Tristan duduk di ruang kerjanya, lampu meja satu-satunya cahaya yang menerangi ruangan luas itu. Di depannya, foto Soraya terpajang jelas di dalam pigura perak yang selalu ia jaga. Senyum istrinya di foto itu terlihat begitu lembut, seakan masih hidup dan menemani malam-malam panjangnya yang kini semakin penuh tekanan. Ia menghela napas berat, lalu menyandarkan punggungnya ke kursi. Jemarinya meremas pelipis kanannya, mencoba mengusir rasa lelah yang menggelayuti pikirannya. Malam ini, pikirannya berkecamuk lebih dari biasanya. Rencana ayahnya memang cerdas, tetapi ini bukan sekadar permainan bisnis. Tristan meraih pigura itu, menatap dalam-dalam mata Soraya dalam gambar. Bibirnya bergerak pelan, suara beratnya hampir seperti bisikan. "Maafkan aku, Sayang. Selama ini aku diam, membiarka

