7. Resmikan!

1191 Words
Helva tidak tahu apa yang terjadi setelah ciumannya dengan Daniel semalam. Dia terbangun dari tidurnya di atas kasur empuk. “Sialan! Apa yang harus aku lakukan?” Helva bergumam setelah matanya terbuka dan membiasakan dengan ruangan asing itu. Dia nyaris saja berteriak ketika di sampingnya tertidur sosok Daniel. Dia mengintip ke bawah selimut, kemeja putih yang sempat Daniel kenakan itu sudah tanggal, menyisakan tubuh atasnya yang toples. Celananya masih utuh, bahkan resleting celana terkunci. Helva menghela napas lalu mukanya merah sadar dengan apa yang dia lakukan. Padahal dirinyalah yang tak mengenakan pakaian utuh, hanya tank top dan celana pendek ketatnya berwarna hitam. Helva ingat sekarang dengan pergulatan mereka dari sofa. Turun dari ranjang dengan hati-hati. Helva memungut asal kemeja putih Daniel dan memakainya. Dia lantas masuk ke kamar mandi untuk membasuh wajahnya. “Apa yang kau lakukan?” tanyanya pada pantulan dirinya di cermin. “Dasar gila!” Dia mengerutkan wajah. Semalam itu dia sadar sepenuhnya tanpa pengaruh apapun, hanya buai lembut dan memabukkan dari Daniel membuat tubuhnya mengikuti alur permainan lantas berakhir di dalam kamar ukuran besar dan luas itu. Helva keluar dari kamar mandi yang ada di kamar itu. Sekilas dia melirik Daniel yang masih pulas dalam tidurnya. Tidak heran pria itu masih tidur sebab alam masih belum menampakkan cahayanya. Langit bahkan masih gelap tapi warnanya indah sekali biru tua membentang di atas dengan warna keemasan di ufuk timur. Keluar dari kamar Daniel. Niat Helva pergi ke dapur tapi dirinya justru dikejutkan oleh sosok yang duduk tegap di sofa dengan anggun dan mata tajamnya menyorot lurus ke depan, pada pintu kamar Daniel itu. Kebetulan sekali Helva keluar dari sana. “Halo, Nyonya,” sapa Helva sesopan mungkin. Dia tahu siapa yang duduk di sofa itu walau baru pertama kali melihatnya secara langsung. Tatapan itu tajam memindai Helva dari atas hingga bawah. Untungnya Helva sempat merapikan rambut dan mencuci wajah, kebiasaannya masih dipertahankan. “Mana Daniel?” Wanita itu bertanya dengan nada tegas yang menuntut. “Masih tidur. Perlu saya bangunkan?” “Tidak perlu.” Helva mengangguk tapi Dia mendadak canggung apalagi ketika tatapan tajam itu seakan menguliti Helva yang mengenakan kemeja anaknya. “Kalau kau masih ada yang perlu di urus, pergilah. Saya akan menunggu di sini,” kata wanita itu. “Baik.” Helva menyahut. “Anda mau secangkir teh atau kopi? Saya bisa buatkan,” tawar Helva tapi wanita itu mendelik. “Buatkan apa saja asal jangan diracun,” katanya. Sontak saja Helva mengulum bibirnya, menahan tawa. Dia mengangguk sopan lalu berjalan menuju dapur. “Sialan. Hari ini aku akan apes lagi?” Helva bermonolog di dapur sambil menunggu air mendidih untuk menyeduh minuman. Karena di kabinet itu hanya ada kopi dan satu jenis teh beraroma melati Helva membuatkan dua minuman itu saja sekalian dan membawanya ke ruang tengah di mana wanita itu berada. Dia adalah ibu dari Daniel. Helva tahu karena dulu sekali sudah pernah melihatnya saat acara kelulusan sekolah. “Silakan. Semoga Anda suka,” ucap Helva. Wanita anggun itu menatap cangkir teh dan kopi yang disodorkan Helva tanpa banyak ekspresi. Di hanya mengangguk tipis dan mengambil teh melati, menyeruput perlahan seperti sedang menilai bukan hanya rasa tehnya, tapi juga niat si penyaji, Helva sendiri. Helva menunduk, duduk perlahan di sisi berlawanan sofa. Tangannya meremas ujung kemeja Daniel yang dia kenakan, tubuhnya tegang, takut salah gerak. Detik-detik terasa lambat. Hingga suara pintu kamar terbuka memecah ketegangan ruangan. Langkah kaki terdengar, berat dan malas. Dan muncullah Daniel dengan rambut masih berantakan, wajah setengah tertutup kantuk, dan tanpa mengenakan apa pun di tubuh bagian atas. Hanya celana panjang kain abu-abu yang tersisa. “Astaga … .” gumamnya begitu melihat ibunya duduk tegak di sofa. Helva membeku. Cangkir di tangannya hampir jatuh kalau saja tak cepat-cepat dia genggam lebih erat. Daniel pun berhenti melangkah. Rasa kantuknya lenyap seketika. “Mom?” Ibu Daniel mengangkat satu alis, menatap anaknya dari ujung rambut hingga ujung kaki, lalu tatapannya pindah ke Helva yang saat ini tengah mengenakan kemeja putih Daniel yang kebesaran di tubuh mungilnya. “Aku menunggu dari pukul lima,” suara wanita itu akhirnya terdengar, dingin, tajam, terukur. “Kupikir hanya ingin bicara soal bisnis dan ulahmu, tapi ternyata aku harus menonton pertunjukan pagi yang tidak pantas ini.” “Mom, ini tidak seperti yang—” “Tidak seperti apa, Daniel?” sang ibu memotong, meletakkan cangkirnya dengan anggun ke atas meja. “Kau keluar dari kamar, setengah telanjang, dan gadis itu keluar 10 menit sebelum kamu memakai kemejamu pula. Apa aku perlu pura-pura tidak melihat apa-apa?” Helva berdiri panik, hendak menjelaskan. “Bu, ini hanya ... saya hanya … .” “Sudah,” kata wanita itu, mengangkat tangan pelan namun tegas. “Aku tidak perlu mendengar penjelasan klise. Aku hanya ingin tahu satu hal.” Dia menoleh pada Daniel. “Apakah dia kekasihmu?” Daniel terdiam sejenak. Helva meliriknya penuh kecemasan. Wajah pria itu mengeras, rahangnya mengencang. Dan dengan napas berat, akhirnya dia membuka suara. “Ya,” katanya mantap. “Dia kekasihku.” Helva tersentak. “Daniel—” “Mulai hari ini, dia adalah kekasihku,” ulangnya lebih keras, menatap ibunya lurus-lurus. Ruangan hening. Suara detik jam dinding terdengar jelas di sela-sela ketegangan yang meledak dalam diam. Ibu Daniel menyandarkan tubuhnya ke sofa, melipat kedua tangannya di depan d**a, menatap anaknya dalam-dalam. “Baik. Kalau begitu, aku akan sampaikan pada keluarga Risty bahwa perjodohan kalian resmi dibatalkan.” Helva terperangah. Daniel mengangguk. “Silakan saja. Bukankah Momi datang untuk itu? Mereka pasti sudah memberi tahu kalian atas apa yang aku lakukan semalam, bukan?” katanya. Dan tanpa berkata-kata lagi, wanita itu berdiri, merapikan shawlnya, lalu berjalan menghampiri anaknya. Menatap tajam sang putra yang masih bertelanjang d**a. “Oke. Aku sudah melihatnya sendiri,” katanya tenang. “Tapi, resmikan itu!” Dahi Daniel mengerut. “Aku tidak mau ada drama kontrak antara kalian. Bahkan jika perlu kalian menikah saja!” “Mom!” Daniel tak menyangka dengan perkataan ibunya itu. “Tapi Helva —” “Aku tidak menerima penolakan, Dan! Kau memperkenalkan gadis itu pada keluarga Risty Clarissa, bagaimana mungkin Momi diam, hm? Kau ingin mempermalukan keluarga dengan mengatakan hubungan kau dan gadis itu bohong hanya untuk membatalkan rencana perjodohan?” Wanita itu menatap Daniel nyalang. “Resmikan itu dan bawa dia ke rumah. Momi akan bicara pada ayah dan kakekmu.” Setelah mengatakan itu wanita itu pun berbalik lantas pergi dari sana tanpa memberi kesempatan untuk Daniel membela diri. Namun sebelum benar-benar pergi, dia sempat menoleh ke arah Helva. Tatapannya tajam namun bukan lagi sekadar penilaian ada sesuatu yang tak terucap di sana. Entah ancaman, atau sekadar pengakuan akan kekacauan yang baru dimulai. Begitu pintu tertutup, Helva menjatuhkan tubuh ke sofa. “Apa yang baru saja kau lakukan?” tanyanya lirih. Daniel hanya menatapnya dengan ekspresi setengah puas, setengah rumit. “Kuhentikan perjodohan itu. Dan, kurasa, aku baru saja menyatakan perang.” Mata Helva terbelalak, melihat Daniel yang santai. “Kau gila, Dan? Aku tidak mau terlibat,” tolak Helva. “Sayangnya, mau sudah terlibat, Hel.” “Sialan!” Helva memijat pelipisnya yang berdenyut. Oh, apa yang akan terjadi sekarang? Apakah Helva akan terlihat dalam perang keluarga yang rumit?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD