Raga tidak mengerti apa rencana yang Tuhan siapkan untuk hidupnya. Baru saja dia merasa kacau setelah mengetahui jika wanita yang dia cintai bertunangan dengan pria lain, sekarang dia dihadapkan dengan kenyataan sang istri menyakiti dirinya sendiri. Kepalanya terasa penuh dan siap untuk meledak. Dia tidak pernah punya waktu untuk menata hatinya sendiri. Ada Nadia yang terus harus dia pikirkan. Nadia seolah tidak rela dia memiliki sedikit saja waktu untuk memikirkan perasaannya. Pria itu menatap sosok perempuan yang terbaring di atas ranjang dengan sepasang mata tertutup. “Lihat bagaimana dia menderita. Apa kamu tega melihatnya semakin menderita dengan memberinya madu?” “Apa aku pernah mengatakan akan memberikannya madu? Madu yang dia bawa sendiri saja dia sakiti. Aku tidak ingin menyak

