BAB 1: Pertemuan Terlarang

795 Words
Langkah kaki Aisha bergema cemas di atas lantai marmer yang sunyi. Riuh rendah musik klasik dan denting gelas sampanye dari pesta amal di bawah perlahan memudar, di gantikan oleh keheningan lorong lantai tiga yang remang-remang. Aisha menatap pintu kaca yang buram di ujung lorong dengan gusar. Sial, aku benar-benar tersesat, batinnya, meremas tas tangan satinnya. "Mencari sesuatu, Nona?" Aisha terperanjat. Suara bariton yang berat, dalam dan dingin itu memecah kesunyian dari arah kegelapan balkon. Seorang pria melangkah maju ke bawah temaram lampu dinding. Setelan jas hitam mahalnya melekat sempurna di tubuh tegapnya. Wajahnya tampan, namun garis rahangnya terlihat kaku dan langsung mengunci pergerakan Aisha dengan intensitas yang mengintimidasi. "Maaf," ujar Aisha gugup, spontan melangkah mundur hingga punggungnya merapat ke dinding. "Aku... Aku mencari toilet dan jalan menuju ke aula utama. Kurasa aku salah belok." Pria itu tidak berhenti melangkah hingga jarak mereka hanya tersisa satu jengkal. Aroma maskulin bercampur wangi kayu cendana yang mewah menyerbu indra penciuman Aisha, membuat atmosfer di sekitar mereka mendadak menipis. "Ini area privat," ucap pria itu datar, matanya menyipit meneliti gaun malam satin hijau zamrud yang mengekspos bahu indah Aisha. "Dan pintu ke aula utama sudah dikunci dari luar sejak sepuluh menit yang lalu." "Dikunci?" Jantung Aisha berdegup kencang. "Lalu bagaimana Aku bisa keluar?" Pria itu menumpu satu tangannya di dinding tepat di samping kepala Aisha, mengurung wanita itu dalam kuasanya. "Ada pintu darurat di ujung kanan. Tapi... kupikir kamu sengaja ke sini." Aisha mendongak, merasa tersinggung. "Maksudmu?" "Jangan naif," bisik pria itu, suaranya yang rendah dan serak mengirimkan getaran aneh ke sepanjang tulang belakang Aisha. "Banyak wanita yang tiba-tiba 'tersesat' ke ruangan pribadiku malam ini hanya untuk mencari perhatian." "Dengar, Tuan... siapa pun Anda," Aisha mendengus, mencoba menyembunyikan getaran di suaranya. "Aku tidak tahu siapa kamu dan aku sama sekali tidak tertarik padamu. Aku tunangan orang lain." Pria itu menaikkan sebelah alisnya. Tatapannya turun ke bibir Aisha yang sedikit terbuka, lalu kembali mengunci matanya. Ada percikan gairah instan yang sangat kuat dan berbahaya di antara mereka. Sentuhan ketegangan seksual yang intim itu membuat tubuh Aisha mendadak kaku. "Tunangan?" Pria itu terkekeh sinis. Jari-jari tangannya yang hangat tiba-tiba menyentuh dagu Aisha, mendongakkannya perlahan. "Lalu di mana pria bodoh yang membiarkan wanitanya berkeliaran sendirian di sini?" Aisha menahan napas. Napas hangat pria itu menerpa wajahnya. Ia seharusnya memberontak, tapi tubuhnya menolak bergerak. "Lepas... kita bahkan tidak saling kenal." "Tapi rasanya...?" Mata pria itu menggelap, penuh gairah terlarang yang tertahan. Sebelum bibir mereka benar-benar bersentuhan, suara derap langkah sepatu yang tergesa-gesa terdengar dari arah tangga darurat. "Aisha? Kamu di sana, Sayang?" Suara itu akrab. Itu Rendra. Aisha tersentak sadar dan langsung mendorong d**a bidang pria asing itu, memutus kontak fisik di antara mereka. Napasnya terengah-engah, dadanya naik turun dengan cepat karena syok dan rasa bersalah yang mendadak menyerang. Pria itu hanya tersenyum tipis—sebuah senyuman misterius yang dingin sekaligus mengejek—lalu berbalik dan berjalan santai melewati jalan pintas lain, menghilang di balik kegelapan sebelum Rendra muncul di ujung lorong. Sepuluh menit kemudian, Aisha sudah berada di aula utama yang megah. Tangannya masih sedikit gemetar saat Rendra menggandengnya menuju panggung utama di depan ratusan kaum elit Jakarta. "Kamu dari mana saja, Sayang? Aku mencarimu ke mana-mana," bisik Rendra lembut, mengecup pelipis Aisha tanpa curiga. "Hanya... mencari udara segar," dusta Aisha. Matanya bergerak gelisah, mencari-cari sosok pria asing dari lorong tadi di antara kerumunan tamu. "Baguslah. Ini saatnya," Rendra menuntun Aisha naik ke atas podium. Rendra mengetuk mikrofon, memicu keheningan seketika di dalam ruangan yang mewah itu. "Selamat malam semuanya. Terima kasih telah hadir. Malam ini, selain merayakan kembalinya saya ke tanah air, saya ingin mengumumkan satu hal yang paling membahagiakan dalam hidup saya." Rendra merangkul pinggang Aisha dengan erat, memamerkannya pada dunia. "Perkenalkan, ini Aisha Pramesti. Wanita luar biasa yang telah resmi menjadi tunangan saya dan calon istri saya." Tepuk tangan meriah bergemuruh. Aisha memaksakan senyum formal ke arah kamera, mencoba mengusir debaran aneh di dadanya. "Dan tentu saja," lanjut Rendra, berbalik ke arah tangga panggung dengan wajah penuh hormat. "Pernikahan ini tidak akan lengkap tanpa restu dari kepala keluarga Mahendra. Kakak kandungku, pemilik tunggal Mahendra Group yang mendanai seluruh acara malam ini." Aisha ikut menoleh ke arah tangga panggung, bersiap memberikan senyuman terbaiknya untuk menyambut calon kakak iparnya. Namun, senyum di bibir Aisha langsung membeku seketika. Tubuhnya mendadak lemas dan darahnya seakan berhenti mengalir. Dari balik tirai beludru merah, melangkah keluar seorang pria jangkung dengan setelan jas mahal yang sangat familier. Tatapan matanya yang tajam dan pekat langsung mengunci lurus ke arah Aisha—penuh dengan intensitas berbahaya yang seolah mengatakan bahwa wanita itu tidak akan pernah bisa lari. Pria itu adalah Adrian Mahendra. Jantung Aisha serasa berhenti berdetak saat menyadari kenyataan pahit itu. Pria asing yang baru saja membakar gairahnya di lorong gelap tadi... adalah kakak kandung tunangannya sendiri.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD