SELAMA Clara mendiamkannya, Ronald tidak tahu harus melakukan apa setiap kali pulang dan menyadari bila ia hanya sendirian di apartemennya. Tidak ada Clara. Hanya ada dirinya saja. Seorang pria kesepian yang tinggal sendiri di rumah kecilnya. Benar-benar pria yang malang. Selama itu juga Ronald jadi kesulitan memejamkan mata dan beristirahat layaknya manusia normal lainnya. Dia baru bisa tidur setelah jam menunjukkan angka tiga dan ia akan terbangun lagi dua jam atau tiga jam kemudian. Hal itulah yang membuat mood dan jadwal hariannya semakin berantakan. Semua itu bukan salah Clara. Ronald tahu itu bukan salah kekasihnya. Itu semua salahnya sendiri, salah pikirannya yang terus menerus tidak bisa berhenti. Dia rindu Clara. Dia ingin perempuan itu ada di sisinya, di pelukannya, dan menema