Author’s POV Bagas dan Derra duduk bersebelahan, sedang Angkasa dan Wida menatap mereka begitu serius. “Maaf nak Bagas, saya belum bisa memberi restu sepenuhnya. Saya hanya berpikir realistis bahwa saya mengkhawatirkan bagaimana masa depan anak saya bersama kamu. Soal perbedaan penghasilan itu nggak bisa dianggap remeh. Mungkin saat ini kalian mikir bahwa kalian bisa menjalaninya. Tapi nanti setelah kalian benar-benar berumahtangga, ketimpangan ini bisa jadi masalah.” Angkasa menatap Bagas tegas. Bagas menundukkan wajahnya. Hatinya terluka untuk kesekian kali. “Iya maaf nak Bagas. Kami menginginkan seseorang yang lebih baik dan bisa menjamin masa depan Derra.” Sambung Wida. “Ayah ibu, tolong beri mas Bagas kesempatan. Soal masa depan, insya Allah namanya rizqi udah ada yang menjamin

