Suasana di depan kamar operasi terasa menyesakkan. Sepi, tapi penuh tekanan. Friska duduk di kursi dingin lorong rumah sakit, blazer mahalnya kini bersimbah darah, darah anaknya sendiri. Tangannya terkatup erat di depan d**a, jemarinya bergetar. Bibirnya bergerak pelan, komat-kamit mengucap doa. Doa pertama yang ia panjatkan pada Tuhan setelah bertahun-tahun hidup tanpa percaya siapa pun selain kekuasaan. Doa untuk putra yang baru saja kembali ke pelukannya. Putra yang melindunginya dari peluru seorang ibu palsu bernama Amy. Di hadapannya, Dianne dan Aidan berdiri diam. Mereka tidak berkata apa-apa. Mereka tahu, ini bukan saat untuk kata-kata. Ini saat bagi seorang ibu yang hampir kehilangan segalanya untuk berharap. Waktu terasa berjalan lambat. Terlalu lambat. Sampai akhirnya…pintu

