BSW Bab 150

2053 Words

Pagi itu Raga datang ke rumah Mara dengan membawa makanan. “Kenapa harus repot-repot?” ujar Ine sambil menerima kantong plastik dari Raga. “Masuk dulu. Aya lagi makan.” Wanita itu melangkah lebih dulu--masuk ke dalam rumah. Raga mengikuti. Melewati ambang pintu, pria itu mengedarkan pandangan mata. “Lagi makan semua, Ma? Kok sepi.” “Mara ke bandara jemput calon suaminya.” Ine menjawab tanpa menoleh. Langkah kaki wanita itu juga tetap berayun—melewati ruang keluarga menuju ruang makan. Suami dan cucunya masih ada di sana. Raga menelan ludah susah payah. Mara tidak bohong. Pria itu benar-benar datang. Kenapa pesawatnya tidak salah mendarat di tempat lain saja, sih? Inginnya dia mendoakan pesawatnya meledak, tapi, dia masih takut dosa—membunuh ratusan penumpang pesawat. Pria itu mendesah.

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD