Suasana mushola kecil itu terasa hening setelah mereka selesai menunaikan shalat Magrib berjamaah. Laura masih duduk bersimpuh di Jihan. Tubuhnya sedikit kaku, kedua tangannya masih terangkat dengan bingung tidak sepenuhnya tahu apa yang harus diucapkan setelah salam. Meski Raihan sudah beberapa kali mengajarkan doa sederhana, lidah Laura tetap terasa kelu. Hatinya gelisah. “Kenapa susah banget ya buat aku?” pikirnya. Ia menunduk, menghela napas dalam-dalam, berusaha menenangkan diri. Tiba-tiba suara lembut Jihan terdengar, cukup lantang untuk memenuhi ruangan kecil itu. “Ya Allah… terima kasih karena sudah kasih Jihan mama baru,” ucap Jihan polos. Suaranya sedikit bergetar, tapi penuh ketulusan. “Jihan janji… Jihan akan jadi anak yang baik, rajin ngaji, rajin sholat. Jihan gak mau naka

