Mas Ardi

1089 Words
Tak terasa waktu berlalu, sudah tiga bulan Hani bekerja di sana. Hari demi hari dia nikmati walaupun terasa lelah. Ternyata tidak gampang bekerja dengan status sudah menikah. Apalagi mempunyai anak balita yang masih butuh kasih sayang dan perhatian dari ibunya. Berbeda dengan waktu masih single dulu, Hani bebas mau pergi ke mana saja sepulang kerja. Sekarang setelah selesai jam kantor, dia harus segera pulang ke rumah. Belum bisa langsung istirahat, harus mengurus putranya yang rewel. Beruntung, Hanu memiliki suami yang pengertian. Bahkan tak jarang Ardi menyediakan makan malam, walaupun membelinya di luar. Bersyukur bahwa Tuhan memberikannya seorang pendamping hidup yang baik. Pekerjaan Hani di kantor semakin bertambah. Apalagi sejak salah satu staf administrasi resign, dia yang tadinya hanya diperbantukan otomatis menggantikan posisi itu. Reza? Masih saja terus mendekati Hani. Namun, dia menolak secara halus. Rayuan dari lelaki itu berbagai macam cara, di antaranya mengajak makan siang atau sekedar berbasa-basi. Entah apa maunya Reza. Seperti tidak ada wanita lain saja, terus menggoda Hani tanpa henti. Hani tahu Reza menyukainya. Agnes beberapa kali mengatakan hal itu. Namun, dia pura-pura tidak mendengar. Kalau perbincangan biasa, dia masih menganggapi, tetapi selebihnya, dia tidak mau. Reza bahkan mulai terbuka untuk beberapa hal, misalnya menceritakan tentang keluarga atau pekerjaan. Hani memilih tetap merahasiakan keakraban mereka sekalipun dengan Agnes. Dia tidak mau ada gosip, mengingat statusnya masih karyawan baru. Hani sudah menikah. Dia harus menjaga diri dan amanah suami. Perempuan mana sih yang tidak tergoda jika melihat Reza. Dia tampan, kaya dan sempurna. Setiap kali pikirannya berkelana, Hani langsung teringat akan kebaikan Ardi. Lelaki yang selalu menjaga dan melindungi mereka dengan sepenuh hati, juga jiwa dan raganya. Hani menganggap ini sebagai cobaan dalam pernikahan. Setiap rumah tangga pasti ada masalah. Namun, mengapa Reza dihadirkan dalam kehidupan mereka? * * * Hari itu, Ardi berlari mencari istrinya di dapur. Lelaki itu berteraiak karena tidak sabar. "Dek. Dek!" Hani yang sedang memasak untuk makan malam mereka, langsung menghentikan kegiatannya. Saat weekend begini, biasanya dia pasti akan menyiapkan segala macam makanan kesukaan keluarga. "Apa sih, Mas! Teriak-teriak begitu? Bikin kaget aja." Hani bergegas mencuci tangan dan berjalan menghampiri suaminya. "Mas diterima kerja," jawab Ardi sembari memeluk istrinya dengan erat. Hani menjadi terharu saat mendengarnya. Air mata wanita itu menetes karena bahagia. Dia membalas pelukan suaminya dengan erat. "Alhamdulillah. Di mana, Mas?" tanya Hani penasaran. "Di perusahaan ini." Ardi menunjukkan sebuah email di ponselnya. Hani meraih benda pipih itu dan mulai membaca dengan teliti. Ternyata perusahaan yang menerima suaminya bekerja, cukup besar. "Aku ikut senang. Mas dapat posisi apa?" tanya wanita itu lagi. "Sama kayak di kantor dulu. Tapi ini lebih baik," jawab Ardi senang. "Syukurlah. Jadi gak perlu lama menyesuaikan diri." Ardi sudah berpengalaman dengan bidangnya. Jam terbangnya tinggi, jadi dia pasti lebih cepat beradaptasi. Hani merasa bangga karena suaminya memang selalu bisa diandalkan. "Tapi mas harus training satu bulan di luar kota. Gak apa apa, kan?" Ardi bertanya dengan hati-hati, karena mereka belum pernah berpisah selama itu. Dia harus bertanya dulu kepada istrinya. Jika Hani tidak menyetujui, maka lelaki itu memilih untuk mundur dan mencari pekerjaan lain. "Kok lama?" sungutnya. Hani memang tidak bisa jauh dari Ardi sekalipun mereka kerap berselisih paham dalam beberapa hal. Biasanya, dulu jika Ardi ditugaskan keluar kota, paling lama juga hanya seminggu. "Tapi gajinya lumayan, Dek. Segini loh dapatnya. Bisa bayar semua. Jadi kamu gak usah kerja lagi," ucap Ardi meyakinkan. Hani terdiam. Kenapa rasanya dia berat hati jika sekarang harus resign. Wanita itu Sudah terlanjur nyaman bekerja, karena ada kegiatan positif yang menghasilkan. "Tapi aku baru tiga bulan kerja, Mas. Itu juga dibantu sama mereka. Masa' baru masuk, udah mau resign." "Kasian anak kita ditinggal kamu, Dek. Kadang dia nanyain kok bunda lama pulangnya. Mas gak tega liat dia nangis." Ardi menatap istrinya dengan lekat untuk meminta pengertian. Memang sulit untuk meyakinkan seorang perempuan, terlebih jika itu di luar keinginan mereka. "Nanti kalau Mas udah jadi karyawan tetap, baru aku mundur. Kalau tiba-tiba Mas gak lolos terus aku udah cabut kan resiko juga." Hani mencoba bernegosiasi. Sementara itu Ardi membuang pandangan karena kecewa saat sang istri menolak usulnya. "Abang ngerti kok, Mas. Lagian aku kerja cuma sampai jam empat sore. Hari Sabtu sama Minggu juga libur," lanjutnya. Kali ini Ardi mengangguk. Dia tak mau berdebat panjang. Lelaki itu memilih untuk mengalah. Perempuan memang selalu merasa benar. Sudah hukum alamnya begitu. "Makan dulu, Mas." Hani mengalihkan pembicaraan. Wanita itu mengambilkan sepiring nasi untuk Ardi. Lalu, dia menyuruh suaminya agar duduk di meja makan, sementara dia menyiapkan yang lain. "Kamu masak apa?" "Ikan goreng sambal lalapan." Hani membuka tutup sajian, menyiapkan peralatan makan. "Abang udah tidur, ya?" ucap Ardi sembari mengambil piring yang diletakkan di meja. "Udah." Hani menarik kursi dan mengambil tempat duduk di sebelah suaminya. "Kamu kok cantik hari ini?" Ardi menatap Hani dengan mesra. Lelaki itu bukannya mengambil nasi, malah mengusap rambut istrinya. Hani tersenyum. Rambut panjangnya ini hanya boleh dirapikan beberapa bulan sekali dan tidak boleh dipotong pendek. Dia bahkan diberikan budget khusus untuk merawatnya supaya tidak rontok. Ardi suka sekali dengan rambut panjang Hani. Katanya lebih ayu dan keibuan. Dia suka wanita yang halus bertutur kata dan bersikap, juga dari penampilan yang anggun. "Bisa aja Mas ini." Hani menambahkan beberapa lauk di piringnya. Sejak bekerja porsi makannya bertambah hampir dua kali dari biasanya. Bekerja tidak hanya melelahkan tubuh, tetapi juga pikiran. Hanil butuh asupan kalori yang banyak dan bergizi. Ada banyak kendala di kantor, beberapa rekan kerja kurang bersahabat, juga berbagai macam karakter yang dia harus mengerti. Semua itu harus dia hadapi setiap hari. Anak baru harus pintar membawa diri. Salah sedikit bisa jadi bahan bully atau gosip yang tidak enak. Hani harus extra sabar. Semua dia simpan rapat, tidak pernah dibawa saat kembali ke rumah. Hani tidak mau keluarganya merasakan hal yang sama. Jadi, suasana hatinya tetap riang saat pergi maupun pulang. Sambil makan mereka berdua berdiskusi bagaimana mengatur rumah, jika Ardi bekerja nanti. Putra mereka yang akan menjadi korban. Tadinya Abang ditinggal oleh ibunya. Sekarang anak itu harus ditinggal ayahnya juga. Hani merasa tidak tega. Dalam hati berdoa, semoga semua baik-baik saja. Kadang-kadang, hal buruk itu yang manusia pikirkan terlalu mendalam, malah belum tentu terjadi. Itu hanyalah sebuah prasangka. Pada kenyataannya, kadang berbanding terbalik. "Maafkan kami ya, Nak. Semoga suatu saat kamu mengerti bahwa apa yang kami lakukan saat ini untuk kebaikan," bisik Hani di telinga putranya, saat anak itu sudah terlelap. Ada banyak hal yang berkecamuk di dalam pikiran Hani, silih berganti dari satu hal ke yang lain. Seperti tak mau pergi, terus saja berputar di kepalanya. Tak lama, dalam lelahnya hati, dia pun tertidur.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD