02.11 Layla terbangun saat perasaan sakit itu kembali menggerogoti tubuh bagian bawahnya. Dengan kaki gemetaran Layla pelan-pelan beringsut dari kasur keluar dari kamar. Di ruang tamu, Layla berbaring di sofa memegang perutnya. Ia tidak boleh meremasnya, takut-takut bayi nya akan terkena masalah. Huff… huff… huff… rasa sakit itu semakin membuat Layla menggigit bibirnya agar tangisan tidak terdengar ke dalam kamar. Bisakah ia bertahan sedangkan lima bulan lagi kelahiran bayi pertamanya akan terjadi. Astaga! Ini lebih sakit daripada jatuh dari tangga. Layla merasa tulang-tulangnya seperti terpisah. "Huff… tahan Lay, tahan. Jangan cengeng jangan, hufff. Sial. Ini sakit sekali astaga!!" semakin Layla mengusap, rasa sakit itu semakin terasa. "Sayang, kau dimana?" Deg! Layla segera perb

