Wanita berambut pendek itu melangkah mendekati Dominic dengan penuh percaya diri. Gaunnya hitam polos, potongannya tegas, menempel sempurna di tubuh atletisnya. Senyumnya tenang, bukan senyum menggoda melainkan senyum seseorang yang tahu persis di mana ia berdiri dan apa yang sedang ia pertaruhkan. Tatapannya tajam, dingin, dan tidak meminta izin. Lelaki yang berjalan di sampingnya menggenggam tangannya dengan gentle. Wajahnya tampan, rahangnya halus, sorot matanya tenang seperti danau yang permukaannya nyaris tak beriak. Keduanya berjalan seiring, langkah mereka sinkron, seolah telah dilatih untuk bergerak bersama. Aura mereka kuat. Bukan aura orang kaya baru, bukan pula aura pencari perhatian.Mereka bagai yin dan yang dalam filosofi Tiongkok. Lelaki itu adalah implementasi dari bulatan

