Bab 3. Tawaran Menggiurkan

1232 Words
Vivian terhenyak. Rahangnya mengeras. Ia menegakkan kepala, menatap Ethan tajam, tapi pria itu hanya terkekeh rendah, matanya yang bening dan tajam menyorot wajahnya dengan intensitas memabukkan. “Lain kali?” Vivian menahan suaranya agar tak melengking. “Pak, itu ... sebuah kesalahan.” “Oh, aku enggak merasa begitu,” jawab Ethan ringan. “Kamu menikmatinya. Aku juga. Jadi, untukku itu … adalah kesepakatan yang menyenangkan,” katanya tanpa beban. Vivian membuang napas panjang, mencoba menguasai diri. Ia bukan gadis naif. Ia tahu pria seperti Ethan bisa dengan mudah mempermainkan siapa saja. Namun, yang membuatnya makin tak nyaman, bukan hanya karena ia pernah tidur dengan atasannya. Melainkan karena sorot mata Ethan seolah-olah ... menyimpan ketertarikan yang tak biasa. “Bisa ... saya kembali ke meja kerja saya, Pak?” ucapnya tegas, berusaha mempertahankan profesionalitas. Karena sepertinya percuma berdebat dengan pria muda di hadapannya. Ethan hanya mengangguk, tapi sebelum Vivian sempat berbalik, ia berkata, “Kamu cantik pagi ini, Vivian.” Langkah Vivian terhenti. Jantungnya berdegup gila. Dia tahu, pria itu tahu namanya. Tentu saja, dia adalah karyawan di sini. Dan ia curiga, pemanggilannya ke sini juga sudah ia susun dengan matang. Vivian langsung pergi tanpa berkata apa-apa. Langkahnya cepat, hampir seperti lari. Sesampainya di mejanya, ia langsung duduk dan menunduk, wajahnya memerah. Napasnya tak beraturan. Entah dosa apa yang ia perbuat di masa lalu hingga mengalami nasib yang sesial ini. Namun, semuanya sudah kadung terjadi. Yang bisa ia lakukan hanya berdoa, agar ucapa Ethan tadi hanya bualan semata. Dia harus fokus kerja. Dia harus menjauh dari pria itu. Namun, di balik pikirannya yang kalut, satu suara kecil muncul di kepalanya dan tak mau diam. “Nikmat.” Beberapa menit kemudian, Vivian memutuskan untuk membuat kopi. Ia butuh sesuatu yang bisa menenangkan dirinya. Pada ruang pantry kantor, Vivian berdiri diam sambil menatap kosong ke arah cangkir kopinya. Tangannya gemetar sedikit ketika mengingat ucapan Ethan tadi. Sampai suara rekannya terdengar menyapa. “Vi.” Suara itu membuatnya menoleh. Temannya–Mita–sudah berdiri di sana sambil memiringkan kepala. “Kamu kenapa? Dari tadi kayak orang abis lihat hantu. Emang CEO baru, tuh, se-menyeramkan itu, ya?” tanyanya. Vivian mengerjap, mencoba menyembunyikan gelombang emosi yang berputar di dalam dirinya. Dia menarik napas dalam, lalu menyunggingkan senyum kecil. “Enggak. Dia … baik, kok. Bahkan sangat baik,” katanya dusta. Mita mengerutkan kening. “Kamu yakin? Padahal gosipnya, dia dingin, kejam, suka marah, dan—” “Jangan percaya gosip.” Vivian memotong cepat, kali ini nadanya sudah lebih mantap. “Dia cuma terlihat begitu karena terlalu ganteng.” “Eh?” Dina melotot. “Beneran ganteng, ya?” Vivian hanya tertawa kecil, mengangkat bahu, dan meminum kopinya. Namun, jauh di dalam hatinya, ia tahu, Ethan Sinclaire bukan hanya bosnya sekarang. Pria itu adalah kesalahan yang ia pikir akan berlalu begitu saja, tapi nyatanya … malah kembali dengan posisi yang jauh lebih tinggi. Dan lebih berbahaya. *** Koridor lantai dua Sinclaire Holdings dipenuhi bunyi sepatu dan suara kertas berdesir. Beberapa staf terburu-buru menyiapkan berkas untuk rapat besar. Udara dipenuhi aroma kopi segar dari pantry, bercampur wangi parfum mahal yang tiba-tiba saja mendominasi ruang. Sumbernya muncul dari ujung lorong. Ethan Sinclaire keluar dari ruangannya dengan langkah panjang dan pasti. Jas hitamnya terpotong rapi mengikuti bahu bidangnya, kemeja putih bersih memantulkan cahaya lampu. Dasi abu gelapnya sedikit longgar—cukup untuk memberi kesan santai tapi tetap berwibawa. Di belakangnya, seorang asisten mengikuti. Tangannya memegang tablet, sedangkan Ethan menyelipkan tangan di saku celana, seperti pria yang tahu betul bahwa semua mata memang sedang tertuju padanya. Vivian, yang sedang berdiri di dekat meja resepsionis sambil mengecek email di ponselnya, otomatis mendongak. Tatapan mereka bertemu sekejap—sekilas, tapi cukup untuk membuat napasnya tercekat. Mata itu ... terlalu mengenal dirinya. Ethan tidak berhenti. Dia hanya melirik sebentar, sudut bibirnya terangkat tipis, sebelum melanjutkan langkahnya menuju ruang meeting. Begitu pria itu lewat, koridor seolah meledak oleh bisik-bisik kagum. "Astaga, dia tinggi banget ya." "Gila, kayak model majalah." "Wajahnya... Tuhan, aku rela lembur tiap hari kalau bosnya kayak gitu." "Udah ganteng, kaya, muda. Sempurna." Vivian menutup layar ponselnya, lalu menggeleng pelan. Bibirnya menekan satu sama lain, menahan komentar yang ingin ia lontarkan. Sempurna? batinnya getir. Kalian tidak tahu seperti apa pria itu sebenarnya. Ia menghembuskan napas, berusaha kembali fokus pada pekerjaannya. Namun, langkah mantap Ethan, senyum sinisnya, dan ingatan semalam masih terus membayang di pikirannya—menjadikan pria itu masalah yang tak bisa ia singkirkan begitu saja. *** Saat jam kerja berakhir dan seluruh lantai mulai lengang, Vivian membereskan mejanya dengan cepat. Rasanya ia ingin lenyap dari kantor itu secepat mungkin. Hari ini terlalu padat, bukan karena pekerjaan, tapi karena kenyataan bahwa lelaki yang pernah tidur dengannya kini adalah atasannya sendiri. Dan itu masih jadi momok paling menakutkan. Langkah Vivian terhenti di depan pintu lobi. Matanya membulat begitu melihat sosok Hans berdiri di depan mobil hitamnya, bersandar dengan santai sambil mengetik di ponsel. Pria itu seperti tak merasa bersalah sedikitpun atas pengkhianatan yang ia lakukan. Vivian langsung mundur dua langkah dan berbalik. “Aku malas ketemu sama dia,” desisnya pelan, kembali masuk ke dalam gedung dan menyandarkan diri sejenak di dinding lorong lift. Ia membuka ponsel, mengetik cepat pada aplikasi penyewaan hunian. Mencari kontrakan murah di sekitar kantor sebagai alternatif jika ia benar-benar ingin pergi sementara dari rumah. Namun, tiba-tiba ia dikejutkan dengan suara yang cukup ia kenal. "Masalah rumah tangga, ya?" tanyanya. Suara bariton itu membuat Vivian menegang. Ia mendongak perlahan dan mendapati Ethan Sinclaire berdiri beberapa langkah darinya. Lengan jasnya terlipat santai, dasinya sedikit longgar seperti pria yang baru saja menyelesaikan hari kerja panjang dan tetap terlihat memikat. Di wajahnya terpatri senyum menantang yang sangat dikenali Vivian. “Sepertinya suamimu sedang menunggu dengan sabar di luar. Tapi kamu justru sembunyi di sini. Apa aku harus khawatir karena kamu lebih memilih bersembunyi dariku ... atau darinya?” ucap Ethan. Vivian menggertakkan giginya. “Jangan ikut campur.” “Oh, come on. Setelah malam seintens itu, kamu pikir aku nggak akan tertarik dengan dramamu?” Ethan mendekat selangkah. “Tapi tenang aja, Vivian. Aku bukan tipe pria yang akan memaksa perempuan kembali ke tempat tidurku, walau, well, kamu bisa mengajukan permintaan kalau mau,” ucapnya santai. Vivian menatapnya tajam, menahan amarah sekaligus rasa malu. “Sudahlah,” gumamnya, lalu melangkah pergi menuju lift, tanpa berniat menanggapi lebih jauh. Namun, sebelum pintu lift tertutup, Ethan menambahkan dengan suara pelan tapi jelas, “Kalau kamu butuh tempat tinggal sementara, aku punya apartemen kosong. Gratis. Nggak perlu bayar kayak semalam.” Vivian nyaris menekan tombol darurat saking geramnya. Sialan, batinnya. Lelaki itu benar-benar ... masalah besar. Vivian belum bisa menjawab ketika kemudian Ethan kembali menawarkan bantuan. “Aku bisa buat kamu keluar tanpa dia melihat,” ucapnya ringan, seperti sedang menawarkan bantuan yang sepele. Vivian menatapnya curiga. “Dan aku harus bayar juga kali ini?” Ethan tertawa kecil, nyaris seperti ejekan. “Tidak semua jasaku butuh dibayar dengan uang. Kadang cukup dengan waktu. Atau … kebersamaan,” katanya menggoda. Tatapan mereka terkunci. Vivian tahu dia seharusnya menolak, tapi ide untuk tidak harus berhadapan dengan Hans terlalu menggoda. Ethan menyeringai tipis. “Anggap saja, aku sedang bersikap baik pada karyawanku. Jadi, bagaimana? Mau keluar bersamaku … atau mau terus berdiri di sini sampai dia kehilangan kesabaran?” tanya Ethan. Vivian menarik napas panjang. Ia benci mengakuinya, tapi untuk kali ini, Ethan mungkin adalah jalan keluarnya. “Oke, aku ikut kamu,” sahut Vivian kemudian.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD