23. Terima, Jangan?

1480 Words

Kayla melepas pelukannya dan memberi sedikit jarak kepada Agastya. Ia menghapus kasar air matanya yang masih mengalir. "Jangan buru-buru memutuskan sesuatu karena emosi, Mas." Kayla bangkit dari sofa kemudian beranjak ke dapur. "Saya sudah biasa menghadapi hal seperti ini. Dan saya sudah ikhlas dengan jalan hidup saya. Namun, saya juga masih manusia, ada kalanya saya merasa rapuh. Dan menangis adalah pilihan saya untuk meluapkannya." Kayla mulai mencuci perangkat makan kotor bekas mereka sarapan tadi. Menyusunnya dipinggiran wastafel menunggunya kering, sebelum disimpan ke lemari. Kembali menuju sofa, Kayla menemukan Agastya masih berada diposisi yang sama seperti saat ia tinggalkan tadi. "Maafkan saya, karena Mas harus melihat kondisi terburuk saya tadi," ucap Kayla pelan sambil menempa

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD