Menatap langit siang yang masih mendung, Helva entah untuk ke berapa kalinya menghela napas panjang dan dalam. Dia bingung, sama sekali tidak punya ide apapun untuk membuat keputusan itu. Menikah? Kata itu seakan tidak pernah ada lagi dalam kamus hidup Helva sejak semuanya hancur berantakan. Dulu mungkin Helva mendamba seseorang yang datang untuk meminangnya, tapi sejak semuanya tak lagi sama, yang dia harapkan saat ini hanyalah, kehidupannya menjadi lebih baik, dan ibunya bangun. Itu saja. “Helaan napasmu mengganggu sekali, Helva,” komentar Alora yang datang menghampiri. Helva duduk di kursi kayu yang terdapat di taman rumah sakit. “Terima kasih,” ucap Helva menerima sebotol minuman dari Alora. Dokter muda itu duduk di samping Helva, pada spot kosong yang masih tersisa panjang. Dia

