Di dalam ketidaksadarannya, Amanda merasakan cairan hangat mengalir di pipinya. Matanya yang terpejam meneteskan air mata perlahan.
Ia mendengar semua ucapan Kevin. Setiap kata maaf, setiap janji, dan setiap permohonan yang keluar dari bibir suaminya itu terdengar jelas di telinganya. Tapi anehnya, hatinya tidak merasakan apa-apa.
Hatinya kosong, hampa, dan mungkin sudah mati.
"Papa ...," panggilnya di dalam hati. "Papa, aku lelah. Aku udah nggak kuat lagi."
Bayangan wajah Barata, ayahnya yang selalu tersenyum hangat muncul di benaknya. Pelukan ayahnya yang selalu membuatnya merasa aman. Suara ayahnya yang selalu menenangkan setiap kali ia menangis.
"Papa, bolehkah aku menyerah kali ini saja?" ucap Amanda lagi dalam batin yang terlalu sakit.
Air matanya terus mengalir pelan. Kevin yang masih memegang tangannya tidak menyadari tetesan air mata itu. Ia terlalu tenggelam dalam keaedihannya sendiri.
Kevin akhirnya keluar dari ruangan dengan langkah gontai. Tangannya masih gemetar saat mengambil ponsel dari sakunya. Ia menatap layar ponsel beberapa saat sebelum akhirnya menekan nama kontak yang sudah terlalu familiar baginya.
Nada sambung berbunyi dua kali sebelum terdengar suara lembut di seberang sana.
"Kak Kevin?"
"Cecil, kamu di mana?" tanya Kevin langsung tanpa basa-basi. Suaranya terdengar dingin.
"Di ... di rumah," jawab Cecilia. Ada jeda singkat yang terdengar mencurigakan bagi Kevin.
"Jangan bohong, Cecil!" bentak Kevin dengan nada keras. Beberapa perawat yang lewat menoleh ke arahnya, tetapi Kevin tidak peduli dengan hal itu.
Hening sejenak di seberang telepon. Lalu terdengar suara Cecilia yang parau, seakan menahan tangis. "Kak Kevin bentak aku?"
"Jawab, Cecil. Kamu di mana sekarang?" tanya Kevin lagi.
Cecilia langsung mendekatkan ponselnya ke Sean. Suara ocehan bayi kecil itu terdengar jelas di telinga Kevin. "Aku bersama Sean, Kak. Aku di rumah. Masa Kak Kevin nggak percaya sama aku?"
Kevin terdiam. Suara Sean yang polos itu seolah menampar kesadarannya. Mungkin ia memang terlalu berburuk sangka pada Cecilia. Mungkin ini memang hanya kecelakaan biasa. Lagi pula, jika memang Cecilia yang menabrak Amanda di sini, Kevin di rumah dengan siapa, pikirnya kemudian.
"Maaf," ucap Kevin akhirnya dengan suara yang lebih lembut. "Maaf, Cil. Aku ... aku lagi nggak baik-baik aja. Aku minta maaf kalau aku udah berprasangka buruk sama kamu."
"Memangnya kenapa, Kak? Ada apa?" tanya Cecilia dengan nada khawatir yang terdengar sangat meyakinkan. "Pasti ini karena Kak Man—"
"Diam kamu, Cil!" tegur Kevin tajam. Tanpa menunggu jawaban, ia langsung mematikan telepon.
Kevin bersandar di dinding koridor rumah sakit, menutup wajahnya dengan kedua tangan. Napasnya terasa berat dan pikirannya pun kacau.
"Siapa kamu ... aaarkh!" Kevin berbalik dan memukul dinding dengan emosi yang meluap.
Di sisi lain, setelah panggilan telepon terputus, Cecilia menatap layar ponsel yang baru saja mati. Senyum tipisnya yang tadi sempat menghilang, kini kembali muncul di sudut bibirnya. Perlahan, ia menoleh ke belakang.
"Dasar bodoh!" umpatnya.
Cecilia berada di dalam mobil. Bersama Sean yang ia letakkan di kursi bayi di jok belakang. Dan mobil itu ... adalah mobil rental. Tentu saja ia akan bermain pintar dengan memakai mobil lain. Cecilia tidak mungkin sebodoh itu menggunakan mobilnya sendiri. Kevin pasti akan langsung tahu.
"Lihat, Sayang," bisik Cecilia pada Sean sambil mengusap lembut pipi bayinya lewat spion. "Papa sudah percaya sama Mama. Papa nggak akan pernah curiga sama Mama."
Ia menatap keluar jendela, ke arah gedung rumah sakit yang megah di depannya. Matanya menyipit, menatap tajam ke arah pintu UGD.
"Sayang sekali kamu nggak langsung mati, Amanda," gumamnya pelan dengan nada yang sangat kontras dengan senyum manisnya. "Tapi nggak apa-apa. Aku punya banyak waktu, dan masih banyak cara."
Cecilia menyalakan mesin mobil sedan hitam itu. Ia melirik jam tangannya. Sudah waktunya kembali ke rumah sebelum Kevin menelepon lagi untuk mengecek keberadaannya.
"Kita pulang, Sean," ucapnya pada sang bayi tanpa menoleh sama sekali.
Sementara itu, di dalam ruang UGD, dokter Anwar keluar dengan membawa clipboard. Wajahnya terlihat lebih lega, meskipun rasa lelah masih tampak jelas di wajahnya. Ia mencari Kevin yang masih berdiri di koridor dengan tatapan kosong.
"Kevin," panggil dokter Anwar.
Kevin langsung mendekat dengan langkah cepat. "Bagaimana?"
"Kondisinya sudah stabil. CT scan menunjukkan tidak ada perdarahan di otak, tapi ada gegar otak ringan. Beberapa tulang rusuknya retak. Dia akan baik-baik saja, tapi butuh waktu untuk pemulihan."
Kevin menghela napas lega yang panjang. "Dan ... tentang kehamilannya?"
Dokter Anwar menatap Kevin dengan pandangan simpati. "Kami sudah melakukan pemeriksaan. Hasilnya negatif, Kevin. Adikmu tidak hamil."
Entah kenapa, Kevin merasa ada perasaan campur aduk di dadanya. Lega? Kecewa? Atau bersalah? Ia tidak bisa menentukan.
"Mungkin dia terlambat menstruasi karena stres atau faktor lain," lanjut dokter Anwar. "Tapi bukan kehamilan."
Kevin mengangguk pelan. "Boleh aku menemuinya?"
"Dia masih belum sadar. Tapi kamu bisa menemaninya di ruang pemulihan."
Kevin masuk ke ruang pemulihan dengan langkah pelan. Amanda masih terbaring dengan mata terpejam. Perban masih membalut kepalanya, memar-memar mulai terlihat jelas di wajahnya yang pucat.
Ia duduk di kursi samping ranjang, meraih tangan Amanda yang dingin.
"Kamu nggak hamil, Manda," bisiknya pelan. "Kamu nggak hamil. Tapi aku ... aku nggak tahu kenapa aku malah merasa sedih. Harusnya aku lega, 'kan? Harusnya aku senang karena nggak ada yang perlu dikhawatirkan. Tapi kenapa ... kenapa aku malah merasa kehilangan sesuatu?"
Air mata Kevin jatuh lagi, dan kali ini jauh lebih deras.
"Maafkan aku, Manda. Untuk semuanya. Aku janji akan mengubah semuanya. Aku janji akan menjadi suami yang lebih baik. Kumohon ... bangunlah. Kumohon jangan tinggalkan aku."
Tapi Amanda tetap diam. Di balik kelopak matanya yang terpejam, ada rasa panas yang memenuhi seluruh rongga matanya.
"Aku memang tidak hamil, Kevin. Tidak akan pernah, karena memang kamu yang membuatnya," jawab Amanda di dalam hati.
"Aku lelah," bisiknya lagi dalam hati, yang kemudian mengantarkannya ke dalam tidur yang lelap.
Suara monitor terus berbunyi teratur. Menandakan kehidupan yang masih berjuang, meski hati di dalamnya sudah mati.
Amanda sedang menunggu waktu untuk pergi. Namun satu hal yang tidak pernah ia duga, jika Tuhan akan mempercepat waktunya. Hanya butuh tiga hari lagi untuknya bisa pergi, tetapi rupanya Tuhan tidak mengendakinya terjadi.
Merasa Amanda sudah tertidur pulas, Kevin yang masih dalam keadaan kacau pergi meninggalkan ruangan dan langsung berjalan ke meja perawat.
"Suster, saya titip adik saya. Saya ada keperluan," pinta Kevin pada para perawat yang berjaga.
"Baik, dokter Kevin," jawab mereka hampir bersamaan.