“Kita masih akan bertemu tiga hari ke depan, ya, Helva.” Emery tersenyum lebar tampak begitu senang dengan kehadiran Helva.
“Baik, Kak.” Helva membalas.
“Sampai jumpa besok, Helva.” Emery berpamitan.
Jam kerja sudah lewat beberapa menit lalu. Helva pun sudah resmi menjadi salah satu karyawan di Sky Light Corporation. Tapi dia belum bisa pulang karena lima menit sebelum jam teng, Daniel sudah memanggilnya untuk ke ruangan. Ada hal yang mau dia bahas.
Dengan enggan gadis itu memasuki ruangan. Rasa muak itu selalu menghantui dadanya.
“Masuk.”
Suara itu entah bagaimana selalu berhasil membuat jantungnya Helva bertalu. Entah karena benci atau sesuatu yang lain? Entahlah.
Membuka pintu dan masuk, Helva mendapati Daniel duduk tenang di sofa.
“Duduk.” Nada tenangnya memerintah. Helva menurut dan duduk berhadapan dengan Daniel. “Aku akan langsung ke inti saja. Kontraknya sudah aku buat, kau tinggal baca,” katanya.
Perhatian Helva tertuju pada meja, ada selembar kertas HVS yang sudah ternodai tinta. Meraih kertas itu, Helva membaca semua yang tertuliskan.
“Aku nggak peduli apa isinya kontrak ini,” katanya seraya mendongakkan wajahnya dan menatap Daniel. “Aku hanya ingin kau melakukan sesuatu untukku, satu hal saja. Sisanya aku nggak peduli bahkan sekalipun aku harus menjual tubuhku padamu, aku nggak peduli.”
“Helva!” Daniel menegur, nadanya tak suka mendengar apa yang Helva katakan. Dia menghela napas. “Katakan apa itu?” Pada akhirnya Daniel memilih mendengarkan Helva karena dia pikir hanya gadis itu satu-satunya yang bisa melakukan sesuatu untuknya.
“Ibuku. Aku hanya ingin ibuku kembali. Aku tidak peduli dengan apa pun, hanya ingin ibuku. Aku juga tidak peduli cara apa yang akan kau lakukan. Aku hanya ingin ibuku tetap bertahan.” Helva mengulangi satu hal, ibuku. Hanya itu permintaannya dengan kedua mata memerah.
Daniel terdiam. Dia tahu kondisi ibunya Helva dan dari penjelasan yang dia dapatkan kondisinya tak memungkinkan untuk sadar. Itu hanya sekian persen saja, sisanya hanyalah harapan kosong.
“Jika kau tak bisa, aku tak akan melakukan apapun untukmu selain sebagai sekretarismu.” Helva mengambil keputusan sendiri. Dia bangun dari duduknya, kesal karena Daniel diam. Nyatanya, bahkan Daniel pun mungkin berpikir ibunya tak layak untuk hidup lagi.
“Oke. Akan aku usahakan.” Suara itu menghentikan gerakan kaki Helva. “Asal kau bisa melakukan semuanya dengan totalitas, bahkan sekarang sekalipun,” lanjutnya seraya bangun dari duduknya. Dia memasukan tangannya ke saku celana menatap Helva yang diam.
“Oke.” Helva menyanggupi dengan mudah. Tidak ada yang dia butuhkan lagi selain ibunya. Karena itu dia sama sekali tak berpikir apa yang mungkin akan Daniel lakukan.
Helva hanya diam di depan pintu masuk sebuah butik. Di depannya Daniel sudah masuk.
“Kenapa diam?” Pria itu menegur.
“Untuk apa kau membawa aku ke sini, Dan?” Seperti yang Helva janjikan, dirinya akan bersikap biasa setelah jam kerja usai.
“Masuk aja. Kita nggak punya waktu, Hel.” Daniel menjawab sambil melengos ke dalam butik yang terdapat salah satu daerah kita Leophi itu.
Menghembuskan napasnya. Helva mau tak mau mengikuti Daniel.
Deretan baju yang terpajang di butik itu membuat Helva hanya mampu diam. Entah kapan terakhir kali dirinya mengenakan gaun cantik dengan merek desainer terkenal. Sudah lama sekali.
Seseorang menyambut mereka begitu masuk butik. Daniel hanya mengangguk lalu menyerahkan selembar kertas kecil berisi daftar. “Sesuai ini. Ukurannya, modelnya. Cepat.”
Wanita pegawai butik itu segera mempersilakan Helva duduk. Dia membawa beberapa pilihan gaun. Satu persatu diperlihatkan dan dicocokkan ke tubuh Helva.
“Kenapa harus pakai gaun seperti ini?” bisik Helva, tidak nyaman.
“Kau sekretarisku. Akan ada jamuan makan malam dengan investor dan beberapa kolega keluarga. Aku tak bisa membawamu dengan pakaian seperti biasa,” jawab Daniel, singkat dan jelas.
Helva mendesis pelan, namun tak melawan. Dia tahu, kesepakatan mereka sudah dimulai, dan dia harus bersikap profesional.
Setelah berganti gaun panjang berwarna navy dengan potongan elegan di bagian bahu dan pinggang, Helva keluar dari ruang ganti. Untuk sesaat, Daniel hanya menatapnya lama. Tak mengatakan apapun. Ekspresinya sulit ditebak.
“Kalau kau terus menatapku begitu, aku bisa saja berpikir kau benar-benar menyukaiku,” gumam Helva, kecut.
Daniel menarik sudut bibirnya, separuh senyum. “Bisa jadi,” timpalnya dengan seringai menyebalkan bagi Helva. “Aku cuma memastikan kau cukup layak berdiri di sebelahku malam ini.”
Helva menghela napas, memutar matanya malas. Dia ingin membalas, tapi tak punya energi. Pikirannya masih tertambat pada ibunya yang terbaring lemah di rumah sakit. Helva memantau ibunya lewat Alora yang wajib melaporkan perkembangan ibunya seakan Helva adalah atasan Alora.
***
Restoran itu megah. Lampu-lampu kristal menjuntai dari langit-langit tinggi. Musik piano mengalun tenang. Helva merasa canggung dengan semua kemewahan ini.
“Jangan kaku begitu. Duduklah. Kita tidak sedang masuk ke ruang interogasi,” bisik Daniel saat menarikkan kursi untuknya.
Di hadapan mereka sudah duduk pasangan suami istri paruh baya, dan seorang gadis muda dengan senyum lemah namun elegan. Dia memakai gaun warna nude yang kontras dengan rambut hitam legamnya yang disanggul rapi.
“Ini Risty Clarissa, anak dari mitra lama ayahku,” kata Daniel setelah perkenalan formal. “Dan ini Helva, sekretarisku.”
Helva membungkuk sopan. Dia tahu cukup banyak dari cerita yang beredar Risty Clarissa adalah calon pasangan yang dipilihkan keluarga untuk Daniel, demi kepentingan bisnis.
Sepanjang makan malam, Risty bersikap manis dan tenang. Orang tuanya lebih banyak bicara soal masa depan, kolaborasi perusahaan, dan kemungkinan pertunangan.
Helva menunduk sepanjang waktu, menyibukkan diri dengan memotong daging di piringnya. Dia merasa asing, sekaligus marah, entah kepada siapa. Mungkin kepada dirinya sendiri yang menerima semua ini demi ibunya. Atau kepada Daniel yang bersikap seolah ini tak berarti apa-apa.
Tapi semuanya berubah saat salah satu tamu berkata, “Risty sudah sangat cocok berdampingan denganmu, Daniel. Kalian akan jadi pasangan ideal. Mungkin sebentar lagi kita mendengar kabar pertunangan?”
Suasana jadi hening sesaat.
Dan tiba-tiba saja Daniel tertawa, ringan, tapi menusuk. “Ah, itu lucu,” katanya. “Sangat lucu.”
Semua orang menoleh.
“Sayangnya aku tidak bisa bertunangan dengan Risty,” katanya terus terang.
“Apa maksudmu?” tanya ayah Risty, keningnya berkerut.
Daniel menarik napas pelan, lalu meraih tangan Helva yang duduk di sampingnya. Gadis itu menegang seketika.
“Sebab aku sudah punya seseorang,” katanya mantap. “Helva. Dia bukan hanya sekretarisku. Dia kekasihku.”
Helva membeku.
Sementara itu, ekspresi Risty jatuh. Sang ibu terkejut, ayahnya mengepalkan tangan. “Apa ini semacam lelucon?” desisnya.
“Tidak. Sama sekali tidak,” jawab Daniel santai. “Aku tidak pernah main-main dengan hal seperti ini.”
Helva ingin menarik tangannya, tapi genggaman Daniel terlalu erat. Dia ingin marah, tapi juga bingung sebab bukankah dia melakukan kesepakatan dengan Daniel tanpa syarat apapun selain ibunya? Tapi kenapa Daniel melakukan ini? Kenapa menyebutnya kekasih?
“Helva, apa ini benar?” suara Risty lembut, tapi Helva tahu dia pasti terluka.
Helva hanya bisa menatapnya, lalu menunduk. Dia tidak bisa mengangguk, tapi juga tidak punya kekuatan untuk membantah di depan semua orang. “Ya. Saya minta maaf. Daniel … .” Dia menunduk dalam usai mengatakan itu bahkan saat menyebut nama Daniel dia tampak begitu santai dan dekat.
Daniel berdiri. “Terima kasih atas makan malamnya. Tapi sepertinya kami harus pamit.”
Dan sebelum siapa pun bisa menahan, Daniel meraih pinggangnya lalu menarik Helva bangun, menggenggam tangannya erat, dan membawa gadis itu pergi dari restoran penuh keheningan itu.
Sampai di luar restoran, angin malam menyapu wajah Helva. Gadis itu menarik tangannya dengan kasar.
“Apa-apaan tadi itu?!” suaranya gemetar. “Kenapa kau bilang aku kekasihmu?”
Daniel menoleh, wajahnya tak menyesal sama sekali. “Karena itu satu-satunya cara untuk membatalkan pertunangan tanpa merusak nama Risty. Kalau aku yang menolak mentah-mentah, itu akan jadi aib untuk keluarganya. Tapi jika alasannya adalah karena aku sudah menjalin hubungan, mereka tak bisa memaksakan apapun.”
Helva terdiam. Hatinya berdegup. Matanya panas.
“Kau bisa memilih cara lain,” katanya pelan.
Daniel mendekat, menatap lurus ke dalam matanya. “Kau ingin ibumu tetap hidup, bukan? Maka bersamaku sepenuhnya. Aku membutuhkanmu bukan cuma sebagai sekretaris.”
“Apa maksudmu?” bisik Helva.
“Mulai malam ini, semua orang akan percaya kau adalah kekasihku. Dan kita akan membuat mereka percaya sampai kontrak kita selesai.”
Helva mengatupkan bibir. Hatinya kacau. Tapi demi ibunya, dia menahan semua gejolak dalam d**a.
“Oke,” katanya. “Tapi ingat satu hal, Dan. Aku melakukan ini hanya demi ibu. Bukan karena aku mencintaimu.”
Daniel hanya tersenyum miring. “Kita lihat nanti.” Lantas pergi meninggalkan Helva yang terdiam.