d. u. a

1173 Words
Sinta dari balik pintu menggeleng-geleng kepala. "Na, udah, mending Lo tidur deh ah." Tapi Reina belum selesai. "Kenapa sih– susah banget cari pasangan?" Suaranya merengek, seperti anak kecil yang kehilangan mainan. "Padahal di club itu– cowok-cowoknya ganteng-ganteng– kayak kamu." Reina katakan lalu mengedip. Sekarang Barat benar-benar harus menahan diri. Dia menggigit bibir bawahnya, tapi ujung bibirnya tetap terangkat. "Tapi, gak ada yang ngajak kenalan." lanjut Reina. Matanya mulai terpejam, tapi mulutnya masih bergerak. "Ganteng-ganteng, tapi pada cuek jangan-jangan boti, kamu?" Matanya terbuka lagi lalu menatap Barat. " Boti ya? Sinta dan Hana melongo, Sinta segera mendorong bahu Reina perlahan. "Udah, Na. Lo ngaco ini." "Saya bukan botie Mbak." Barat menjawab. Reina membiarkan dirinya didorong, tubuhnya jatuh ke kursi dengan malas. Tapi sebelum pintu mobil benar-benar ditutup, dia masih sempat bergumam sekali lagi, dengan nada yang terdengar sangat tulus. "Padahal, gue juga cantik juga kali, mantep." katanya kemudian membusungkan dadanya. "Empat puluh dua, nih bos." Pintu mobil tertutup Barat tidak bisa menahan tawa lagi. Dia menunduk, kedua tangannya masuk ke saku celana, bahunya sedikit bergetar. Sinta yang sudah berada di kursi depan membuka jendela. "Makasih banyak, Mas. Maaf ngerepotin, maafin temen saya ya ngaco." Barat mengangkat wajahnya, aenyumnya masih tersisa, membuat matanya sedikit menyipit. "Sama-sama, Mbak enggak apa apa namanya juga mabuk." "Awas aja nanti gue sodorin minuman keras lagi," celetuk Hana dari balik setir sambil tersenyum. "Hati-hati di jalan," kata Barat. Mobil itu perlahan bergerak mundur, lalu melaju meninggalkan area parkir. Barat berdiri di pinggir jalan, menatap lampu belakang mobil yang semakin mengecil hingga akhirnya menghilang di tikungan. Senyum di wajahnya masih tersisa, bahkan setelah mobil itu tak lagi terlihat. Dari belakang, Milo muncul, menepuk pundaknya keras. "Woy, lo kok senyum-senyum sendiri?" Barat tersentak, lalu menggeleng cepat, mencoba menghilangkan ekspresi di wajahnya. "Enggak." "Enggak apa? Dari tadi gue liatin, muka lo kayak orang habis dapet durian runtuh," ledek Milo sambil mengangkat alis. "Gara-gara Mbak Reina yang mabok tadi?" Barat tidak menjawab, ia berbalik, berjalan kembali ke dalam klub dengan langkah yang sedikit lebih ringan dari biasanya. "Lo suka sama dia, ya?" Milo berjalan di sampingnya, tidak mau ketinggalan. "Nggak," jawab Barat singkat. "Dasar bohong, dah gue liat dari dulu mata lo ke meja yang ada Mbak Reinanya terus." Barat berhenti di pintu masuk klub, ia menoleh ke Milo, menatapnya sebentar, lalu berkata dengan nada datar, "Lo kalau kerja jangan banyak ngomong. Nanti gue minta Jack potong gaji lo." "Wih, ngancem!" Milo tertawa, tapi dia tetap mengikuti Barat masuk ke dalam. *** Di dalam mobil yang melaju pelan menuju rumah Hana, Reina sudah terlelap di kursi belakang. Napasnya teratur, mulutnya sedikit terbuka, sesekali bergumam tak jelas. Sinta menoleh ke belakang sebentar, lalu kembali menghadap ke depan. "Kasihan juga ya." "Kenapa?" Hana fokus menyetir, tapi telinganya tetap mendengar. "Dia tuh sebenernya pengen punya pasangan. Cuma gak mau ngaku." Hana tersenyum kecil. "Dia terlalu keras kepala. Selama belum nemu yang benar-benar cocok, dia bakal tetep kayak gitu." "Cocok versi dia tuh kayak gimana sih?" Sinta menghela napas. "Yang penting baik, setia, terus gak neko-neko kan? Nggak susah amat kali nyarinya." "Pilih-pilih kali, tau sendiri kan Reina tuh orangnya blak-blakan. Dia gak bisa yang basa-basi. Kalau nggak cocok di awal, ya udah, dia gak bakal mau lanjut." "Iya sih." Sinta mengamati Reina dari spion tengah. "Semoga cepet dapet ya. Biar gak ngelantur." Kamar Hana, tidak terlalu luas tapi cukup nyaman untuk dua orang tidur beralas kasur lantai. Reina sudah terbaring di atas kasur lipat yang dialasi sepra. Matanya terpejam, napasnya mulai teratur, tapi sesekali masih bergumam tak jelas. Hana duduk di tepi kasurnya sendiri, melepas anting-anting sambil menatap Reina. Sinta sudah berganti baju dan duduk bersila di samping Reina, memegang ponselnya. "Na, lo dengerin gue nggak?" tanya Sinta, mencolek lengan Reina pelan. "Hmm." Reina mengerjapkan mata, setengah sadar. "Apa?" "Lo tadi ngomong apa sih di depan bar itu? Soal jomblo segala." Reina membuka matanya sepenuhnya. Kepalanya masih sedikit pening, tapi kesadarannya perlahan kembali. "Gue ngomong apa ya?" "Lo bilang, ‘Jomblo tiga puluh enam tahun, nasib gue gini banget’," Hana menirukan sambil tersenyum. "Terus lo bilang, ‘Padahal gue juga cantik kali’," tambah Sinta sambil tertawa kecil. Reina menutup wajahnya dengan kedua tangan. "Anjir! Gue ngomong gitu?" "Iya, Na. Di depan bar itu, Lo ngomong ke baristanya yang bantu anter lo tadi." "Barat," Reina bergumam. "Barat? Namanya?" Sinta mengangkat alis. "Iya, dari nametag-nya." "Lo hafal namanya? Hmm." Hana menyenggol bahu Reina. Reina mengusap wajahnya, lalu menurunkan tangannya, menatap langit-langit kamar. "Ya, sering liat aja di sana. Jadi tahu, kan dia kerja di sana sering antar minuman buat kita. " "Sering liat, hafal nama, terus matanya sering ke sana," Sinta menghitung dengan jari. "Na, jangan-jangan lo suka sama dia?" "Enggak," jawab Reina cepat. Mungkin terlalu cepat. "Dia cuma barista. Gue cuma pelanggan. Udah, meskipun dia ganteng." Hana dan Sinta saling bertukar pandang. Senyum mereka sama-sama terlihat di bibir. "Ya udah, kalau kata lo gitu," Hana bangkit dari tempat tidurnya, meraih selimut di lemari. "Tidur yuk, udah malem." Sinta menggeliat malas. "Gue tidur di samping Reina aja ah. Nanti pagi gue langsung berangkat kerja." "Iya, terserah," Hana melempar satu selimut ke arah Sinta. Mereka bertiga akhirnya membaringkan diri. Hana di kasurnya sendiri, Sinta dan Reina di kasur lipat berdekatan. Lampu tidur dimatikan. Ruangan menjadi gelap, hanya ditemani suara AC yang berdengung pelan. "Na," panggil Hana dari sisi lain ruangan. "Hmm?" "Lo serius nggak mau cari pasangan?" Keheningan sesaat. Reina membalikkan badan, menghadap ke arah Hana meskipun di kegelapan dia tak bisa melihat jelas. "Gue serius," jawab Reina akhirnya. "Tapi bukan berarti gue mau nikah cuma karena umur. Gue mau nikah kalau emang siap. Kalau nemu orang yang bener-bener cocok." "Kriteria lo tuh apa sih?" tanya Sinta dari samping. "Yang penting baik. Setia. Nggak neko-neko. Sama--" Reina berhenti sebentar. "Sama bisa nerima gue apa adanya." "Apa adanya kayak gimana?" "Ya kayak gini. Gendut, blak-blakan, nggak bisa basa-basi, kadang keras kepala." Reina tertawa kecil. "Susah, kan, nyari yang kayak gitu?" "Mungkin susah sih," Hana menghela napas. "Tapi bukan berarti nggak ada." "Iya, Na," Sinta menimpali. "Lo tuh orangnya baik, sukses, punya usaha sendiri, banyak yang hormat sama lo. Pasti Ada yang mau, cuma Lo kurang terbuka aja." Reina tidak menjawab, ia hanya tersenyum tipis di dalam gelap. "Coba deh," Sinta melanjutkan, "kalau ada cowok yang baik, setia, mau nerima lo apa adanya, tapi mungkin.biasa aja. Bukan orang kaya Lo mau nggak?" Reina berpikir sebentar. "Mau." "Beneran?" "Beneran, asal dia baik dan nggak nyakitin gue. Urusan duit, gue punya sendiri." Hana bersiul kecil. "Na, lo tuh langka." "Langka apanya?" "Langka yang mau terima cowok biasa padahal lo sendiri udah mapan." Reina tertawa pelan. "Udah, tidur ah. Besok gue ada kerjaan pagi." "Iya, Na. Selamat tidur." "Selamat tidur." Kegelapan kembali sunyi. Suara AC menjadi latar yang menenangkan. Tapi beberapa detik kemudian, Sinta berbisik lagi, "Na, lo masih inget nggak barista tadi? Yang namanya Barat itu?" Reina membuka mata. "Kenapa?" "Nggak. Cuma penasaran. Cowoknya diem banget ya. Tapi kayaknya kayak selalu ngeliatin lo." Reina diam,nia ingat tatapan Barat tadi malam. "Tidur, Sin," kata Reina akhirnya. Sinta terkekeh pelan. "Iya, Na." ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD