Lampu gantung kristal di kamar lantai dua itu bergetar perlahan ketika angin malam menembus celah jendela yang tidak tertutup rapat. Cahaya kekuningan menimpa wajah Lucas yang kini berdiri begitu dekat di hadapan Allysa. Nafasnya berat, matanya berkilat tajam, dan rahangnya mengeras menahan luapan emosi.
Allysa mendongak karena dagunya terjepit cengkeraman kasar Lucas. Sentuhan itu menyakitkan, seolah ingin mematahkan tulang rahangnya. Tatapan matanya menembus luka batin Allysa, dingin sekaligus penuh tekanan.
“Bunuhlah aku.” Suara Allysa pecah namun bergetar tegas. Air matanya jatuh satu-satu, tapi ia tidak berusaha menghapusnya. “Biar hatimu puas, Tuan. Tapi izinkan terlebih dahulu aku pulang ke Indonesia … untuk menemui keluargaku terakhir kali. Aku berjanji tidak akan kabur. Bahkan jika Tuan mau mengawalku dengan pasukan bersenjata, aku setuju.”
Kata-kata itu menampar sisi paling gelap dalam diri Lucas. Ia membenci keberanian itu. Membenci kenyataan bahwa meski Allysa tampak rapuh, ia tidak bisa menaklukkannya dengan ancaman biasa.
Cengkeraman Lucas di dagu Allysa semakin kuat. Urat di lehernya menegang, lalu tangan satunya merogoh saku jas hitamnya. Seketika kilatan logam dingin muncul—pistol hitam yang selama ini selalu menempel padanya.
Senjata itu kini menempel tepat di pelipis Allysa.
Allysa terkejut sepersekian detik, tapi kemudian kelopak matanya tertutup rapat. Tubuhnya yang sempat kaku, kini terlihat pasrah. “Ayo, bunuh aku! Lebih baik mati di sini daripada menikah dengan pria sepertimu, Tuan Lucas!” teriaknya dengan suara pecah.
Nafas Lucas tercekat. Ia mengira gertakan itu akan membuat Allysa menjerit atau meronta. Tapi gadis itu justru menyongsong maut dengan kepala tegak. Ada api di balik ketakutannya, api yang entah kenapa membakar sisi terdalam hati Lucas.
Detik berikutnya, pistol itu bergeser. Lucas menurunkan senjata, tapi secepat kilat ia menyambar pinggang Allysa, lalu mengangkat tubuhnya. Allysa terperanjat, tubuh ringkihnya seakan melayang di udara sebelum dihempaskan kasar ke atas ranjang empuk.
Suara benturan tubuh dengan kasur menggetarkan udara, sementara helaan nafas Allysa terdengar tersengal. Namun belum sempat ia bangkit, tubuhnya sudah terkungkung oleh sosok pria dewasa yang jauh lebih kuat.
Lucas bertumpu dengan kedua lengannya di sisi wajah Allysa, mengurungnya. Tatapannya tajam, wajahnya hanya sejengkal dari wajah Allysa. Bau asap rokok dan aroma maskulin bercampur menyesakkan udara di antara mereka.
“Dengarkan aku baik-baik!” Suara Lucas berat, serak, tapi penuh bara. “Ini bukan pernikahan sungguhan. Aku tidak bicara soal cinta, aku bahkan tidak menginginkan hatimu. Ini hanya permainan … strategi untuk membuatmu tetap hidup, sekaligus mencari tahu rahasia dibalik kematian adikku.”
Allysa memalingkan wajah, tak mau menatap mata tajam itu. Jantungnya berdegup kencang, antara takut dan marah bercampur jadi satu. “Permainan? Bagimu mungkin hanya permainan, Tuan. Tapi bagiku, ini hidupku. Harga diriku. Aku tidak akan menggadaikan itu hanya demi bertahan hidup di bawah namamu.”
Lucas menekan rahangnya, memaksa gadis itu menatapnya lagi. “Kau selalu bilang tidak takut mati, tapi aku tahu kau takut! Tatapan matamu, napasmu yang bergetar, tubuhmu yang gemetar setiap kali aku mendekat—kau takut, Allysa! Tapi entah kenapa kau terus menantangku!”
Air mata Allysa jatuh semakin deras. Suaranya parau ketika ia membalas. “Aku takut, ya … aku takut! Tapi bukan padamu, Tuan Lucas. Aku takut pada diriku sendiri—takut kehilangan siapa aku sebenarnya. Kau bisa merenggut nyawaku, tapi jangan paksa aku kehilangan jiwaku.”
Kata-kata itu menghantam d**a Lucas lebih keras daripada peluru. Ia terdiam sejenak, napasnya terengah. Ada sesuatu dalam tatapan gadis itu—sebuah cahaya yang tak bisa ia hancurkan meski dengan kekerasan.
Tangannya yang masih menggenggam pistol akhirnya terlepas, senjata itu jatuh di samping ranjang. Ia menunduk lebih dekat, hingga ujung hidungnya hampir menyentuh kening Allysa. Suaranya kini bergetar, lebih lirih, tapi tetap tajam.
“Kalau kau mati, Allysa … aku tidak akan pernah tahu siapa sebenarnya yang membunuh Kendrick. Kau mengerti? Aku butuh kau hidup bukan karena aku peduli … tapi karena kebenaran itu ada di sekitarmu.”
Allysa menahan napas, bibirnya bergetar. “Kebenaran? Atau dendam, Tuan Lucas? Kau bahkan tidak tahu lagi apa yang kau cari. Kau hanya hidup dengan darah, amarah, dan permainan kotor keluarga mafiamu.”
Lucas memejamkan mata sejenak, mencoba menahan emosi yang meledak. “Kau tidak tahu apa pun tentangku.”
Allysa membalas cepat. “Aku tahu cukup! Kau dingin, kau membunuh tanpa ragu, kau mengurung orang tanpa hati nurani. Kau bukan Kendrick—kau tidak akan pernah jadi pria sehangat dia!”
Nama itu membuat Lucas menegang. Kendrick. Lelaki yang selalu menjadi perbandingan, bayangan yang terus menghantui. Rahang Lucas mengeras, tangannya mengepal di seprai.
“Jangan sebut namanya di hadapanku lagi!” raungnya lirih namun penuh amarah.
Allysa menatapnya dengan sorot penuh luka. “Kenapa? Karena kau tahu dia lebih manusiawi daripada dirimu? Karena kau tahu aku mencintainya, bukan kau, Tuan?”
Keheningan menyesakkan ruangan. Hanya ada suara napas keduanya yang berat dan terputus-putus.
Lucas akhirnya menarik napas panjang, lalu bangkit perlahan. Ia berdiri di tepi ranjang, membelakangi Allysa. Bahunya yang lebar naik-turun menahan badai amarah di dadanya.
“Cinta …,” gumamnya getir. “Kata itu tidak ada artinya di dunia ini. Hanya kekuasaan, hanya darah. Kau akan mengerti cepat atau lambat.”
Allysa terduduk di ranjang, tubuhnya bergetar. Ia mengusap air matanya dengan punggung tangan. “Aku tidak akan pernah mengerti dunia kotormu, Tuan. Lebih baik aku mati.”
Lucas menoleh, matanya masih menyala dingin. “Kau pikir aku tidak bisa melakukannya sekarang juga?” Tangannya menyambar pistol di samping ranjang, menodongkannya lagi. Tapi kali ini, tangannya bergetar sedikit—sesuatu yang jarang terjadi pada Lucas Alberto.
Tatapan mereka kembali bertemu. Allysa tak lagi menutup mata. Ia menatap lurus ke arah senjata itu, tanpa gentar. “Kalau begitu, lakukanlah. Tapi ketahuilah, jika aku mati … kau tidak akan pernah tahu kebenaran tentang Kendrick. Kau akan hidup dengan bayangan yang takkan pernah terjawab.”
Lucas terpaku. Kata-kata itu menghantamnya lebih keras daripada teriakan apa pun.
Tangannya turun perlahan. Pistol itu ia jatuhkan ke lantai, kali ini lebih tegas. Suara logam menghantam marmer kamar, memecah keheningan.
Ia berjalan cepat menuju jendela, membuka tirai dengan kasar. Cahaya lampu kota Istanbul menyorot masuk, menerangi wajah tegangnya. “Sial …,” desisnya lirih.
Allysa menatap punggungnya, dadanya masih naik turun. Rasa takut dan marah berbaur dalam dirinya. “Kenapa kau tidak bisa melepaskanku saja, Tuan Lucas? Aku bukan pembunuh! Biarkan aku kembali ke keluargaku. Biarkan aku hidup dengan caraku.”
Lucas menoleh setengah, menatapnya dengan sorot mata penuh konflik. “Karena jika aku melepaskanmu sekarang, mereka akan menemukanmu. Keluarga besarku. Musuhku. Varela. Kau akan mati sebelum sempat menyentuh tanah Indonesia.”
Hening kembali menggantung.
Lucas akhirnya melangkah kembali, berdiri di sisi ranjang, menunduk menatap Allysa yang masih terduduk dengan wajah penuh air mata. Suaranya kali ini lirih, tapi lebih jujur.
“Aku tidak peduli kau membenciku, Allysa. Aku tidak peduli kau menganggapku monster. Tapi aku tidak akan membiarkan mereka menyentuhmu. Kalau perlu, aku akan melawan keluargaku sendiri.”
Allysa terdiam. Kata-kata itu membuat jantungnya berdegup kencang. Ia ingin marah, tapi ada sesuatu dalam suara Lucas yang terdengar berbeda—lebih manusiawi, lebih rapuh.
Namun sebelum ia sempat membalas, pintu kamar diketuk keras dari luar.
“Tuan Lucas!” Suara Marco terdengar cemas. “Kita punya masalah besar. Orang-orang Varela sudah memasuki wilayah Istanbul. Mereka ternyata mencari Camilla—dan nama Allysa ada dalam daftar mereka.”
Lucas menoleh cepat, matanya menyipit. Detik itu, atmosfer kamar berubah drastis.
Ia meraih pistol di lantai, menyelipkannya kembali ke pinggang, lalu menatap Allysa tajam. “Mulai malam ini, kau tidak lagi hanya target keluargaku, tapi juga buruan Varela. Dan itu artinya … badai baru akan segera datang.”
Allysa terdiam, tubuhnya merinding. Ia menyadari bahwa hidupnya kini benar-benar berada di ujung tanduk.
Di antara dentuman jam yang berdetak lambat, kamar itu menjadi saksi dua jiwa yang saling berlawanan—namun terikat dalam pusaran konflik mafia yang makin mematikan.
Dan di luar sana, malam Istanbul terus bergejolak, menyiapkan panggung untuk perang yang lebih besar.