Chapter 11

1012 Words
Will mengecup bibir Macy kemudian tersenyum, senyum yang tak pernah ia berikan kepada siapapun kecuali Mamanya dan wanita dihadapannya kini. Mereka kembali saling memandang satu sama lain. Diam-diam Warren yang berada tak jauh dari mereka, memandang mereka dengan penasaran. Tadinya ia berniat menjadikan Macy sebagai one night stand-nya. Namun ketika melihat Will sang pemilik CT Corp. mengecup bibir Macy, membuat pria itu semakin gencar ingin merebut Macy. Tadinya ia benar-benar memiliki niat untuk bekerja sama dengan CT Corp.. Namun karena adegan itu, ia membatalkan niatnya tersebut. Ia tak tahu mengapa ia ingin melakukan hal itu. Yang pasti, ia tak suka melihat mereka bersama. Kini, alunan lagu kembali berganti.   ~Celine Dion - My Heart Will Go On~   Every night in my dreams I see you I feel you That is how I know you go on Far across the distance And spaces between us You have come to show you go on   Near, far, wherever you are I believe that the heart does go on Once more you open the door And you're here in my heart And my heart will go on and on   Lagu milik Celine Dion yang pernah menjadi soundtrack dari film bersejarah Titanic tersebut, menjadi lagu terakhir dari  sesi pertama pesta dansa. Dan hal itu semakin membuat Will dan Macy menikmati dansa mereka sembari berbincang-bincang. Bercerita tentang hal yang tidak penting sekalipun. ------- Hubungan Will dan Macy semakin dekat dan mengalir layaknya tak akan ada yang dapat memisahkan mereka. Seakan waktu berlalu dengan cepat, hari berganti semi hari hingga tak terasa, minggu depan adalah hari pernikahan Monica yang berarti pernikahan Macy dan Will juga semakin dekat. "Kak, bagaimana gaunnya?" Tanya Macy pada Monica. Kini mereka berada di butik Monica untuk menemani sang kakak fitting wedding gown-nya. Yap. Butik selain menyediakan gaun, butik Monica juga menyediakan jasa Wedding Organizer. Hingga segala persiapan untuk pernikahannya telah diurus oleh asistennya dibawah pantauan dirinya. Sebenarnya orang tua dan Roy telah melarang Monica untuk mengerjakannya sendiri dan lebih memilih jasa WO lain. Hanya saja Monica bersikeras ingin menyiapkan segalanya sendiri. Bahkan ia sendiri yang merancang gaun pernikahan impiannya. "Sudah selesai, sudah lama malah. Kakak sudah suruh Mega untuk mengambilnya" Ucap Monica. Mega adalah asisten pribadi Monica. Ketika Monica sedang tidak berada di butik, maka Mega yang akan menggantikan Monica untuk meng-handle segala sesuatu yang menyangkut tentang butik. Tak lama, Mega datang bersama beberapa pegawai membawa patung mannequin yang diluarnya terdapat gaun pengantin yang sangat indah. Wedding gown berwarna white bone. Gaun dengan bentuk ball gown di bagian bawahnya serta flower lace di bagian lengannya. "Wah! Kak, ini sangat indah" Seru Macy sembari berjalan mendekati gaun tersebut. "Kakak tahu, hasil karya kakak memang selalu memuaskan dan tidak pernah mengecewakan" Puji Monica pada dirinya sendiri. "Iya ‘deh yang minggu depan mau nikah" Sindir Macy. "Oh iya, Kak Roy di mana?" Tanyanya. "Tadi katanya dia bakal telat soalnya ada operasi mendadak. Jadi tunggu saja, mungkin sebentar lagi datang" Jawab Monica. Selang berapa waktu, seorang pria tampan nan tinggi berjalan masuk menghampiri mereka. "Hei Baby!" Sapa pria tersebut sembari mengecup pipi Macy. "Sayang!" Ucap Monica sembari memeluk pria itu. "Akhirnya yang ditunggu datang juga" Timpal Macy. Ya, pria itu adalah Roy. "Kenapa? Adik ipar kangen ya?" Canda Roy. "Masih calon Kak, ‘kan belum resmi" Ucap Macy. Roy bukanlah pria datar, dingin, apalagi irit kata seperti seseorang yang ia kenal. Melainkan pria yang baik, hangat, cerewet dan humoris. Karena itu, siapa pun yang mengenalnya akan merasa nyaman. Dan karena itu pula sejak pertama Macy bertemu Roy, ia tak merasa canggung sama sekali. "Iya calon adik ipar yang merindukan calon kakak iparnya" Canda Roy dengan menekan kata calon. "Iih siapa juga yang rindu. Aku tanya karena Kak Roy lama banget. Kak Monic sudah rindu berat 'tuh" Ucap Macy. "Iya, maaf aku telat. Soalnya tadi operasinya ada kendala sedikit" Jelas Roy. “Cuekin terus” Rajuk Monica. “Aduh, aduh, sayangku cemburu” Goda Roy. “Siapa yang cemburu?” Kesal Monica. “Jangan marah sayang, kamu semakin cantik kalau lagi cemberut” Goda Roy sembari mencubit pipi Monica. “Jangan cubit” Kesal Monica. “Lagi-lagi jadi obat nyamuk” Sindir Macy. "Siapa suruh ikut. Jadi obat nyamuk ‘kan" Ejek Roy sembari tertawa. "Kak Roy jahat. Aku lapor sama Will baru tahu rasa" Kesal Macy. “Bisanya cuma ngadu. Ngadu saja sana, orangnya juga tidak ada di sini" Tantang Roy. "Kak Roy, ih. Tunggu ya, aku bakal telepon Will" Ucap Macy kemudian mengambil ponsel di dalam tas selempangnya hingga sebuah suara menghentikannya. "Kenapa mau telepon aku?" Tanya Will yang tiba-tiba muncul di hadapan mereka. "Will!" Seru Macy terkejut kemudian menghampiri pria itu lalu memeluknya. "Kamu lagi apa di sini?" Tanyanya sembari melepaskan pelukannya. "Jemput kamu" Jawab Will. "Tadi kenapa mau telepon aku?" Tanya Will. "Hampir lupa. Ini ‘nih Kak Roy ejek aku, bilang aku obat nyamuk" Adu Macy kemudian menatap kesal ke arah Roy. "Memang nyatanya begitu ‘kan, sebelum pahlawan kamu datang" Ucap Roy membela dirinya. "Sudah, tidak usah bertengkar. Kalian berdua tidak malu sama umur ya? Setiap bertemu selalu perang mulut dan lupa sama sekitar. Lagipula sebenarnya tujuan kalian kemari mau temani aku fitting gaun atau mau perang mulut?" Oceh Monica. "Maaf baby. Salahin Macy saja yang selalu mulai duluan" Ucap Roy. "Kenapa aku yang disalahin? Kak Roy yang selalu mulai duluan tahu. Will, Kak Roy fitnah aku" Adu Macy lagi. "Sudah, lebih baik sekarang kita pergi. Aku mau ajak kamu jalan" Ajak Will. "Jalan? Ke mana?" Tanya Macy. "Ke mana pun asal kamu tidak jadi obat nyamuk lagi" Ucap Will yang membuat Roy dan Monica terkekeh. “Pahlawanmu saja mengakui" Ejek Roy semakin terbahak. "Kamu ya, sama saja kayak Kak Roy. Pokoknya aku marah" Ucap Macy kemudian mengambil tasnya. "Aku pergi. Jangan ditahan" Pamitnya pada Monica dan Roy dengan nada datar kemudian pergi begitu saja lalu masuk ke mobil Will yang telah Will buka kuncinya ketika Macy berjalan keluar tanpa menghiraukan dirinya. "Kalau begitu saya juga permisi" Pamit Will pada Monica dan Roy kemudian berlalu menyusul Macy. “Hati-hati. Tolong jaga adik ipar saya” Ucap Roy. “Pasti” Ujar Will kemudian pergi menyusul Macy. "Adik kamu ‘kok tambah manja semenjak dijodohkan sama Will?" Tanya Roy bingung. "Tidak tahu, mungkin hormon orang kebelet nikah kali" Jawab Monica asal. "Memang ada hormon kayak begitu?" Tanya Roy. "Tidak ada ‘lah. Memang kamu percaya? Kamu ‘kan dokter, masa kayak begitu saja tidak tahu" Ujar Monica. "Dokter ‘kan juga manusia baby" Ucap Roy. "Ya sudah, kamu coba gaun kamu dulu. Aku sudah tidak sabar pengen lihat kamu pakai gaun itu, apalagi di depan altar nanti" Goda Roy membuat Monica merona.    ------- Satu kata buat Warren dong >_< Love you guys~
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD