tetapi, Amanda ... wanita itu tidak pernah secara langsung menunjukkan penolakan atau ketidaksukaan. "Silakan, Nyonya." Dengan hati-hati, Elmira mengangguk dan menyerahkan Elea ke dalam pelukan Amanda. Bayi itu bergerak sedikit, sebelum akhirnya kembali terlelap dalam dekapan neneknya. Amanda menatap cucunya dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Jemarinya sedikit bergetar saat mengusap pipi mungil Elea dengan sangat hati-hati, seolah takut jika sentuhan kecil itu akan melukainya. “Ia sangat mirip dengan Soraya,” gumamnya, hampir pada dirinya sendiri. Elmira diam, tidak tahu harus berkata apa. Ia hanya mengamati ekspresi Amanda yang perlahan berubah—dari kagum menjadi sedikit sendu. “Apa kamu menyukai anak ini?" lanjut Amanda, kali ini suaranya lebih jelas. Matanya beralih menatap Elmira, meneliti wanita muda itu dengan cara yang berbeda dari sebelumnya. Elmira menelan ludah. Ia tidak tahu apakah itu pujian atau sekadar pernyataan biasa. "Iya, Nyonya." "Kenapa kamu menerima tawaran Tristan? Apa kamu tidak punya anak sendiri untuk diberi ASI?" tanya Amanda yang kini lebih menjurus. Pertanyaan yang baru saja dilayangkan padanya itu, kembali merobek luka yang sengaja ia tutup. “Elea ... sama sekali tidak merepotkan, dan ... iya, saya tidak punya anak,” jawabnya pelan. Amanda terdiam beberapa saat, lalu menghela napas panjang. “Menarik, tidak punya anak tapi punya ASI." Amanda menatap Elmira lebih lama, seolah mencari sesuatu di wajahnya—entah keraguan, ketakutan, atau mungkin harapan. Namun, yang ia temukan hanyalah Elmira yang tetap tenang dalam diamnya. Dengan gerakan hati-hati, Amanda mengulurkan Elea kembali ke pelukan Elmira. Bayi itu menggeliat sedikit sebelum kembali tenang dalam dekapan hangat pengasuhnya. "Aku harap kamu tidak salah paham," suara Amanda terdengar tenang, namun dingin. "Tristan mungkin membawamu ke sini, mungkin dia memberimu tempat, tapi jangan pernah berpikir bahwa itu berarti kau bagian dari keluarga ini." Elmira menunduk sedikit, menerima ucapan itu tanpa perlawanan. Ia sudah menduga hal ini pasti akan terjadi. "Saya tidak akan berharap lebih, Nyonya," sahut Elmira. "Kamu ada di sini karena Elea membutuhkannya," lanjut Amanda. "Tidak lebih. Kamu bukan siapa-siapa. Aku harap kau mengingat itu dan tetap pada tugasmu." Hening mengisi ruangan sesaat. Elmira merasakan jantungnya berdegup sedikit lebih cepat, tapi ia tetap menjaga ekspresi netral. "Ya, Nyonya," jawabnya pelan. Amanda menatapnya sekali lagi, lalu melangkah pergi tanpa kata tambahan. Begitu sosok wanita itu menghilang di balik pintu, Elmira menundukkan kepala, mengusap punggung kecil Elea. "Aku tahu," gumamnya, lebih kepada dirinya sendiri. "Kamu pun juga tahu hal itu, bukan?" Elea tampak tersenyum kecil, seolah mengerti apa yang Elmira katakan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD