Bab 4

1021 Words
Hugo hampir sejam berada di kamar mandi menenangkan singa miliknya. Sedangkan Florence masih termangu di depan cermin kamar itu. Meraba bekas kepemilikan yang di berikan Hugo kepadanya. Dia memejamkan matanya sejenak. Tenanglah Flo, dia hanya membantumu. Jangan berharap lebih kepadanya. Dia tak mungkin mau bersamamu yang hanya seorang pelayan. Florence membuka matanya cepat saat mendengar pintu kamar mandi itu terbuka. Hugo yang melihat Florence berdiri mematung di depan cermin pun merasa aneh. "Kamu ngapain disana?" "Ah, tidak tuan. Tadi aku ingin pergi ke dapur." jawab Florence berbohong. Hugo bukan orang bodoh yang tak peka dengan perubahan raut wajah Florence. Tapi dia sendiri masih enggan berpikir terlalu jauh. "Apa kamu sudah sehat sampai mau ke dapur? Kamu butuh apa?" Hugo mendekati Florence tapi reflek Florence mundur selangkah dan akhirnya Hugo memilih untuk tak mendekat ke arah Florence. "Tidak tuan, aku hanya ingin membuat makanan. Tuan sudah menolongku dan kesannya aku jadi tak tahu diri dengan aku hanya berbaring saja. Aku sudah lebih baik." Florence mengatakan itu dengan kepala yang terus menunduk. Hugo merasa aneh kenapa dengan sikap Florence tapi dia memilih untuk tak peduli. "Baiklah jika itu yang kamu mau, sekalian buatkan aku kopi untuk menemaniku bekerja." Florence mengangguk, dan setelahnya dia pergi ke dapur untuk membuat makanan sekaligus kopi. Hugo membiarkan saja apa yang ingin di lakukan Florence saat ini. Mungkin dengan begitu Florence bisa sejenak melupakan apa yang terjadi padanya. Florence melihat isi kulkas dan mulai membuat makanan yang cepat agar segera bisa di sajikan kepada Hugo. Dia tak pernah membuat makanan untuk Hugo jadi dia tak tahu makanan itu akan di sukai oleh Hugo atau tidak. Florence hanya mengingat beberapa makanan yang sering di sajikan di meja makan saat Hugo sarapan bersama mereka. "Aku nggak tahu tuan suka atau tidak, tapi hanya ini bahan yang ada disini. Sisanya makanan instan. Itu kan tak baik jika di makan dalam jangka lama." Florence menyibukkan dirinya dengan memasak sedangkan Hugo masuk ke ruang kerjanya. Hugo menelfon pengawalnya untuk bertanya bagaimana perkembangan di rumah dan sejauh ini terlihat Mila beberapa kali melakukan kesalahan. Jelas sekali dari raut wajahnya jika Mila ketakutan karena Hadi tak bisa di hubungi sejak.tadi. "Terus awasi semua gerak geriknya. Dan jangan biarkan dia keluar dari rumah!" Tok tok.... Suara pintu ruang kerja itu di ketuk dan saat Hugo sudah menjawabnya barulah Florence masuk ke dalam dengan membawakan secangkir kopi dan juga camilan. Florence terus menunduk dan tak berani mengangkat kepalanya. Sampai dia meletakan nampan berisi kopi itu di meja kerja Hugo, dia masih terus menunduk. Saat Florence ingin pergi dari sana tangannya di tarik oleh Hugo dan alhasil Florence jatuh di pangkuan Hugo. "Tuan....apa yang tuan lakukan??" pekik Florence kaget. Florence menahan tubuhnya dengan kedua tangannya yang ada di pundak Hugo. Dia melihat ke arah Hugo dengan bingung. Mengingat selama bekerja di rumah Hugo dia tahu sepak terjangnya seperti apa. "Kenapa tak mau melihatku? Apa aku menakutkan untuk mu?" "Tidak, bukan begitu. Tapi aku merasa tak pantas berada di sisi tuan karena aku hanya seorang pelayan. Jadi tolong jangan begini tuan." pinta Florence dengan wajah memelas. Rahang Hugo mengeras mendengar kata kata itu. Dia melepaskan Florence untuk kembali berdiri. Raut wajahnya kembali datar dan itu membuat Florence menjadi takut. "Kamu ada masalah apa di rumah?" Florence yang mendengat pertanyaan itu pun kembali melihat Hugo dengan wajah bingungnya. "Masalah? Aku tak pernah membuat masalah tuan, selama dirumah aku hanya dekat dengan Oma dan Tuan Muda Julian. Ada apa memangnya?" Hugo menghela napas panjang, wajah Florence tak berbohong dan dia tahu betul apa yang di katakan Florence benar adanya. Selama ini meskipun Hugo sibuk tapi dia selalu memantau semuanya yang ada di rumah. Julian yang bukan darah daging Florence pun di jaga dengan baik olehnya. "Apa tuan tahu siapa yang sudah menjebak ku?" Hugo mengangguk dan dia menunjukkan rekaman CCTV beserta suara yang ada disana. Florence yang melihat itu sampai habis menutup mulutnya dengan kedua tangannya tak percaya. Pasalnya dia tak terlalu dekat dengan Mila. Jadi kenapa dia marah dan iri kepadanya. "Tapi aku tak dekat dengannya, selama ini aku tak pernah bersinggungan dengannya." Hugo berjalan ke arah Florence dan menarik pundak Florence agar Florence mau melihat ke arahnya. "Jika orang iri dan benci semua akan di lakukan Flo, jadi mulai sekarang jangan terlalu polos jadi wanita." Florence mengerti maksud Hugo tapi dia tetap saja tak bisa mengerti kenapa Mila malah tak suka kepadanya. Padahal selama ini dia selalu berusaha baik pada semua orang. Hugo meraih dagu Florence agar wajah Florence berhadapan dengannya. "Mulai sekarang jangan terlalu jadi wanita naif Flo, karena di luar sana akan selalu ada orang seperti itu. Jika kamu tak mau berubah kamu akan selalu dalam bahaya." "Termasuk juga tuan yang bahaya buatku." Hugo menaikkan sebelah alisnya mendengar perkataan Florence. "Bagaimana aku berbahaya untukmu sedangkan aku yang menolong mu tadi?" Florence ingin mundur selangkah tapi Hugo menahan tubuhnya agar tetap berdekatan dengannya. "Jika wanita tuan tahu tuan sedang bersama ku seperti ini, aku takut mereka akan cemburu kepadaku. Selain itu aku pun tak siap jika harus berhadapan dengan mereka yang punya kuasa." Hugo mencerna perkataan Florence kemudian dia menyeringai ke arahnya. Wajah Hugo saat ini terlihat menyebalkan untuk Florence. "Apa kamu cemburu?" Rahang Florence terbuka lebar. Tak ada dalam pikirannya jika dia harus cemburu kepada para wanita Hugo. Sedangkan dia harus sadar diri karena dia berbeda jauh dengan Hugo. Baik dari segi apapun terutama materi. "Buat apa aku cemburu tuan, aku bukan siapa siapa tuan. Dan aku tak berhak untuk itu." Jawaban logis Florence membuat Hugo tersenyum tipis. Florence benar dan dia tak akan memaksa Florence lagi untuk meladeninya berdebat. Hugo menarik badan Florence lebih dekat tapi kemudian Florence meringis kesakitan saat sesuatu menabrak dadanya. Dia baru ingat jika Asinya mulai penuh. "Ada apa? Apa ada yang sakit?" Florence menggeleng, dia menggigit bibir bawahnya dna menunduk kembali. Bingung harus mengatakan apa saat ini. "Florence katakan padaku, kamu kenapa? Jangan bikin aku bingung." "Itu, s**u milik Tuan Julian harusnya sudah aku berikan sejak tadi. Tapi aku belum bertemu dengannya sejak pagi." cicit Florence lirih. Otak Hugo loading dengan kalimat Florence lalu matanya membola dan arah pandangan nya terarah pada sesuatu yang akan membuat dunianya berubah. to be continued
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD