Ammar berangkat ke Bandung tanpa menunggu Titan pulang dari kampus. Istrinya memiliki kegiatan di kampusnya terkait rencana pembuatan makalah Mahasiswa yang akan menyelesaikan magangnya. Dia buru-buru karena ingin bertemu dengan seseorang terlebih dulu yang kemarin malam menghubunginya. Ammar merasa jika ada sesuatu yang diketahui oleh orang itu terkait rencana jahat keluarga Prayoga. “Hai, Mar.” “Langsung saja tidak perlu basa-basi. Aku tidak memiliki banyak waktu.” Wanita itu tersenyum manis pada Ammar. Sifat Pria yang dikenalnya tidak berubah setelah sekian lama tidak bertemu. “Masih sama seperti Ammar yang dulu,” ucapnya. Ammar duduk bersiap mendengarkan informasi yang diketahui Wanita yang kini tengah sibuk dengan ipad yang baru saja dikeluarkan dari dalam tas jinjingnya. “Apa k

